Kepala Sekolah Sekaligus Guru Agama di Wagir Cabuli Enam Siswi

Pelaku pencabulan siswi SD swasta di Wagir yang juga merupakan kepala sekolah dan guru agama Islam MLH (52) saat ditampilkan dalam rilis kasus di Mapolres Malang, Rabu (15/11). (Nana)
Pelaku pencabulan siswi SD swasta di Wagir yang juga merupakan kepala sekolah dan guru agama Islam MLH (52) saat ditampilkan dalam rilis kasus di Mapolres Malang, Rabu (15/11). (Nana)

MALANGTIMES - Bejat benar kepala sekolah salah satu SD swasta di Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, ini. Bukannya menanamkan budi pekerti luhur, kasek sekaligus guru agama Islam berinisial MLH (52) itu malah mencabuli siswanya

Tidak tanggung-tanggung, bukan hanya satu korban kasek bejat itu. Korban MLH mencapai enam orang. Masing-masing KEY, KR, CT, IT, TS dan NF yang duduk di bangku  kelas 5 dan 6. Tindakan asusila itu dilakukan MLH tahun 2016 lalu.

Dari rilis Polres Malang, tersangka pecabulan ini mengaku melakukan perbuatan bejatnya dengan modus kasih sayang seorang pengajar kepada anak didiknya. "Bukan karena birahi, tapi cuma untuk menunjukkan kasih sayang orang tua pada anak. Tidak ada maksud untuk mencari kepuasan," kata tersangka MLH berkelit, Rabu (15/11), kepada media.

Lepas dari pengakuannya tersebut, enam korban pencabulan MLH mengaku diperlakukan tidak senonoh oleh tersangka dengan cara diciumi, diraba pahanya dan bagian sensitif lainnya selama kurun waktu yang cukup lama. Selain itu, MLH mengancam korban jika tidak mau menuruti kemauannya.

"Saya tidak ancam. Cuma saya bilangi 'jangan bilang siapa-siapa," kilah  tersangka yang masih berkelit dengan kelakuan bejatnya tersebut. 

Kelakuan bejat ini dilakukan MLH di lingkungan sekolah yang terbilang sepi. Antara lain di musala, WC dan beberapa tempat sepi lainnya di lingkungan sekolah.

Dari penuturan salah satu korban pencabulan, yakni KEY, MLH memanggil korban untuk duduk di depan pintu musala. Setelah itu MLH menarik tangan korban untuk masuk ke dalam musala dan langsung menciumi pipi dan membuka rok serta meraba payudara korban. Mendapat perlakuan tersebut, korban berteriak memanggil temannya, IT, yang juga sempat melihat kelakuan bejat kepala sekolah itu. Saat korban berteriak, MLH membekap mulut korban dan terus melakukan perbuatan cabulnya.

Kapolres Malang  AKBP Yade Setiawan Ujung yang langsung merilis kasus pencabulan ini mengatakan bahwa terungkapnya perbuatan bejat MLH atas laporan kepala desa dan masyarakat Selasa (14/11) lalu. Atas laporan tersebut, polisi langsung menangkap tersangka dan melakukan pemeriksaan intensif. "Dari laporan dan pengakuan para korban yang sementara ini kami identifikasi enam orang siswa, kami jadikan pelaku sebagai tersangka dan kini kami amankan di Polres Malang," terang dia.

Ujung juga menjelaskan setiap korban menerima pencabulan sampai tiga dan empat kali oleh tersangka yang selalu mengancam korbannya untuk tidak melapor. "Jadi, pelaku ini sering mengancam dengan ancaman tidak naik kelas atau akan mendapat nilai jelek kepada seluruh korbannya," ujar Ujung.

Atas kelakuannya tersebut, MLH dikenakan pasal 82 ayat (1) jo Pasal 76E Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan Undang-Undang  Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. "Tersangka akan dijerat sanksi pidana minimal 5 tahun maksimal 15 tahun," ucap Ujung yang juga mengatakan, dari informasi terakhir, status MLH sebagai kepala sekolah dan guru dipecat secara tidak hormat. (*)

Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top