MALANGTIMES - Festibal Serabi Suro sudah dua tahun ini gelar setiap suro-nya, Kamis (12/9/2019). Lalu bagaimana asal mula serabi suro di Dusun Dadaptulis Dalam, Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo? 

Tokoh Masyarakat Dusun Dadaptulis Kelurahan Dadaprejo Imam Suwandi mengatakan, serabi merupakan salah satu simbol yang selalu ada saat selamatan di dusun tersebut. Serabi yang disuguhkan itu adalah serabi original dengan pelengkap kuah atau juruh terbuat dari gula jawa dan santan .

Festival ini bermula dengan sejarah dari serabi Suro di Dusun Dadaptulis Dalam. Awalnya adalah selamatan jenang Suro untuk menyambut datangnya bulan Suro.

Budaya ini dilakukan sudah bertahun-tahun lamanya. Kemudian pada tahun 1892 terjadi kemarau pajang dan menyebabkan paceklik. Cadangan pangan yang ada di lumbung dibagikan ke warga tidak mampu untuk dibuat jenang Suro.

“Lalu kala itu datanglah seorang ulama memberikan saran, supaya persediaan pangan bisa cukup dan dalam waktu yang agak panjang disarankan selamatan serabi saja toh tidak mengurangi kesakralannya. Akhirnya kepala desa dan perangkat, tokoh, masyarakat setuju,” kata Imam. 

Kemudian setiap tahun di bulan Suro akhirnya diadakan selamatan serabi. Tetapi masyarakat masih banyak yang selamatan dengan membuat jenang Suro.

Hingga tahun 1902 terjadilah kemarau panjang, sehingga kepala desa mengumpulkan warga lagi dan memanggil ulama yang memberi saran sebelumnya.

Dan ternyata dia adalah salah satu bedah krawang kelurahan ini. Akhirnya ditetapkan setiap bulan Suro selamatan serabi (serabi Suro) dilengkapi dengan juroh yang terbuat dari santan yang diberi gula merah sebagai pelengkap serabi. “Serabi atau saronone rabi penyajiannya harus satu paket yang melambangkan sepasang (pria dan perempuan). Juroh (pembuatannya dari santen dan gula merah, santan dan gula merah melambangkan dilahirkan dari kedua orangtua,” imbuhnya.

Menurutnya jika kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan budaya yang sudah lama bersemi di daerah tersebut. Sehingga perlu dilestarikan di tengah-tengah masyarakat yang modern.