MALANGTIMES - Kisah Gajah Mada seperti yang sudah banyak ditulis pada Sumpah Amukti Palapa, pemberontakan Ra Kuti, pengkhianatan serta persekongkolan jahat Mahapati, penaklukan Nusantara, dan peristiwa berdarah di Alun-Alun Bubat. Semua itu akhirnya memberikan stigma bahwa Gajah Mada sebagai panglima perang yang selalu unggul dalam pertempuran mengalahkan lawan-lawannya.

Namun kreativitas KH Agus Sunyoto dalam mengolah kisah Gajah Mada menarik untuk dikaji. Kisah Gajah Mada sebagai tokoh utama dalam buku berjudul Pu Gajah Mada tidak hanya menceritakan patriotisme Gajah Mada sebagai panglima perang yang andal, cerdik, ahli strategi, tegas yang selama ini menghiasi pikiran banyak orang.

Sosok Mahapatih Gajah Mada yang dideskripsikan dalam buku ini tidak hanya sebagai sosok pemberani di medan laga, melainkan sebagai sosok yang memiliki kecerdasan seimbang antara spiritual, intelektual, dan emosional. Oleh karena itu, buku ini terkesan jauh dari berbagai bentuk kekerasan seperti buku-buku serial Gajah Mada pada umumnya.

Dalam launching dan bedah buku berjudul Pu Gajah Mada jilid dua yang ditulis Agus Sunyoto, narasi cerita membuat masyarakat mudah memahami alur sejarah.

Meskipun dalam bentuk cerita, setiap paragrafnya penuh dengan data-data hasil dari penelusuran penulis. Semua cerita yang ditulis diambil dari bukti-bukti sejarah dan dokumen-dokumen yang dikumpulkan dari berbagai negara.

Menurut Agus, buku-buku sejarah yang selama ini diajarkan di  sekolah tidaklah berdasar dan tidak ada buktinya. Banyak buku sejarah bohong yang sarat bernuansakan adu domba dibuat masa kolonial Belanda.

Termasuk cerita tentang Gajah Mada. Dalam narasi cerita yang dibangun oleh Belanda, Gajah Mada disebut-sebut sebagai panglima perang. Namun, data sesungguhnya tidak ada yang menyebut bahwa Gajah Mada serupa. Justru dari dokumen-dokumen resmi peninggalan Kerajaan Majapahit dan catatan lain, dituliskan bahwa Gajah Mada memiliki jabatan sebagai perdana menteri.

"Kalau Gajah Mada adalah intelektual dan ahli strategi, bukan tukang perang dan tukang penakluk. Itu sebabnya dia menduduki perdana menteri administrasi. Yang menuliskan dia sebagai panglima perang adalah buatan Belanda. Dia adalah mahapatih atau perdana menteri atau mahapatih yang membawahi para menteri," jelasnya.

Menurut Agus,  penyelewengan sejarah tersebut mulai dibuat oleh Belanda pasca-Perang Diponegoro karena merasa kewalahan. Akhirnya, Belanda membuat cerita bohong dengan tujuan mengadu domba antar-kerajaan-kerajaan di Nusantara.

 Agus menyebut bahwa cerita tentang sosok yang bernama Ken Arok yang digambarkan dalam berbagai buku buatan Belanda adalah fiktif. "Nama Ken Arok itu tidak pernah ada. Tidak pernah ada pula tragedi pembunuhan raja Sunda yang dibunuh Ken Arok. Cerita itu sengaja dibuat untuk mengadu domba antara dua kerajaan besar, yaitu Majapahit dan Sunda. Sampai saat ini dokumen resmi Kerajaan Sunda tidak menuliskan kejadian tersebut. Kalau memang terjadi, mestinya dicatat oleh kerajaan besar, " tandas dia.

Cerita yang diterbitkan dalam buku ini merupakan naskah cerbung yang terbit di salah satu koran cetak secara berkelanjutan. Setelah dilakukan pengkajian komplet dengan berbagai sumber rujukan, maka buku ini diterbitkan.

"Ini buku kedua yang terbit sebagai lanjutan dari kisah Gajah Mada di buku satu. Karena ceritanya masih berlanjut dan masih banyak, maka insya Allah buku ini akan terbit sampai buku empat," ungkap penulis yang juga ketua umum Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU itu.

Mantan wartawan  tersebut juga mengajak masyarakat untuk melihat sejarah berdasarkan data. Bukan hanya sebatas cerita yang dibuat-buat tanpa bukti.