MALANGTIMES - Jika sebutan pahlawan super bisa disematkan pada sesosok patriot serba-bisa, maka Karbol salah satunya. Sepanjang hidupnya, Karbol banyak memberikan sumbangsih kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mulai dari merintis sekolah penerbang, sekolah radio, hingga ditetapkan sebagai Bapak Ilmu Faal Indonesia.

Saat ini, nama asli Karbol diabadikan menjadi nama bandara di Malang, yakni Abdulrachman Saleh. Pahlawan nasional kelahiran 1 Juli 1909 tersebut mendapat tempat khusus di TNI Angkatan Udara (AU). Bahkan sebagai penghormatan, nama panggilan Abdulrachman Saleh, Karbol, kini menjadi sebutan bagi para taruna AAU. 

Dalanud Abd Saleh Malang Marsma TNI Hesly Paat mengungkapkan, ada semangat Karbol yang kini harus dimiliki oleh taruna TNI AU. Di antaranya semangat inovatif, kreatif, serta multi talenta. "Semangat yang dimiliki Abdulrachman Saleh semoga dapat diturunkan ke taruna Akademi AU, sehingga taruna ini mahir dan terampil di tugasnya masing-masing," katanya.

Menurut dia, pahlawan yang dijuluki Karbol ini merupakan sosok yang multitalenta. Tak hanya mahir di bidang penerbangan, namun juga ahli di bidang kedokteran serta dunia penyiaran. "Beliau penerbang yang tangguh, perintis sekolah penerbang, dan sekolah radio. Untuk menghormati kepahlawanannya itulah, nama lanud di Malang menggunakan Abdulrachman Saleh," ungkap danlanud.

Hal tersebut disampaikan Hesly hari ini (3/9/2019), saat menjadi pembicara dalam dialog Membangun Semangat Kepahlawanan Abdulrachman Saleh sebagai Perintis RRI dan Pejuang TNI AU. Pasalnya, tak hanya merintis sekolah penerbang, Karbol juga merupakan perintis Radio Republik Indonesia (RRI). Dengan kata lain, RRI dan TNI AU memilik 'bapak' perjuangan yang sama.

Dalam dialog yang digelar di hanggar Skuadron 32 Lanud Abdulrachman Saleh tersebut, Ketua Dewan Pengawas LPP RRI Mistam menguraikan rekam jejak Karbol di bidang radio. Sesudah kemerdekaan diproklamasikan, Karbol sudah menyiapkan semuah pemancar yang dinamakan Siaran Radio Indonesia Merdeka. Hal itu lantaran Karbol merupakan pemimpin perkumpulan di bidang radio yakni Vereniging voor Oosterse Radio Omroep (VORO). 

Menurut Mistam, lembaga cikal bakal RRI itu bertugas menyiarkan berita kemerdekaan. Namun saat ini, output siaran RRI harus mempu membangun konektivitas greogafis, suku bangsa, dan agama demi keutuhan NKRI. "Meneladani pahlawan Abdulrachman Saleh sebagai perintis RRI, karakter disipilin, toleransi, cinta tanah air, dan semangat gotong royong RRI harus dimiliki angkasawan," ujarnya.

Sementara itu, sejarahwan Universitas Negeri Malang (UM) Dewa Agung Gede Agung mengungkapkan, meski wafat di usia 38 tahun, Karbol telah berhasil mencatatkan namanya dalam sejarah perjuangan Indonesia. "Abdulrachman Saleh wafat di usia 38 tahun, tetapi pengabdiannya terhadap bangsa luar biasa. Beliau antariksawan, angkasawan RRI, cendikiawan, sekaligus negarawan. Itu terbukti dengan jenjang pendidikan yang ditempuh serta organisasi yang diikutinya," ungkap Gede. 

Semangat kepahlawanan itu, sambung Gede Agung, tak hanya harus dimiliki oleh TNI AU, namun juga angkasawan RRI. "Untuk meneruskan perjuangan Abdulrachman Saleh, angkasan RRI harus ikut berkontribusi menanamkan nilai kebangsaan, serta menggelorakan kehidupan toleransi dan empati menerima perbedaan, bukan sekedar mengakui perbedaan. Semangat itulah yang harus ada di materi-materi siaran RRI," ujarnya.

Tak hanya itu. Semasa hidup, Karbol juga melakukan studi di GHS (Geneeskundige Hoge School), semacam sekolah tinggi dalam bidang kesehatan atau kedokteran. Setelah ia memperoleh ijazah dokter, ia mendalami pengetahuan ilmu faal. Setelah itu, dia mengembangkan ilmu faal ini di Indonesia. Oleh karena itu, Universitas Indonesia pada 5 Desember 1958 menetapkan Abdulrachman Saleh sebagai Bapak Ilmu Faal Indonesia.