Ilustrasi tiket pesawat Foto: Shutterstock

Ilustrasi tiket pesawat Foto: Shutterstock



MALANGTIMES - Kota Malang kembali mengalami inflasi sebesar 0,35 persen pada periode Mei 2019. Angka tersebut berada di bawah prediksi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) setempat yang memperkirakan inflasi sebesar 0,40 persen.

Kebijakan Menteri Perhubungan (Menhub) RI soal penurunan tarif batas atas (TBA) tiket pesawat menjadi salah satu penghambat laju inflasi. 

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang Sunaryo mengungkapkan bahwa komoditas angkutan udara memberi andil penghambat inflasi sebesar -0,015 persen. "Ada penurunan harga tiket angkutan udara sebesar 0,5 persen, dan ini pengaruhnya besar sekali. Apalagi beberapa bulan terakhir, tiket pesawat ini memiliki andil yang signifikan terhadap inflasi di Kota Malang," sebutnya dalam rilis resmi, hari ini (10/6/2019). 

Selain tiket pesawat, penurunan harga bawang merah sebesar 9,84 persen juga memberi andil sebesar -0,04 persen. Disusul oleh komoditas sayuran seperti kacang panjang, cabai rawit, juga sembako seperti beras dan minyak goreng. "Harga emas perhiasan, tarif kereta api, bandeng/bolu, dan pasta gigi juga turun dan masuk dalam 10 komoditas utama penghambat inflasi," urainya. 

Sementara itu, inflasi di Kota Malang sendiri banyak dipengaruhi kenaikan harga bahan makanan dengan andil sebesar 1,23 persen. Disusul kelompok pengeluaran sandang sebesar 0,95 persen, kelompok makanan jadi, minuman dan rokok/tembakau sebanyak 0,16 persen. 

"Ada kenaikan harga cabai merah yang cukup tinggi, sekitar 15,14 persen yang memiliki andil sekitar 0,04 persen terhadap inflasi," sebutnya. Komoditas lain yang mengalami kenaikan harga selama Ramadan 2019 lalu juga termasuk daging ayam ras, bawang putih, telur ayam ras, kelapa, tomat sayur, daging sapi, semen, blus (pakaian), dan juga tarif pulsa ponsel. 

Pada Mei 2019, inflasi Kota Malang berada di urutan kelima di Jawa Timur. Inflasi tertinggi terjadi di Sumenep 0,68 persen, Jember 0,64 persen, Madiun 0,61 persen, Banyuwangi 0,46 persen, Malang 0,35 persen, Probolinggo 0,19 persen, Surabaya 0,18 persen, serta Kediri 0,05 persen. "Di Jatim tercatat inflasi 0,27 persen, jauh dari angka nasional yang mencapai 0,68 persen," tuturnya. 

Sunaryo menyebut, BPS sempat mencurigai bahwa angka inflasi Kota Malang pada Mei 2019 akan tinggi mengingat sepanjang bulan berada dalam periode Ramadan-Lebaran. "Tetapi ternyata positif. Agregat inflasi di Kota Malang masih aman terkendali, ini membuktikan upaya-upaya pemerintah dan simultan yang dilakukan memberikan efek positif ke masyarakat," paparnya. Angka itu lebih rendah dibandingkan inflasi bulan April 2019 lalu yang berada di angka 0,44 persen.

Sementara itu, Wakil Ketua TPID Kota Malang Azka Subhan Aminurridho menilai, kebijakan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang menurunkan tarif angkutan udara ternyata berhasil menekan inflasi. "Kebijakan Kemenhub menurunkan tarif pesawat secara tiba-tiba itu ada dua spekulasi. Angkutan udara ini bisa menekan inflasi atau tidak, dan ternyata terbukti bisa," ujar pria yang juga menjabat Kepala Kantor Perwakilan  (KPw) Bank Indonesia (BI) Malang itu.

"Sebulan sebelumnya, kami memprediksi inflasi di angka 0,55 persen. Lalu ada revisi jadi 0,40 persen setelah ada penurunan TBA tiket pesawat. Ada dua spekulasi, angkutan udara ini bisa menekan nggak. Ternyata bisa," tuturnya. 

Dia menilai bahwa angka inflasi di Kota Malang masih terjaga sehingga ada tren positif pertumbuhan ekonomi. "Kalau inflasinya terlalu rendah, kasihan pedagang. Tapi angka 0,35 persen ini masih wajar," pungkasnya. 

End of content

No more pages to load