Ilustrasi (iStock)

Ilustrasi (iStock)



MALANGTIMES - Emas perhiasan masih menjadi komoditas ekspor terbesar di Kota Malang. Meski demikian, Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur (Jatim) merilis kinerja ekspor daerah pada April 2019 turun sampai 13 persen. Faktor yang paling besar berpengaruh adalah penurunan ekspor nonmigas seperti permata/perhiasan. 

Kepala BPS Jatim Teguh Pramono mengungkapkan bahwa selama ini komoditas perhiasan/permata menjadi penyumbang terbesar ekspor Jatim. Pada periode-periode sebelumnya, catatan angka ekspor itu kerap meningkat. Namun pada April lalu, ekspor komoditas ini malah anjlok sampai 56,82 persen dibandingkan dengan Maret 2019.  "Nilai ekspor permata/perhiasan selama April mencapai 136,16 juta dolar US," ungkap Teguh dalam rilis bulanan BPS. 

Selain permata/perhiasan, komoditas lain yang cukup mendorong kinerja ekspor Jatim adalah kayu dan barang dari kayu sebesar 102,70 juta dolar US lalu disusul tembaga di angka 99,42 juta dolar US. 

Berdasarkan hasil pengamatan satelit internasional, Jawa Timur memiliki setidaknya 179 ribu hektare tambang emas. Angka itu tersebar di antara Lumajang-Malang (26 ribu hektare), 56-58 ribu hektare antara Tulungagung-Trenggalek, serta 96 ribu hektare di Pacitan. Hal tersebut mendukung industri perhiasan di Jatim yang mempunyai peran strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi setempat.

Juga terdapat 26 unit industri perhiasan skala besar dan menengah serta 1.854 unit industri perhiasan skala kecil di Jatim yang lokasinya tersebar di 11 kabupaten/kota. Yakni Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Kabupaten Mojokerto, Kota Mojokerto, Lamongan, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, Kota Malang, Lumajang dan Pacitan. 

Meski secara regional turun, Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Malang belum mendapatkan laporan terkait capaian ekspor emas selama triwulan I 2019 ini. "Ekspor emas tiap tahun merupakan yang paling besar. Mungkin juga turun kalau ada catatan di Jatim turun," ujar Kepala Disdag Kota Malang Wahyu Setianto. 

"Kalau melihat data triwulan I 2018 lalu, dari Januari-Maret, volume ekspor emas perhiasan mencapai 2.754,67 kilogram dengan nilai 100,091 juta dolar US atau setara dengan sekitar Rp 1,3 triliun," tambahnya. 

Berdasarkan data Disdag, ada dua negara tujuan ekspor emas perhiasan. Yakni Singapura dan Amerika Serikat. 

End of content

No more pages to load