Podcast

JatimTIMES

Bukan Orang Jahat, Pahami Cross Hijaber dari Kacamata Psikologi

Download Audio:M4A

Fenomena cross hijaber kini sedang menjadi perbincangan panas di masyarakat, khususnya di media sosial. Bagi yang belum tahu, cross hijaber adalah pria yang suka berpakaian syar'i seperti wanita.


Aksi yang dilakukan oleh para cross hijaber terbilang cukup berani karena nekat menggunakan hijab dan bergabung di area khusus yang diperuntukkan untuk wanita, misalnya di masjid di bagian wanita ataupun toilet wanita.


Fenomena cross hijaber sendiri menjadi viral setelah muncul bukti-bukti digital tentang keberadaan mereka. Bahkan, ada komunitasnya. Komunitas ini juga sudah ada di wilayah Malang Raya.


Apabila dilihat dari kacamata psikologi, ternyata dalam diri laki-laki memang mempunyai sifat feminin (sama halnya dengan perempuan yang mempunyai sifat maskulin juga). Nah, dalam kasus cross hijaber ini, mereka ingin menunjukkan sisi femininnya tersebut.


Hal ini dijelaskan oleh Psikolog Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang), Novia Solichah.


Memang, kecenderungan untuk menjadi seperti perempuan itu ada, tapi dia tidak melupakan dirinya sebagai laki-laki.


Jadi, dia hanya ingin menunjukkan bahwa ia juga punya sisi feminin yang banyak. Tapi di sisi lain ia bukan seorang perempuan, ia tetap laki-laki tapi yang feminin.


Nah, setiap manusia memiliki kadar yang berbeda-beda (yang dominan bisa dari sisi feminin ataupun maskulin).


Barangkali para crosshijaber ini sisi femininnya itu sangat berlebihan.


Memang, para cross hijaber mengaku mereka tidak mempunyai tujuan apapun selain hanya senang mengenakan pakaian perempuan.


Pada intinya, setiap manusia punya sisi feminin dan maskulin yang berbeda-beda. Ada yang dominan sekali dan ada yang tidak.


Namun, manusia, termasuk para cross hijaber, bukanlah orang yang jahat. Tidak ada konsep orang jahat.


Kita harus selalu melihat tiap orang itu baik. Hanya saja mereka sedang berproses menuju kebaikan.


Selengkapnya baca di...

www.malangtimes.com

1 tahun yang lalu