Husnul H Syadad, Sekretaris GP Ansor Kabupaten Malang dan Dosen Ilmu Pemerintahan Unira Malang.
Husnul H Syadad, Sekretaris GP Ansor Kabupaten Malang dan Dosen Ilmu Pemerintahan Unira Malang.

DI awal tahun tahun 2016, bangsa Indonesia dikejutkan dengan berbagai kejadian yang menarik perhatian publik. Salah satunya diawali dengan bom Sarinah Jakarta, kemudian muncul isu Lesby, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT), yang meminta untuk dilegalkan atas nama Hak Asasi Manusia (HAM). Pada awal Februari, yang menjadi sorotan adalah perayaan hari valintine, yang jatuh pada setiap 14 Februari.

Banyak diberitakan hampir disemua media di Indonesia, terutama di media sosial (medsos) terkait perayaan hari Valentine. Setiap tahun, perayaan yang dikata hari kasih sayang itu, selalu mendapat respon pro-kontra dari mayoritas kalangan.

Mislanya, di beberapa daerah sampai ada kepala daerah yang mengeluarkan imbauan pelarangan perayaan hari valentine, dan setiap tahun ketika mendekati 14 Februari, selalu muncul banyak berita terkait perayaan hari valentine.

Banyak penolakan khususnya dari kalangan muslim, karena hal itu dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam dan budaya Indonesia. Bahkan sampai muncul fatwa haram untuk perayaan valentine.

Di Indonesia, sebenarnya tidak hanya umat Islam yang menolak perayaan valentine karena dinilai salah kaprah. Agama lain juga tegas menolaknya. Mengapa? Karena sejarah munculnya valentine memang tidak sesuai dengan ajaran agama, apalagi kontek perayaannya. Apalagi perayaan hari valentine selalu dirayakan dengan 'pesta seks bebas dan perilaku maksiat lainnya.

Ketika mengkaji soal hari valentine, maka akan tertuju pada beberapa hal, diantaranya cokelat, kartu ucapan, warna merah muda dan cinta. Namun perayaan valentine di masa sekarang, mengalami pergeseran sikap dan semangat.

Sejarahnya, di masa Romawi, hari valentine sangat identik dengan dunia 'para dewa' dan 'mitologi sesat'. Sementara, di masa Kristen, hari valentine dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama. Sedangkan, di masa modern saat ini, hari valentine identik dengan pergaulan bebas kaum muda mudi.

Yang paling sederhana, menjadi tradisi saat hari valentine tiba, identik dengan berpesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktik perzinahan secara legal. Semuanya mengatasnamakan semangat cinta kasih.

Demikian itu, jelas adalah 'budaya' atau kebiasaan yang salah kaprah memaknai perayaan valentine atau mengimplementasikan kasih sayang. Padahal, dalam beberapa sumber sejarah munculnya istilah valentine, adalah perayaan Hari Raya Lupercalia yang dipersembahkan kepada Dewa Lupercus (kesuburan) di zaman Romawi Kuno dan diperingati pada 15 Februari.

Versi kedua, valentine dikaitkan dengan tiga Martir atau Santo yang menurut penulis memiliki koneksitas kurang jelas dengan perayaan hari kasih sayang (Valentine). Kemudian, sejarah valentine yang paling populer berhubungan dengan perayaan meninggalnya St Valentine yang dibunuh pada 14 Februari 270 Masehi.

Namun, apapun kronologis sejarah valentine, sumber dan pelakunya, di era modern saat ini, perayaan valentine adalah perayaan yang dimanfaatkan sebagai komoditas bisnis oleh segelintir pihak yang ingin memuluskan bisnisnya.

Mendekati perayaan valentine, semua pelaku bisnis tak lupa mengusung tema "Valentine" sebagai pendongkrak bisnis yang digelutinya. Pengusaha coklat, bunga, kartu, mall-mall besar, hotel, kuliner, dan cafe-cafe, semua akan mengangkat tema Valentine untuk kepentingan bisnis yang dikelolanya.

Perayaan Valentine jelas tidak ada yang merayakannya dengan khidmat, layaknya peringatan Idul Fitri bagi umat Islam, perayaan nyepi bagi umat hindu, perayaan Natal bagi umat Nasrani.
 Karenanya, sudah sangat layak jika semua agama melarang perayaan valentine.

Media, selaku penyambung lidah rakyat, pemberi inspirasi bagi publik, jelas memiliki peran penting untuk turut serta menyebarkan nilai-nilai yang penuh hikmah kepada publik. Utamanya, bahwa valentine sudah tak sepatutnya dirayakan, terutama di Indonesia. Media bisa menjelaskan sisi negatif pada kaum muda jika valentine dirayakan.

Dalam sejarah budaya bangsa Indonesia, sama sekali tidak ada referensi dan tidak mengenal yang namanya valentine. Baru ketika tahun 80-an, yang semua orang tahu bahwa di era ini, budaya barat begitu hebat masuk ke Indonesia dan mempengaruhi gaya hidup, juga cara pandang banyak anak muda khususnya di kota-kota besar.

Baik melalui musik, pemberitaan media masa, juga film-film dan di era ini televisi mulai menjadi tren, sehingga budaya asing bisa masuk dengan bebas. Berlanjut ke tahun 90-an dan di era globalisasi ini, jelas akan melibas generasi muda jika 'benteng diri' tidak dipersiapkannya dengan matang dan profesional.

Mengapa? Karena arus informasi beitu deras. Arus teknologi begitu kencang melibas siapapun yang ada di depannya. Apappun sudah bisa diakses. Baik yang berupa pornografi hingga hal yang dinilai ghaib lainnya. Hal ini sudah menjadi virus hingga kepelosok desa.

Selanjutnya, keterkaitan dengan peran media dan kepentingan bisnis, maka jika dilihat dari arti kata bisnis yang harus menjual sesuatu sebagai produknya, untuk mendapatkan keuntungan jelas perayaan valentine hanya kepentingan bisnis semata, tidak memiliki nilai sejarah jelas dan pantas dirayakan.

Supaya produknya laku serta dikenal luas, maka dibutuhkan promosi, dalam promosi, semua bidang bisnis membutuhkan peranan media, entah itu media cetak atau elektronik. Disini, jelas sekali kaitan antara media dan bisnis, dua hal yang tidak bisa dipisahkan karena semuanya memiliki keterkaitan.

Suatu bisnis tercipta dari sebuah peluang, dan momenhari valentine, dapat diartikan sebagai salah satu bentuk peluang bisnis raksasa, karena terlihat dirayakan oleh kaum muda di hampir semua negara di dunia.

Keterkaitan antara Tiga hal diatas, semuanya memiliki peranan penting. Yang berarti peranan bisnis lah yang membuat valentine itu dibuat seakan-akan menjadi momen yang sangat penting untuk dirayakan, walaupun banyak sekali yang berlawanan dengan budaya maupun agama.

Beberapa bisnis yang memiliki kepentingan dalam momen hari valentine ini diantaranya, produk cokelat, produk alat kontrasepsi, bisnis waralaba, hotel, cafe dan bisnis yang berkaitan lainnya.

Media, yang juga sebuah bentuk bisnis, tapi mereka berperan sebagai perantara yang menyebarluaskan atau mempromosikan suatu produk kepada masyarakat melalui tayangan-tayangan di televisi maupun tulisan-tulisan di media cetak dan online.

Intisari dari penulis, bahwa momentum hari valentine, merupakan peranan media dan kepentingan bisnis. Dua hal itu jelas tak bisa dipisahkan. Hari Valentine hanyalah produk bisnis untuk mengelabui banyak kalangan, terutama anak-anak muda yang tidak memahami sejarah dan dibuat terlena dengan simbol-simbol yang dihadirkan oleh kelompok kapitalis untuk mengeruk keuntungan belaka.

Perayaan hari Valentine, yang dimaknai sebagai hari kasih sayang hanya dijadikan kedok terselubung untuk kepentingan penyebaran 'ideologi kapitalis', supaya kepentingan pebisnis lancar dan berhasil mengeruk keuntungan sebasar-besarnya. Budaya Indonesia, jelas tak pernah memiliki dan melahirkan sejarah valentine. Bangsa yang besar adalah bangsa yang berhasil menjaga identitas bangsanya sendiri. Hal itu berada di pundak kaum muda. (*)

Oleh Husnul H Syadad Sekretaris GP Ansor Kabupaten Malang dan Dosen Ilmu Pemerintahan Unira Malang.