Malangtimes

Oct 21, 2022 21:41

JATIMTIMES - Misi utama santri adalah belajar dan mengajar. Sebagaimana dalam QS. At-Taubah ayat 122 “...Untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama (din) dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali...”. Tujuan memperdalam pengetahuan agama (din) adalah untuk menjaga diri dan kaumnya dari kenestapaan dunia dan akhirat.

Agama (din) yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah tatanan atau sistem hidup. Sistem hidup yang berakar pada persaksian Tidak Ada Tuhan Selain Allah sesuai yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad Saw. 

Pengetahuan agama dengan makna tatanan hidup berarti seluruh aspek kehidupan manusia dan alam semesta. Semua bidang ilmu pengetahuan mempunyai kontribusi pada tatanan hidup manusia yang paling inti, yaitu semua ini semua berasal dari Allah Swt Tuhan semesta alam, sebagaimana firman Allah Swt QS. Al-Baqarah ayat 26, “...Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka...”

Kontribusi Santri 

Jamak diketahui, perkembangan ilmu pengetahuan seakan terlepas dari akar inti atau pusat tatanan hidup, yaitu Allah Rabbul Alamin. Banyak pengetahuan yang sebenarnya adalah tanda (alamat) Wujud dan Kuasa Allah tak terlihat karena lepas dari akarnya, sehingga manfaatnya menjadi semu dan perkembangannya menjadi layu.

Manfaat dan kemaslahatan ilmu pengetahuan adalah tujuan utama dari dinamika manifestasi tatanan hidup. Hal ini selaras dengan visi kerasulan Nabi Muhammad Saw sebagaimana dalam QS. Al-Anbiya ayat 107: Allah berfirman, “Tidak Kami utus engkau (Muhammad) kecuali menjadi rahmat (kasih) bagi alam semesta.”

Santri hendaknya memastikan kemanfaatan dan kemaslahatan pengetahuan yang didalaminya akan membimbing dirinya terhindarkan dari nestapa dunia dan akhirat. Tanda utama keberhasilannya adalah semakin luas dan dalam pengetahuan yang diperolehnya menjadikan dirinya berkarakter ulama (orang yang banyak ilmu). Sebagaimana firman Allah Swt dalam QS. Fathir ayat 28, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” 

Dalam konteks inilah, keberhasilan santri adalah saat ia berkarakter ulama: memiliki pengetahuan yang luas, mendalam, bermanfaat, menambah rasa takut, dan ketaatan kepada Allah Swt dan kemudian mampu menyebarkannya kepada masyarakat/umat.

Siklus Belajar dan Mengajar Santri 

Santri yang berkarakter ulama, yang bisa jadi ia disebut sebagai ilmuwan, ustad, kyai, ulama, berdasarkan misi santri adalah belajar dan mengajar, seyogyanya melakukan siklus belajar-mengajar-belajar-mengajar seumur hidupnya. Siklus belajar mengajar santri ini dapat menggunakan prinsip-prinsip yang disampaikan Imam Ghazali dalam Ihya ulumiddin.  Ada 10 prinsip belajar dan 8 prinsip mengajar.

Sepuluh prinsip belajar adalah: (1) Menjaga diri dari kebiasaan rendah diri dan perilaku tercela; (2) Mengurangi ikatan pada urusan duniawi semata; (3) Bersikap tawadu atau tidak meninggikan dirinya; (4) Tidak terlalu memberikan perhatian kepada perbedaan antara ilmu duniawi dan ilmu ukhrawi; (5) Bersemangat untuk mempelajari berbagai cabang ilmu; (6) Mempelajari terlebih dahulu ilmu yang terpenting bagi kehidupannya, yaitu ilmu mengenal Allah (ma’rifatullah); (7) Tidak mendalami cabang ilmu lain sebelum menguasai dengan baik cabang ilmu sebelumnya; (8) Mengetahui sebab-sebab suatu ilmu; (9) Mempercantik hati dan tindakan dengan kebajikan; (10) Memusatkan perhatian pada tujuan utama ilmu, yaitu Allah SWT dan tidak ada apa pun selain Allah SWT.

Delapan prinsip mengajar adalah: (1) Berpondasi pada rasa kasih sayang kepada murid seperti anaknya sendiri; (2) Mengikuti teladan yang dicontohkan Rasulullah SAW tidak boleh mencari imbalan dan upah di dalam mengajar; (3) Tidak menyembunyikan nasihat atau ajaran untuk diberikan kepada murid-muridnya; (4) Mencegah murid-muridnya dari memiliki watak dan perilaku jahat dengan penuh kehati-hatian; (5) Tidak merendahkan ilmu lain dan Guru lain di hadapan para muridnya; (6) Mengajarkan murid-muridnya hingga batas kemampuan pemahaman mereka; (7) Mengajarkan kepada para murid yang terbelakang hanya sesuatu yang jelas dan sesuai dengan tingkat pemahamannya; (8) Mempraktikkan apa yang diajarkan dan tidak boleh berbohong dengan apa yang disampaikannya. 

Wallohu A’lam. Selamat hari santri. Semoga sukses dunia akhirat. Amin.

Topik
Hari Santri Indonesiahari santri

Berita Lainnya

Berita

Terbaru