Antitesis Teori Feminis: Dekonstruksi Konsep Kekuasaan dan Kesetaraan

Jan 28, 2022 18:33

JATIMTIMES - Wanita … sebagai istri dalam ranah rumah tangga, sosial, politik, dikatakan tidak berdaya, tidak punya kuasa, kekuasaannya bersifat turunan dari suami (Suryakusuma, 2011). 

Penafsiran yang luar biasa ceroboh ini berasal dari konsep “kesetaraan jender” yang semakin lama semakin nyata “netral jender.” Jender dituntut netral, dalam biologi, psikologi, sosial. Bila jender tidak netral, maka dianggap tidak setara, dan bila tidak “setara,” maka dianggap telah terjadi ketimpangan kekuasaan. Ideal kesetaraan/netral jender adalah bila TNI memiliki 100 jendral laki-laki, maka harus ada 100 jenderal perempuan. Bila ada 500 anggota parlemen laki-laki maka harus ada 500 anggota parlemen perempuan, dst. Bila tidak demikian, maka keadaan dianggap belum setara dan bila belum setara maka wanita berada dalam penindasan.

Dengan kontruksi seperti itu, maka kekuasaan dipandang hanya bersifat de jure. Seorang bupati dianggap mempunyai “kuasa,” sedangkan istrinya tidak. Seorang bapak kepala keluarga dianggap berkuasa, sedangkan istri dan anak-anaknya tidak, bahkan dianggap tidak berdaya.

Padahal, apa “kuasa” itu? Mendengar kata “kekuasaan” kita merasa terancam, karena sudah terdoktrin oleh Marx bahwa kekuasaan itu berarti penindasan. Orang yang berkuasa berarti menindas. Padahal, dalam konsep Jawa, kekuasaan itu memangku, tidak menindas. Seseorang disebut mempunyai kuasa ketika ia bisa “memangku”; dengan memangku ia menstabilkan. Ia mengatur dua kutub agar terus berada dalam kesetimbangan. 

Filsafat Jawa kurang lebih sejalan dengan filsuf Jerman, Nietzsche, yang menegaskan bahwa manusia yang disebut berkuasa itu tidak menindas orang lain, tetapi menguasai diri sendiri. Menguasai diri berarti stabil. Dalam istilah Fromm, manusia itu sudah dewasa. Wanita menjadi dewasa ketika ia sudah mampu memberi, mengurus, mengayomi alam dan kemanusiaan. Dalam kebudayaan Indonesia, wanita seperti ini disebut “Ibu.” 

Esai ini adalah pengantar. Sampai di sini dulu, karena saya tidak bisa menuliskan semua di ruang sempit ini. Insyaallah, naskah buku saya sudah diminta Reza Nufa, editor Basabasi :) Di sana akan saya elaborasi lebih dalam lagi.

Topik
OpiniMother of The StateMalang Women Writer's Societywanitaperempuan

Berita Lainnya

Berita

Terbaru