Menduga Program Unggulan PBNU di 2021-2026

Jan 08, 2022 07:51
Lukman Ahmad Irfan, Dosen Universitas Islam Indonesia dan Peneliti Rumah Survey Indonesia
Lukman Ahmad Irfan, Dosen Universitas Islam Indonesia dan Peneliti Rumah Survey Indonesia

Muktamar NU 34 di Lampung telah usai. Muktamirin memilih Gus Yahya sebagai Ketua Umum PBNU. Sejak terpilih, Gus Yahya telah melakukan silaturrahim ke Presiden RI dan Bu Sinta Nuriyah, dan beberapa kali menyampaikan program unggulan NU Periode 2021-2026 di televisi nasional.

Gus Yahya mengungkapkan bahwa ada dua agenda besar NU yang akan menjadi fokus utama di periode kepemimpinannya. Pertama, menjadikan NU lebih koheren, seluruh elemen organisasi begerak seirama dan lebih rapi menuju ke arah yang sama. Kedua, menghadirkan NU secara lebih kongkret di tengah-tengah masyarakat dengan semangat pengabdian inklusif untuk semua orang, tidak terbatas anggota NU atau umat muslim saja, namun untuk semua orang.

Kedua fokus program tersebut terkait erat dengan tagline “Menghidupkan Gus Dur”. Menghidupkan Gus Dur yang dimaksud adalah memperjuangkan kemanusiaan universal tanpa pandang bulu dan melakukan transformasi menuju masyarakat dengan kualitas hidup yang lebih baik.

Ada dua hal strategis yang mungkin dilakukan oleh Gus Yahya dalam mencapai dua program tersebut, yaitu merevitalisasi organisasi NU menjadi lebih terstruktur dan sistematis dan memperkuat aplikasi landasan substantial maqoshid syariah yang lebih ‘marketable’.  

Revitalisasi Peran dan Fungsi Organisasi NU

Langkah startegis yang pertama adalah merevitalisasi organisasi. Organisasi NU selama ini sangat lengkap, dari Dewan Mustasyar sampai banom-banom. Namun fungsi dan perannya masih belum maksimal berjalan sehingga keterpaduan irama dalam mencapai kemashlahatan organisasi maupun umat manusia kurang tampak terlihat.

Kurang tampak terlihat ini mungkin adalah budaya yang muncul karena nilai keikhlasan, “Perbuatan baik kalau terlalu diperlihatkan bisa jadi akan menimbulkan riya’ atau ketidakikhlasan”. Bagaimana cara memadukan nilai budaya yang dipahami bersumber nilai agama dengan unjuk keberhasilan tolok ukur organisasi. Hanya seorang pemimpin mumpuni yang bukan hanya sekedar pucuk pimpinan/atasan yang mampu mengelola hal ini dengan baik.  

Contoh kongkrit kepemimpinan model seperti ini adalah Gus Dur, dan Gus Yahya adalah murid Gus Dur sejak tahun 1990 saat Gus Dur menjadi ketua PBNU, saat menjadi juru bicara presiden, sampai Gus Dur wafat. Pemahaman terhadap Gus Dur yang Panjang inilah nampaknya yang membuat Gus Yahya tidak ragu untuk membuat tagline “Menghidupkan Gus Dur”.

Revitalisasi peran dan fungsi organisasi sebesar NU bukanlah hal yang sederhana. Di antara yang dapat digunakan adalah evaluasi kinerja untuk mendapatkan kelemahan-kelemahan pengurus dalam sistem organisasi kemudian memperbaikinya.  

Mencari kelemahan peran dan fungsi ini menjadi lebih rumit karena sesungguhnya pengurus-pengurus NU adalah orang-orang yang mendarmabaktikan dirinya bagi NU. Mereka tidak pernah dibayar, bahkan seringkali membiayai kegiatan dari saku sendiri. Sehingga dinamika yang reflek muncul saat mereka dievaluasi adalah, “Bukankah kami sudah mengabdi dan berkorban, kok mau diperiksa?”

Oleh karenanya sangat penting membangun kesadaran bahwa evaluasi bukan untuk memeriksa kejelekan dan kemudian menghukumnya, namun evaluasi adalah muhasabah untuk meningkatkan kualitas ataupun kuantitas pengabdian dan pengorbanan diri di masa depan.

Mengemas Maqoshidus Syar’iy dan Rahmatan lil ‘Alamin NU  

Bagi santri istilah Maqosidush Syari’ah bukan hal yang asing. Pengurus NU di setiap lini memahami hal ini. Dapat dikatakan bahwa pemahaman ini sudah merata di Nahdliyin. NU memperjuangkan visi Islam rahmatan lil ‘alamin sudah berhasil ditanamkan oleh para kyai di NU. Hal inilah yang membuat pengurus NU mampu menterjemahkan program-programnya mejadi inklusif. Tidak jarang ditemui umat agama nonmuslim mengikuti acara-acara NU.  

Tantangan yang muncul bukan datang dari dalam NU, namun lebih banyak muncul dari propaganda muslim garis keras. Saat NU merealisasikan nilai-nilai rahmatan lil ‘alamin dengan menebarkan kemaslahatan ke seluruh umat, propaganda muslim garis keras menepisnya dengan mengkampanyekan stigma NU adalah antek Yahudi, Nashrani, dan lain-lain. Parahnya, banya warga NU yang terpengaruh kampanye tersebut.    

Kampanye nilai-nilai NU yang inklusif tenggelam dalam kampanye muslim garis keras. Nilai yang subtansial memang lebih sulit muncul ke permukaan, kecuali dilakukan penggalian-pengalian dan kemudian dikemas menjadi indah dan kemudian menarik yang melihatnya mendekat dan menyelaminya.

Wallohu A’lam.

 

Oleh Lukman Ahmad Irfan

Dosen Universitas Islam Indonesia dan Peneliti Rumah Survey Indonesia

Topik
Maqoshidus Syar’iyRahmatan lil ‘Alamin NUFungsi Organisasi NUmaksiat

Berita Lainnya

Berita

Terbaru