Bukit Algoritma, Brin, Dan Terobosan Metodologi Penelitian

Oct 16, 2021 20:01
Lukman Ahmad Irfan, Dosen Univeritas Islam Indonesia dan Pengasuh Majelis Ya Badi’, Yogyakarta
Lukman Ahmad Irfan, Dosen Univeritas Islam Indonesia dan Pengasuh Majelis Ya Badi’, Yogyakarta

Mengikuti perkembangan Bukit Algoritma? Saya punya rasa optimis dan sekaligus pesimis. Kabar bagusnya rasa optimis saya lebih besar. Perbandingannya 3:1. Saya sadar seharusnya perbandingan ini cukup untuk dibilang optimis. Namun, saya ingin menyisipkan pesimisme saya sebagai bagian dari kesadaran untuk selalu berhati-hati.

Saya optimis karena, katanya, proyek ini tidak berbasis partai dan pemerintahan saat ini. Hal ini mengingatkan saya beberapa proyek yang terbengkalai maupun hanya sebatas proyek tanpa hilir. Hal ini, menurut saya, mohon jangan baper, karena idealisme seringkali kalah dengan politik praktis yang kadang saling menjegal. Apalagi dikipas-kipasi oleh kerjasama pemodal dana politisi yang memanfaatkan militansi ‘agama’.

Bukit Algoritma ini juga mengingatkan saya untuk pentingnya ruang perkembangan dalam metodologi penelitian. Tidak sekedar ruang metode tapi ruang perkembangan metodologinya. Tanpa adanya perkembangan metodologi suramlah masa depan penelitian yang seringkali ditanya, mana kontribusi praktisnya atau hilirisasi hasil penelitian.

Dalam tradisi penelitian ilmiah, prosedur ilmiah ditentukan oleh rumusan masalah atau pertanyaan penelitian. Rumusan masalah ini ditentukan oleh spesialisasi dari beragam hasil identifikasi masalah. Identifikasi masalah dirumuskan dari kesenjangan antara idealita dan realita. Prosedur ini tampaknya perlu diberi ruang untuk berkembang dalam menyikapi era disruption.

Ruang perkembangan metodologis yang diperlukan menghadapi era disruption adalah angan-angan. Mungkin kalau terlalu konotatif, angan-angan dapat diubah menjadi imajinasi. Angan-angan atau imanjinasi menjadi penting karena era disruption banyak berkembang berdasarkan imajinasi.

Bukti kongkrit, di antaranya adalah perkembangan games. Film hiburan, dan pinjaman online. Ketiga bidang tersebut walaupun dikembangkan berdasarkan imajinasi, namun mampu mengeruk keuntungan konkrit dan akibat yang konkrit. Dan pada saatnya nanti mungkin akan memberikan pemasukan bagi pajak negara dan penghasilan yang harus dizakati.

Kemajuan teknologi dan informasi memungkinkan sebuah ide penelitian yang berpondasi pada ‘masalah’ imajinatif dan tidak harus mempunyai landasan teoritis yang sudah ada. Yang terpenting bagi metodologi masa depan adalah kemungkinkan mewujudkan ide menjadi sebuah produk, pendekatan, model, startegi, kurikulum yang mungkin dilaksanakan dan tidak melanggar norma kemanusiaan.

Ide ini menjadi sangat dibutuhkan mengingat dunia teknologi dan informasi yang memungkinkan setiap ide mempunyai pendukung tersendiri dari seluruh dunia. Bukti konkritnya adalah betapa hanya sebuah rekaman tentang duduk diam bengong dan direkam dan diunggah di Youtube dapat menghasilkan keuntungan finansial.

Bukit Algoritma seyogyanya menjadikan realitas di atas menjadi pertimbangan. Dunia dan manusia tidak seperti dulu lagi. Sistem yang rapi dan presisi yang dulu menjadi andalan saat ini sering dipandang membuat kaku dan menghambat perkembangan. 

Dengan kepentingan kontribusi bagi masa depan yang lebih kongkrit, maka pertimbangan tidak lagi terbatasi oleh ilmu pengetahuan, yang cenderung berkembang karena ada masalah, seyogyanya diperluas lebih antisipatif walau bersifat imajinatif. Dengan seperti ini, maka kemungkinan ilmu pengetahuan akan berjalan seiring atau bahkan mampu mendahului permasalahan.

Apakah hal ini yang menyebabkan Presiden RI melangkah lebih jauh dengan dilantiknya Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) keluar dari pakem biasanya. Pendapat Azyumardi Azra bahwa seharusnya Ketua-Anggota Dewan Pengarah BRIN adalah Ilmuwan Berkaliber Internasional adalah pakem, sedangkan melantik Presiden RI kelima Megawawati Soekarnoputri adalah antsipatif spekulatif. Berpijak pada argumentasi era disruption, antisipatif imaginatif, ruang perkembangan metodologis, memang diperlukan terobosan-terobosan baru. 

Bagaimana perkembangan Bukit Algoritma dan BRIN, tampaknya melihat, megamati, dan tetap memberikan masukan-masukan konstruktif saat ini adalah lebih baik. 

Topik
Univeritas Islam IndonesiaMajelis Ya Badi’, Yogyakartasafari sampah

Berita Lainnya

Berita

Terbaru