Ilham dan Label Negatif Anak

Aug 26, 2021 07:52
Dosen Psikologi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang Akhmad Mukhlis. (Foto: Dok. Pribadi)
Dosen Psikologi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang Akhmad Mukhlis. (Foto: Dok. Pribadi)

Beberapa hari lalu saya dihubungi salah satu wartawan Malangtimes untuk dimintai tanggapan terkait viralnya Muhammad Ilham (10 tahun) yang merawat bapaknya yang diduga lumpuh (Siswoyo, 49 tahun) dan adiknya (Muhammad Rizky, 4 tahun).

Sayangnya, setelah mendapatkan banyak bantuan, beberapa pihak kemudian menyajikan informasi-informasi baru yang terkesan sangat tendensius. Di antaranya menyebut Pak Siswoyo tidak lumpuh, malas dan selalu pilih-pilih makanan.

 Yang cukup memprihatinkan adalah informasi yang menyebut ilham sebagai anak nakal –karena suka main di terminal, pintar bermain kata-kata. Bahkan ditulis pintar framing dan menghabiskan uang santunan untuk membeli mainan.

Saya tidak hendak menanggapi validitas informasi terbaru mengenai Pak Siswoyo. Melihat video yang beredar saja, kita pasti minimal bersimpati. Kondisi fisik dan tempat tinggal cukup untuk menggugah kita untuk menjadi manusia. Tulisan ini wabilkhusus akan memberikan tanggapan terkait tiga hal yang menyasar langsung pada Ilham, yaitu nakal, framing, dan juga menghabiskan uang.

Mengapa anak bertingkah (nakal)?
Gaya pengasuhan masyarakat kita telah bergeser. Dulu, kita akan dengan mudah menemukan orang tua atau orang dewasa melabeli anak-anak dengan sebutan nakal. Kemudian dengan mudah pula memberikan hukuman, baik verbal maupun fisik. Namun, itu dulu. 

Sekarang, masyarakat telah menyadari bahwa hal tersebut bukan jalan terbaik dalam mengasuh anak. Sebagian lain percaya bahwa itu bahkan akan memperburuk perilaku anak di masa depan.

Psikologi sangat berhati-hati mendekati permasalahan yang berkaitan langsung dengan perkembangan anak, terutama terkait bagaimana mereka berperilaku. Untuk perilaku yang sering kita kategorikan sebagai kenalakan, psikologi memilih istilah bertindak keluar (acting out). Saya memilih padanan kata “bertingkah”. Bertingkah biasanya mengacu pada perilaku bermasalah yang agresif secara fisik, merusak properti, agresif secara verbal, atau lebih parah daripada perilaku buruk sederhana. 

Menurut American Psychological Association, bertingkah didefinisikan sebagai ekspresi perilaku ekstrem dari emosi yang meredakan ketegangan atau mengomunikasikan emosi ini dengan cara terselubung atau tidak langsung.
Tichovolsky dan kawan-kawannya dalam sebuah tulisan di Journal of Applied Developmental Psychology tahun 2013 menyebutkan sekurang-kurangnya terdapat enam perilaku yang dapat dikategorikan sebagai anak bertingkah:
1.      Agresif, baik berupa kata-kata maupun perilaku. 
2.      Defiance atau membangkang secara terbuka kepada figur yang memiliki otoritas seperti orangtua;
3.      Perilaku tidak kooperatif atau mengganggu orang lain;
4.      Meltdowns atau memberikan respon yang intens terhadap situasi yang luar biasa;
5.      Berindak sebagai oposisi. Menolak arahan atau aturan dengan menjadi argumentatif atau menolak untuk bekerja sama;
6.      Temper tantrum, ledakan emosional yang sering melibatkan tangisan dan teriakan.
Berbagai alasan diutarakan dalam kajian psikologi mengapa anak-anak bertingkah. Di antaranya karena kurangnya perhatian, kesepian, ketakutan, menghadapi situasi yang mengecewakan, merasa tidak mampu dan masih banyak hal lainnya.
 
Nakal, konotasi negatif dan dampaknya
Mengenai Ilham, hal pertama yang harus kita sepakati adalah ia masih berumur 10 tahun. Dalam kategori perkembangan psikologi, ia masih dalam tataran anak-anak akhir. Tugas anak-anak yang paling utama adalah bermain. Mereka belajar dalam banyak hal dengan bermain dengan teman sebaya dan lingkungannya.

Apakah dalam keseharian Ilham sering berperilaku seperti enam kategori perilaku yang saya sebutkan sebelumnya? Menyajikan informasi tentang bagaimana Ilham bermain (bergaul di terminal), pintar bermain kata-kata (framing) dan juga suka minta uang untuk beli mainan akan secara langsung bisa berdampak tidak baik baginya. Informasi semacam itu akan menggiring opini masyarakat yang awalnya simpatik menjadi berbalik.

Menyebut seorang anak nakal, terutama yang hanya memiliki pemahaman dasar bahasa, adalah hal yang cukup brutal untuk dilakukan. Mereka ditampar dengan label yang mereka tahu berarti buruk. Tetapi mereka belum tentu mengerti mengapa apa yang mereka lakukan itu salah. 

Jauh lebih buruk jika ini terjadi dalam sebuah skenario, karena segera setelah kita memberi label anak nakal. Teman sebaya mereka mulai melihat mereka sebagai satu dimensi buruk, yang memengaruhi bagaimana mereka diperlakukan.

Yang telah menyaksikan film Joker tahu gambaran kasarnya. Orang yang terlanjur mendapatkan label negatif akan mendapatkan perlakuan berbeda. Mereka dijauhi dan dianggap akan memberikan dampak tidak baik dan merugikan. 

Pada gilirannya, orang-orang seperti itu akan membentuk perilaku yang cenderung anti-sosial di masa yang akan datang. Mereka cenderung akan abai terhadap aturan dan menekan perasaan simpatiknya dalam lingkup sosial.

Apakah bermain di terminal adalah hal yang salah? Bukankah ruang publik untuk bermain semakin sempit? Apakah Ilham mendapatkan pemahaman sebelumnya bahwa itu adalah hal yang tidak baik? Apakah membeli mainan adalah hal yang salah bagi anak-anak? Patut kita syukuri Ilham tidak melakukan hal-hal yang dapat merugikan bukan hanya bagi dirinya, tapi juga bagi orang lain.

Bukan berarti Anda tidak bisa menggunakan kata nakal. Jika itu diartikan untuk perilaku yang tidak biasa. Anak-anak melakukan hal-hal nakal sepanjang waktu. Anak saya di rumah juga sering melakukan hal seperti menggoda adiknya sampai menangis, menjatuhkan makanan di lantai, berbicara dengan nada kasar, tidak mau mandi, makan dan masih banyak lagi. 

Taruhlah perilaku-perilaku tersebut kita sebut nakal. Tetapi bukan berarti mereka adalah orang yang secara inheren nakal. Karena perbedaan antara "perilaku itu buruk" dan "kamu nakal" sangat besar. Artinya, anggap saja kita menyebut Ilham melakukan beberapa perilaku “buruk”. Namun apakah dengan beberapa perilaku buruk itu Ilham otomatis menjadi “anak nakal”?

Tugas Kita
Saya melihat apa yang telah dilakukan masyarakat telah berada dalam trek yang tepat. Perasaan simpatik mengantarkan berbagai pihak mengulurkan bantuan. Jalinan sosial kita aman. Tetangga sejauh media memberitakan telah bergotong-royong memberikan bantuan.

 Setelah menjadi pemberitaan media, bantuan datang mengalir dari berbagai penjuru. Kalaupun ada sisa permasalahan adalah bagaimana selanjutnya? Hari ini, Pak Siswoyo mungkin tidak kekurangan bahan makanan dan Ilham serta Rizky mendapatkan perhatian. Namun sampai kapan? Inilah masalahnya, terutama Ilham dan Rizky. Bagaimana mereka diasuh selanjutnya, mengingat mereka sudah tidak memiliki ibu dan Pak Siswoyo dalam kondisi kesehatan yang tidak menguntungkan.

Tidak semua orang tua rela melihat anak-anak mereka masuk panti asuhan. Jika Pak Siswoyo menolak opsi tersebut, kita mungkin membutuhkan opsi lainnya. Bisa jadi pondok pesantren menjadi opsi. Atau pendampingan terus-menerus dari dinas melalui pekerja sosial, relawan atau sejenisnya.

Yang tidak kalah penting adalah bagaimana kita harus berpikir ke depan tentang hak paling dasar anak-anak, yaitu bermain. Sulitnya mendapatkan ruang publik untuk bermain adalah permasalahan yang tidak bisa kita anggap remeh. Saya dulu sering bermain di pasar, karena memang rumah saya di belakang pasar. Jadi, salahkah Ilham yang bermain di terminal jika rumahnya dekat dengan terminal?
 
*Penulis Akhmad Mukhlis adalah dosen Psikologi di Fakuktas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Maliki Malang

Topik
Padu padan baju hitamOpini

Berita Lainnya

Berita

Terbaru