Miris, Skill Calon Tenaga Kesehatan Di Masa Pandemi Covid-19 Terdampak Kebijakan Pemerintah

Aug 15, 2021 17:44
Ns. Sofwan, S.Kep M.Kep (Foto: Dokumentasi penulis).
Ns. Sofwan, S.Kep M.Kep (Foto: Dokumentasi penulis).

MALANGTIMES - Hampir 2 tahun lamanya Corona masih mengendap di negeri ini, entah sampai kapan akan benar-benar berakhir dan bisa aktivitas seperti yang dulu lagi. Berbagai aspek di masyarakat semakin hari banyak berubah disebabkan peraturan yang silih berganti. Salah satunya soal kompetensi tenaga kesehatan.

Banyak siswa, khususnya asisten keperawatan maupun mahasiswa keperawatan, yang semakin hari semakin menurun skill-nya. Salah satu penyebabnya adalah tidak adanya praktik di lab sekolah, kampus, maupun di tatanan rumah sakit. Banyak keterampilan yang seharusnya dipelajari dan dilakukan di laboratorium, kini tak lagi dilakukan. Hal ini dikarenakan kebijakan pemerintah terkait pembelajaran daring.

Contoh kasus, seorang siswa maupun mahasiswa kesehatan, khususnya keperawatan, seharusnya mempunyai keterampilan memasang alat ataupun melakukan tindakan-tindakan sesuai kompetensinya. Untuk mendapatkan skill itu, mereka harus praktik secara langsung di bawah pengawasan pengajar. Namun, pada kenyataannya sekarang hal itu tak lagi dilakukan. Mereka hanya disuguhi teori-teori dan teori.

Sebelum pandemi, selain teori yang diberikan ada juga yang namanya praktika di laboratorium yang di lakukan untuk meningkatkan skill siswa/mahasiswa kesehatan. Sekarang tak ada lagi yang namanya praktika di lapangan seperti di rumah sakit dan instansi pelayanan kesehatan lainnya sampai pandemi covid-19 benar-benar normal.  

Ada beberapa perguruan tinggi yang nekat tetap melaksanakan praktika di RS dan tentu ini ada risiko. Misalnya, risiko terpapar covid-19 yang membuat perguruan tinggi tersebut menarik kembali anak didiknya untuk tidak melakukan praktika.  

Sungguh disayangkan jika keterampilan mereka tidak dilatih sejak semester awal terutama skill dasar tenaga kesehatan. Ilmu yang mereka dapatkan hanya mengandalkan video-video yang di-share atau hanya lewat daring. Hal ini akan menyebabkan penurunan kualitas calon tenaga kesehatan ke depannya.  

Peraturan demi peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah tidak mengantisipasi efek jangka panjang ini. Para siswa masih tetap dilarang untuk melakukan pembelajaran tatap muka. Sedangkan mall, pasar dan lain-lain bisa beroperasi seperti biasa, apakah ini tidak berbanding terbalik?  

Seharusnya pemerintah memberikan kelonggaran bagi sekolah maupun perguruan tinggi, khususnya keperawatan untuk melakukan praktika di laboratorium sekolah/kampus dengan tetap menjaga protokol kesehatan. Regulasinya bisa dibuat, misalnya 2 minggu satu kali, atau jika memang tidak bisa, 1 bulan 1 kali secara bertahap dan bergantian. Paling tidak, mereka bisa memulai di lab supaya keterampilannya meningkat.  

Saya rasa jika hanya menonton video yang di-share oleh para tenaga pendidik, pembelajaran tidak akan optimal. Semua orang bisa menonton video, akan tetapi berbeda dengan melakukan sendiri atau praktik yang didampingi oleh guru/dosennya di laboratorium. Menonton video belum tentu bisa melakukan tetapi melakukan langsung sudah pasti lebih cepat ingat dan tentu pasti bisa. Jangan sampai generasi muda ini hanya diberi materi-materi tanpa praktik saat nanti diterjunkan di lapangan.  

Banyak juga keluhan siswa yang mengaku tidak semua bisa mengikuti materi yang disampaikan secara daring. Salah satu penyebabnya adalah kuota dan kekuatan sinyal atau jaringan internet. Ada juga kuota gratis yang diberikan oleh pemerintah, tapi hanya bisa digunakan di platform-platform tertentu.  

Sebagai tenaga pendidik, miris rasanya melihat kondisi yang seperti ini. Di sisi lain, kita dituntut untuk menuntaskan semua mata pelajaran. Di sisi lain juga, jika dikasih teori dan video saja tidak cukup. Sementara, kebijakan dari pemerintah tidak ada solusi yang tepat.  

Seharusnya pemerintah mencari solusi terbaik. Bagaimanapun caranya, jika mall, swalayan dan pasar-pasar besar lainnya bisa buka, kenapa datang ke sekolah/kampus untuk praktik saja tidak bisa? Hal ini yang harus dipertimbangkan oleh pemerintah baik-baik, sehingga bisa membuat keputusan yang lebih baik.  

Semoga ke depannya pemerintah bisa mempertimbangkan dan mengeluarkan kebijakan yang baru sehingga sekolah dan kampus bisa beroperasi lagi meskipun hanya datang untuk praktik.

Topik
tenaga kesehatantenaga pendidikopini pandemi

Berita Lainnya

Berita

Terbaru