Pukulan Pagebluk Menyasar Gini Ratio dan Pengangguran Kota Malang

Aug 09, 2021 08:42
Harianto, Founder Skema Institute
Harianto, Founder Skema Institute

Nyaris 2 tahun kita semua menjalani kehidupan dalam bayang-bayang “kekuasaan” wabah. Wabah covid-19 atau yang di Kota Malang kerap diistilahkan pagebluk ini semakin kesini semakin melemahkan berbagai sendi-sendi kehidupan. Dalam rentang waktu tersebut, pemerintah pusat telah mengeluarkan berbagai ramuan kebijakan dalam rangka memukul balik pagebluk. Sebut saja kebijakan PSBB, PPKM mikro, PPKM darurat dan PPKM dengan level tertentu. Ditengah istilah-istilah tersebut, pemerintah juga terus melakukan upaya membagikan bantuan sosial (Bansos) kepada masyarakat terdampak dan vaksinasi massal.

Di Kota Malang juga praktis tidak bisa menghindar dari rundungan pagebluk ini. Bahkan Kota Malang sempat mengalami zona hitam. Walaupun saat ini persebaran pagebluk di Provisi Jawa Timur dapat dikatakan nyaris merata (infocovid19.jatimprov.go.id, diakses 01/8).

Sebagai Kota termaju kedua di Jawa Timur setelah Kota Surabaya dilihat dari beberapa indikator, hal ini membuat mobilitas ekonomi tinggi sebelumnya di Kota ini tetiba serasa berhenti “jegrek”. Secara kasat mata hal itu dapat dijumpai dengan banyaknya toko, cafe & resto dan tempat-tempat usaha lainnya secara bergilir menutup usahanya.

Kondisi demikian memaksa pemerintah Kota Malang bersama semua pihak untuk bekerja keras dalam menanggulangi wabah ini. Apalagi akhir- akhir ini dengan munculnya virus baru yang konon merupakan varian delta ditambah dengan meningkatnya intensitas kematian dimana-mana membuat masyarakat berpotensi semakin tertekan.

Seperti dinyatakan di awal, bahwa wabah ini telah berdampak ke berbagai sendi kehidupan. Hal ini membuat banyak capaian-capaian dibidang- bidang tertentu yang sebelumnya diraih terpaksa terhenti.

Dampak yang kentara di Kota malang secara statistik salah satunya adalah data koefisien gini/gini ratio dan tingkat pengangguran terbuka (TPT) yang meningkat.

Gini ratio merupakan indikator ekonomi yang digunakan untuk mengukur tingkat ketimpangan pendapatan secara menyeluruh (Sirusa.BPS.go.id). Berdasarkan pengertian Badan Pusat Statistik (BPS), dapat diintepretasikan bahwa gini ratio mengalami penurunan berarti distribusi pengeluaran penduduk mengalami pemerataan, sebaliknya gini ratio mengalami kenaikan berarti distribusi pengeluaran penduduk mengalami ketimpangan.

Kondisi gini ratio Kota Malang yang pada Tahun 2019 mengalami penurunan ke angka 0,34 dari 0,41 pada Tahun 2018. Namun pada tahun 2020 mengalami kenaikan kembali ke angka 0,40 atau naik 0,06 poin (malangkota.bps.go.id, diakses 01/8). Angka tersebut merupakan angka kesenjangan tertinggi di Jawa Timur pada tahun 2020. Sementara itu kenaikan sebesar 0,06 poin menempatkan Kota Malang dan Kabupaten Mojokerto sebagai daerah dengan kenaikan poin tertinggi di Provinsi Jawa Timur pada Tahun 2020. Sesuai pengertian diatas, kenaikan koefisien gini tersebut mengindikasikan bahwa distribusi pengeluaran penduduk di Kota Malang berpotensi mengarah ke ketimpangan.

Dari sisi Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kota Malang juga tidak luput dari pukulan wabah. TPT merupakan persentase jumlah pengangguran terhadap jumlah angkatan kerja. Berdasarkan data BPS Kota Malang, TPT di Kota malang juga mengalami kenaikan tajam yaitu naik sebesar 4,92%, dari 5,88% pada Tahun 2019 menjadi 9,61% pada tahun 2020. Angka tersebut diatas rata-rata TPT Provinsi Jawa Timur yang sebesar 5,84% dan TPT nasional yang sebesar 7,07% pada Tahun 2020.

Kenaikan tajam ini juga telah memutus trend penurunan TPT di Kota Malang sejak 2011. Tentu saja kenaikan TPT pada tahun 2020 tidak hanya terjadi di Kota Malang. Secara umum, daerah-daerah lain di Provinsi Jawa Timur juga mengalami kenaikan dengan persentase kenaikan yang bervariasi.

Penulis meyakini, dari data diatas pemerintah telah mendalami data-data yang ada sehingga lebih tahu persis kondisi denyut nadi masyarakat Kota Malang secara lebih faktual. Dengan begitu dapat dipetakan strategi dalam mengatasinya. Apalagi pada Tahun 2021 ini tentu kondisinya cukup mengkhawatirkan mengingat efek kejut dari ledakan covid gelombang kedua pada tahun ini terasa lebih luas dan memilukan. Tentu saja semoga kekhawatiran tersebut tidak benar.

Sampai saat ini belum ada yang bisa memastikan kapan wabah pagebluk ini akan berakhir. Disisi lain, semakin pesatnya era digital saat ini membuat laju ekonomi digital semakin bertumbuh.

Selama sekitar satu dekade ini fase transformasi ke arah ekonomi digital begitu nyata. Bencana wabah ini seperti ingin memaksa percepatan takdir ke arah ekonomi digital di banyak bidang. Pembatasan ruang gerak fisik akibat pagebluk membuat masyarakat mulai membiasakan diri berinteraksi secara digital.

Pada tahun 2030, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi bahkan memprediksi pertumbuhan ekonomi digital akan mencapai delapan kali lipat, dari Rp.632 triliun menjadi Rp. 4.531 triliun dengan e-commerce menyumbang 34% peran pertumbuhan didalamnya (kemenkeu.go.id, diakses 05/8). Pertumbuhan yang fantastis tersebut akan menjadi potensi ekonomi yang luar biasa jika prasyaratnya terpenuhi.

Kesiapan SDM, infrastruktur yang terkait dan dukungan optimal pemerintah merupakan prasyarat yang mesti terpenuhi dalam menjemput potensi ekonomi digital tersebut. Tantangan ekonomi digital ini diharapkan dapat diramu menjadi program kebijakan yang terukur oleh pemerintah Kota Malang untuk menjawab persoalan ketimpangan dan pengangguran diatas.

Sejauh ini strategi pemerintah Kota Malang sendiri dalam menghadapi rundungan wabah pagebluk yang dapat dikatakan terkait dengan transformasi ekonomi digital yaitu dengan meluncurkan program yang dinamai dengan Malang Beli Produk Lokal (Malpro), Malang Berbagi (Malber), Malang Herbal (Malherb), Malang Digital Service (Maldis), dan Malang Bahagia (Malba) (malangkota.go.id diakses 05/8). Dari sisi program pemkot barangkali telah menunjukkan responsivitas terhadap persoalan dan tantangan. Namun kita berharap pelaksanaan program tersebut dapat dijalankan dilapangan secara optimal dan berkelanjutan hingga dapat menjadi solusi bagi persoalan ketimpangan dan pengangguran yang ada.

 

Penulis:

Harianto

Founder Skema Institute

Topik
Kota Malangwabah pageblukmasker mahalEkonomi Digital

Berita Lainnya

Berita

Terbaru