Vina Fitrotun Nisa
Vina Fitrotun Nisa

MALANGTIMES - Jika saat ini kita masih menaruh rasa curiga atau prasangka bahkan menghindari interaksi dengan kelompok lain, nampaknya perdamaian kita patut dipertanyakan. Pasalnya kondisi damai yang ideal akan memudarkan sekat-sekat antara satu kelompok dan kelompok lainnya. bagi masyarakat yang pernah mengalami konflik, tindakan-tindakan yang akan mengarah pada bangkitnya konflik tentu akan dihindari meskipun sulit

Upaya-upaya untuk mempertahankan perdamaian harusnya dilakukan dengan meningkatkan kerjasama antar kelompok yang pernah mengalami konflik, interaksi positif antar kelompok tersebut akan mendorong terciptanya rasa kekeluargaan dan saling memiliki. Oleh karena itu eksklusifitas lingkungan atau interaksi sebenarnya harus dikikis secara perlahan. Karena hal tersebut dapat meruntuhkan sikap toleransi keberagaman.

Baca Juga : Hari Santri di Balik Pandemi

konflik sebenarnya tidak melulu harus diidentikkan sebagai sesuatu yang negatif, sebaliknya justru konflik menunjukkan hadirnya sebuah interaksi sosial antara satu kelompok dengan yang lainnya. Selain itu konflik dapat menjadi pelajaran untuk membina hubungan yang lebih baik dalam bermasyarakat. Sayangnya, kesulitan untuk saling memaafkan dan melupakan sebuah konflik seringkali lebih besar dibanding cita-cita untuk mewujudkan perdamaian.

Saat ini kita memang tidak berada dalam situasi perang. Namun kondisi damai yang ditunjukkan dengan  sikap saling curiga dan penuh dengan prasangka negatif barangkali akan menimbulkan akumulasi kebencian jika dibiarkan begitu saja. Dengan begitu, masyarakat akan lebih mudah diadu domba. Dan yang lebih parah adalah memudarnya keharmonisan sosial. Sebagai bangsa yang memiliki keragaman suku dan budaya, rasa saling bersaudara harusnya dipupuk dengan meningkatkan toleransi.

Pertanyaannya adalah siapakah yang memiliki otoritas untuk menanamkan toleransi, dan sejak kapan sikap itu harus diajarkan. Karena yang selama ini kita rasakan jargon tersebut hanya terdengar nyaring saat diucapkan. Faktanya sebagian besar masyarakat terlambat menyadari kondisi tersebut. Hal ini mungkin terjadi karena kurangnya intensitas interaksi dengan masyarakat yang beragam. sehingga saat mereka berhubungan dengan kelompok lain yang berbeda nilai-nilai yang kelompok lain anut dianggap salah dan menyimpang.

Fakta lain yang terjadi selama ini, pendekatan penyelesaian konflik jarang sekali ditempuh dengan pendekatan preventif. Anak-anak di Indonesia pun sepertinya kurang mendapat pelajaran tersebut di lingkungan keluarga. Ironisnya bahkan jika toleransi dianggap sebagai sikap yang kurang penting untuk diajarkan. 

Perempuan sebagai “Agent of Peace” Bukan “Agent of hate”

Dalam sebuah konflik sebenarnya perempuan seringkali diposisikan sebagai korban. Jarang sekali perempuan diposisikan sebagai rekonsiliator. Dalam kesepakatan damai misalnya,  biasanya diwakilkan oleh salah satu tokoh laki-laki. Namun kekurangannya, metode ini biasanya kurang mengakomodir keinginan anggota kelompok lainnya sehingga cara ini memungkinkan adanya kegagalan rekonsiliasi pasca konflik 

Perempuan setidaknya memiliki dua peran dalam sebuah konflik atau perang. Untuk menciptakan perdamaian berkelanjutan, perempuan memiliki peran preventif dan represif. Perempuan sebagai Ibu dapat menjadi agen perdamaian jika ia memahami hakikat konflik dan akibat yang akan ditimbulkannya. Sedangkan peran represif perempuan adalah sebagai rekonsiliator. 

Baca Juga : Tantangan Para Pendidik Pasca Covid-19

Jika kita berpikir siapa yang mampu mengahiri sebuah konflik maka seorang “Ibu” lah jawabannya. Konflik berkepanjangan baik itu yang bersifat komunal atau yang berlatar belakang agama bisa jadi penyebabnya adalah  adanya dendam masa lalu yang terus diceritakan keluarga atau seorang Ibu kepada anak-anaknya. Sehingga terjadilah rantai kebencian yang terus diwariskan. Sebaliknya, jika seorang Ibu menanamkan sikap toleransi dan perdamaian kepada anak-anaknya maka terciptalah rantai perdamaian.

Sayangnya, peran perempuan selama ini memang kerapkali dikerdilkan dengan tuntutan pekerjaan domestik. Sehingga banyak diantara mereka yang mendapatkan diskriminasi dalam mendapatkan akses pendidikan. Padahal seorang ibu merupakan sekolah pertama bagi anak-anaknya. Sehingga seberapa berkualitas seorang perempuan akan berbanding lurus dengan kualitas anaknya kelak. Oleh karenanya pendidikan bagi seorang perempuan sangatlah penting.

Peran perempuan sebagai rekonsiliator dapat dilakukan dengan melakukan perjanjian damai antar perempuan yang berkonflik. yaitu melakukan negosiasi tentang kesepakatan-kesepakatan yang ingin dicapai supaya hak masing-masing kelompok dapat terpenuhi. Dengan dua metode ini perempuan dapat menjadi agen perdamaian dan menghentikan konflik primordial. Namun yang harus kita sadari bahwa menjaga perdamaian adalah tugas bersama.