Aksi Kekerasan Di Kalangan Pelajar Kian Memprihatinkan

Dec 04, 2020 15:34
Dewi Ayu Larasati, SS, M. Hum
Dewi Ayu Larasati, SS, M. Hum

MALANGTIMES - Kekerasan di dunia pendidikan masih saja terjadi. Di tengah kewaspadaan masyarakat terhadap pandemi virus Corona atau COVID-19, kasus tawuran remaja kembali terjadi di Jalan Tembaan Surabaya, Jumat (30/11/2020). Kasus pengeroyokan ini menyebabkan korban Maulana Ramadhan (16) warga Gembong V Surabaya meregang nyawa.  Ini bukan yang pertama kali kasus tawuran pelajar terjadi.  

Penganiayaan ini bermotif dendam di antara kedua kelompok yang masih terus berlanjut, hingga mengakibatkan nyawa seorang remaja meninggal. Kelompok Jawara tak terima, jika kampung mereka kerap diserang oleh kelompok Allstar yang membuat mereka bersolidaritas melakukan aksi tawuran tersebut. Yang paling mengkhawatirkan, ada dua pelaku yang masih tergolong anak-anak.

Baca Juga : Kontroversi New Normal dan Kebadutannya

Tidak hanya di Surabaya, peristiwa pengeroyokan juga terjadi di daerah Cianjur, Jawa Barat, Senin (30/11/2020). Tiga orang pelajar SMK swasta di Kabupaten Cianjur diciduk jajaran Satreskrim Polres Cianjur setelah melakukan penganiayaan terhadap seorang pegawai salah satu perusahaan provider di Jalan Ir H Djuanda, Panembong, Cianjur, Senin 30 Novembet 2020 malam.

Kejadian itu berawal saat sejumlah pelajar SMK mabuk-mabukan di pelataran parkir sebuah kantor perusahaan provider. Lalu salah seorang pegawai provider itu menegur sejumlah pelajar yang sebagian masih di bawah umur agar tidak mabuk-mabukan di pelataran parkir kantornya.

Tak terima ditegur, sejumlah pelajar itu lalu melakukan pengeroyokan terhadap korban. Tak puas melakukan pengeroyokan terhadap korbannya, sejumlah pelajar lainnya lalu mengambil senjata tajam dan langsung menghujamkannya pada korban.

Fenomena tersebut telah menunjukkan disorientasi nilai yang sangat memprihatinkan. Betapa kekerasan sudah terjustifikasi menjadi budaya. Eskalasi keterlibatan anak dalam kekerasan kolektif (tawuran) sudah semakin meluas. Apalagi di tengah situasi Covid-19 saat ini, para remaja yang bersatus sebagai pelajar sekolah masih memiliki kebiasaan berkumpul dan berpotensi menimbulkan kericuhan. Hal seperti ini bukan hanya berisiko dapat melukai fisik anak-anak tersebut, melainkan juga mengancam nyawa anak-anak karena tertular COVID-19. Keselamatan warga tentunya juga akan terancam.

Kita mengalami kondisi anomie seperti yang diutarakan oleh sosiolog Emile Durkheim, yaitu rusaknya norma-norma sosial atau kondisi di mana norma tidak lagi bisa menjadi kontrol bagi aktivitas seluruh atau sebagian kelompok yang ada di masyarakat. Orang kehilangan batas-batas baik-buruk atau salah-benar. Ini memicu perilaku menyimpang dan konflik di masyarakat.

Hal ini juga memperlihatkan kegagalan institusi pendidikan nasional kita sebagai wadah dari proses transmisi kebudayaan dalam mengemban tugas utamanya menciptakan manusia berbudaya.  

Pemicu Kekerasan Pelajar

Lantas, apa sebenarnya yang membuat anak tertarik pada kekerasan, dan juga memiliki kecenderungan untuk berperilaku kasar dan agresif?

Tindakan kekerasan yang menyebabkan mereka berkonflik dengan hukum tidak dilakukan sendiri, tetapi dalam satu rangkaian sebab-akibat di sejarah panjang kekerasan di masyarakat. Ada beberapa faktor yang menyebabkan anak berubah menjadi agresif dan anarkistis.

Pertama, membenarkan “tradisi” kekerasan. Kondisi masyarakat kita saat ini rentan sekali terhadap perpecahan dan mencintai aksi-aksi kekerasan. Eskalasi tindak kekerasan kemudian diikuti dengan munculnya sofistikasi kekerasan. Ketika kekerasan yang berkembang di masyarakat meningkat, batas toleransi terhadap kekerasan cepat atau lambat akan bergeser menjadi makin longgar. Masyarakat menjadi makin terbiasa dengan kekerasan dan bahkan menjadikan kekerasan sebelumnya sebagai preferensi dalam menanggapi masalah.

Para siswa sebagai peserta didik pun akan meniru bahwa kekerasan adalah cara yang paling efektif untuk memecahkan masalah mereka, berdasarkan banyaknya contoh kekerasan yang terjadi di sekitar mereka.  

Dalam lingkungan keluarga misalnya, banyak orang tua yang masih percaya bahwa kekerasan adalah perlakuan yang ampuh untuk pengasuhan dan menegakkan disiplin. Celakanya, bentuk-bentuk kekerasan yang diterima anak dari orangtua sering dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan disebut sebagai proses pembelajaran.  

Bagaimana anak didik belajar menyayangi dan menghormati orang lain jika orangtuanya sendiri membenarkan kekerasan? Bagaimana anak didik terinspirasi untuk membuat perubahan positif dalam masyarakat dari orang tua yang melakukan kekerasan?

Di lingkungan sekolah, sebagian guru juga masih beranggapan bahwa kekerasan bisa menjadi sarana untuk menunjukkan bahwa dirinya berwibawa di hadapan murid-murid. Maksudnya guru pada situasi-situasi tertentu memerlukan kekerasan agar murid mendengarkan dan menghormatinya. Sementara, jika siswa bersikap diam, maka guru akan menganggap itu sebuah bentuk kepatuhan dan rasa takut.

Oleh karena itu, kekerasan untuk menegakkan wibawa guru di hadapan anak didik adalah mitos yang sebenarnya tidak perlu dipertahankan.  

Pengalaman kekerasan dalam menyelesaikan setiap konflik akan sangat berbahaya jika kemudian mereka terapkan dalam keluarga maupun lingkungan tempat tinggal mereka. Mereka menjadi sosok pemberang, pemarah, dan antisosial.  

Kedua, dehumanisasi pendidikan. Aksi kekerasan yang berkembang akhir-akhir ini tak bisa lepas dari terabaikannya pendidikan nilai dan moral. Kita akui, lembaga pendidikan kita masih berorientasi pada kognisi, mengisi otak dengan ilmu pengetahuan yang membuat mereka bersaing tapi tidak bersaing dalam moralitas baik. Apalagi pemerintahan saat ini cenderung fokus untuk melink and match antara dunia pendidikan dengan dunia usaha, sehingga pengembangan perilaku dan budaya dalam bentuk transformasi nilai dan perkembangan moral—yang menjadi fondasi penting bagi hubungan sosial manusia terabaikan.  

Baca Juga : Keberadaan Transgender, Haruskah Tidak Diakui?

Dalam hal ini pendidikan kita lebih memperhitungkan kepentingan hal-hal yang bersifat ekonomis ketimbang proses humanisasi. Pendidikan yang merangsang kepekaan nilai estetik dan humanitas justru kurang ditonjolkan karena dinilai kurang ekonomis.  

Ketiga, paparan media “kekerasan”. Di tengah liberalisasi informasi, media massa dan media sosial memberikan andil besar dalam kekerasan. Inspirasi anak-anak dalam melakukan tindakan kekerasan disebabkan imitasi atau bahkan obsesi karena melihat tayangan di televisi dan media sosial. Hal itu menjadi pemicu gagalnya internalisasi diri pelajar dalam menyelesaikan masalah-masalah di sekelilingnya.

Seorang pakar dari University of California, Edward Donnerstein, profesor bidang komunikasi, menyimpulkan bahwa dampak adegan kekerasan dalam media elektronik sungguh besar.

Seperti kita ketahui, tayangan-tayangan yang mengandung muatan kekerasan mendominasi program televisi dan menjadi santapan penonton Indonesia, khususnya remaja. Belum lagi game-game yang isinya tentang perkelahian.  

Perhatikan apa yang dikatakan oleh Daniel Goleman “Media seperti video game dan digital game justru bermuatan makna-makna agresivitas yang hanya menciptakan Kecerdasan Destruktif, bukan Kecerdasan Emosional. Perasaan empati justru lenyap di dalam dunia game yang cenderung mengutamakan kecepatan, rasionalitas dan ketepatan. Kalau mereka terbiasa bermain game, yang menonjolkan unsur kekerasan, maka mereka menganggap kekerasan itu adalah hal yang biasa, seperti menganiaya, memukul, menembak atau membunuh.

Keempat, minimnya suri teladan. Memudarnya faktor keteladanan sosial di masyarakat dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab maraknya kekerasan pada siswa.
Terlebih elit masyarakat kerap mempertontonkan intoleransi sosial. Sehingga dengan atau tanpa disengaja banyak berpengaruh terhadap aksi dan tindakan brutal para pelajar atau remaja.

Untuk itu perlu adanya tindakan para elit masyarakat dan pemerintah sebagai pihak yang paling bertanggungjawab untuk menghadirkan figur yang baik dan mentradisikan sikap santun. Hal itu akan menjadi contoh dan suri tauladan bagi para remaja demi terciptanya suasana harmonis, toleran, saling menghormati dan mengasihi antar sesama.  

Perlu Tindakan Progresif

Pakar hukum dan ahli pendidikan harus sependapat di sini bahwa kebrutalan pelajar adalah produk dari dunia sekitarnya. Kekerasan hanya bisa dihentikan dengan tindakan tegas. Namun, penegakan hukum yang dijatuhkan kepada remaja yang melakukan kekerasan perlu diimbangi dengan penanganan psikologis.  

Untuk itu, semua unsur dalam ekosistem pendidikan harus menunjukkan tindakan progresif untuk mengantisipasi kekerasan di lingkungan peserta didik. Semua pihak harus bersinergi untuk memperkuat tradisi dialog dan komunikasi dalam menyelesaikan konflik. Kekerasan yang dipelihara justru akan menjadi residu konflik.

Dengan menciptakan kultur yang baik dan positif, setiap individu mempunyai sikap menghargai satu sama lain maka kultur kekerasan bisa dikikis. Di sisi lain, lingkungan pendidikan pun wajib memiliki standar prosedur dan tim pencegahan serta penanggulangan kekerasan tanpa pernah menyatakan sikap toleransi terhadap kekerasan.

-----------------------------

Dewi Ayu Larasati, SS, M. Hum

Staf Pengajar di Universitas Sumatra Utara

Topik
Opini

Berita Lainnya

Berita

Terbaru