Lazuardi Firdaus
Lazuardi Firdaus

"Koran itu dari kata Quran. Jadi isinya harus kebenaran," kata pemimpin sekaligus guru saya ketika ngobrol santai di sebuah ruangan di Jalan Arjuna, Kota Malang.

Koran adalah sebutan lazim untuk media massa atau surat kabar. Kalau dulu koran bentuknya dari kertas. Sedangkan pada era milineal, koran sudah beralih ke online dan digital. Karena media cetak adalah masa lalu.

Baca Juga : Fenomena Media Jadi Alat Partisan untuk Jelekkan Media Lain di Pilkada Malang

 

Sebelum saya membahas kaitan Quran dan koran, lebih baiknya bercerita soal guru saya walau hanya sedikit. Guru saya ini merupakan mantan pemimpin redaksi sebuah perusahaan media besar berkantor pusat di Surabaya. Orangnya pintar, baik, dan sederhana.

Tapi yang paling saya kagumi dari dia adalah sifatnya yang rendah hati. Dia tidak pernah mengklaim dirinya baik, namun semua anak buahnya mengakui bahwa dia orang baik.

Dari dialah saya banyak belajar menjadi seorang pemimpin, bukan seorang bos. Walaupun perbedaannya cukup banyak antara pemimpin dan bos, saya sebut sebagian kecil saja. Karena bahasan pokok pada tulisan kali ini bukan pemimpin atau bos.

Menurut guru saya ini, pemimpin akan menganggap karyawannya sebagai keluarga, sedangkan bos menganggap anak buahnya adalah bawahannya. Pemimpin selalu mengintrospeksi dirinya jika ada karyawan yang salah. Sedangkan bos tak pernah salah.

Pemimpin akan mengegaliterkan dirinya dengan para karyawannya. Sedangkan bos harus menunjukkan dirinya selalu ada di atas. Jadi jangan heran kalau sampai pelat mobil pun harus ditulis angka 805. Angka 805 itu adalah angka padanan dari kata BOS. Untuk yang punya pelat 805 jangan tersinggung, ini hanya sekadar pengandaian saja. Jadi tak perlu baper.

Banyak referensi yang bisa Anda cari untuk membedakan apakah dia seorang pemimpin atau bos. Kalau Anda mendapatkan seorang pemimpin, maka Anda akan beruntung seperti saya. Sebab Anda akan belajar banyak.

Namun, jika Anda bekerja dengan bos, segeralah cari kerja di tempat lain agar tidak menyiksa lahir dan batin. Sebab yang bisa tahan bekerja dengan bos sebagian besar adalah orang-orang yang sukanya menjilat. Cukup bilang bos selalu benar, maka Anda akan juga benar di matanya.

Alhamdulillah, saya berkesempatan belajar dari pemimpin yang saya anggap benar. Banyak kesempatan menggali ilmu jurnalisme langsung darinya. Salah satunya adalah bagaimana tulisan dalam koran sedikit banyak meniru isi dan misi Quran. Ini bukan klaim, hanya ingin mengungkapkan adanya bentuk upaya.

Quran itu berisi soal fakta masa lalu (sejarah), fakta sekarang (kenyataan), dan informasi masa depan. Selain itu juga berisi kabar gembira, kabar sedih, hukuman, pahala, cara ibadah, ilmu pengetahuan, dan masih banyak lainnya. Dan semua isinya menurut orang Muslim adalah kebenaran mutlak. Karena datangnya Quran dari Sang Pencipta.

Karena koran itu turunannya, maka isinya juga harus tidak jauh-jauh dari Quran. Tulisannya harus memberitakan fakta dan informasi yang benar. Sehingga memberikan pemahaman yang benar kepada yang membacanya. Walaupun tidak mengandung kebenaran mutlak seperti Quran, sebisa mungkin koran menceritakan kebenaran objektivitas, bukan subjektivitas.

Isi Quran yang bisa ditiru para jurnalis adalah tegas. Dia tidak pernah netral. Jika ada konflik antara Nabi Musa dan Firaun, jelas sekali pembelaan kepada Nabi Musa. Begitu pula ketika Nabi Luth berhadapan dengan kaumnya, Quran berada di belakang Nabi Luth.

Demikian juga ketika Nabi Muhammad berhadapan dengan kaum munafikin dan kafirin, semuanya tegas membela Rasulullah. Dan masih banyak sekali kisah-kisah keberpihakan Quran jika ada sebuah konflik. Itu semua bisa jadi pelajaran.

KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha juga secara tegas pernah mengatakan, dalam sebuah polemik, Nabi Muhammad pun tidak pernah memilih posisi netral. Nabi akan membela kaum yang lemah, terzalimi, dan memihak orang yang benar.

Karenanya, jika ada media yang mengkritisi kebijakan kepala daerah, maka mereka sedang menentukan sikap tegasnya.  Media berharap agar orang yang dikritiknya kembali benar dalam mengemban amanah.

Media seperti itu mempunyai tujuan agar kepala daerahnya bukan hanya sekadar menjadi bos dan mengabaikan kepentingan masyarakatnya. Masukan dari koran yang kritis dan tegas ini bisa dijadikan sebagai sebuah vitamin untuk memperbaiki diri.

Tapi jika ada kepala daerah yang bersifat bos, maka dia akan menganggap media kritis sebagai lawannya. Serta akan menggunakan segala cara untuk membungkam kekritisan media tersebut. Termasuk menggunakan media lain untuk menjelekkan citra media kritis.

Karenanya, jika ada jurnalis atau media menyebut koran berusaha tegas dan kritis sebagai jurnalisme nyinyir, maka jelas sekali keberpihakannya kepada penguasa. Kentara sekali si jurnalis ini tidak senang jika penguasanya dikritisi kebijakannya.

Dia akan menggunakan berbagai dalil dan berbagai kaidah untuk menjelekkan media yang dianggapnya nyinyir. Mulai dari menuduh media kritis sedang memframing sebuah fakta, hingga menuduhnya sebagai koran tidak berkualitas.

Tujuannya jelas, agar informasi dari media kritis dianggap sebagai sebuah kebohongan belaka atau fitnah. Sebenarnya cukup mudah untuk menyikapi sebuah media itu menyebarkan berita hoax, fitnah, atau tidak sesuai kaidah jurnalistik. Apalagi jika yang difitnah adalah kepala daerah yang punya power. Tak usah bertele-tele menggunakan media lain.

Cukup laporkan ke Dewan Pers, maka akan terbukti siapa yang benar dan siapa yang salah. Tapi rupanya, masih banyak kepala daerah yang menggunakan cari pintas. Yakni wadul kepada teman yang bekerja di media lain.

Baca Juga : Kontroversi New Normal dan Kebadutannya

 

Karena teman media ini punya kepentingan dengan si kepala daerah, maka dia pun dengan semangat menulis tentang jurnalisme nyinyir. Ada tujuannya, si penulis jurnalisme nyinyir ini menganggap kepala daerah ini sebagai bos. Jadi tulisannya adalah sebuah jilatan untuk menyenangkan kepala daerah. Jika kepala daerah ini sudah keenakan dijilat, maka apapun akan digelontorkan kepada yang menjilat. Imbasnya yang dirugikan adalah masyarakat. Selain tak mendapatkan saluran informasi yang benar, media tak bisa dijadikan alat perjuangan untuk mengkritisi kebijakan yang salah.

Kembali lagi ke koran dan Quran. Di Quran atau bahkan juga di kitab suci lainnya, banyak kisah-kisah negatif para nabi.

Dalam Quran jelas diceritakan bagaimana Adam sampai dikeluarkan dari surga. Karena dia mendengarkan bisikan setan untuk memakan buah khuldi daripada memenuhi perintah Allah yang melarangnya.

Selanjutnya dikisahkan pula bagaimana ketika anaknya bernama Qabil harus membunuh saudaranya sendiri Habil karena berebut perempuan bernama Iqlima (saudara sekandung Qabil).

Apakah Allah menceritakan kisah Adam dalam Quran ini untuk mendiskreditkan Adam? Adakah Sang Khalik membeberkan kisah itu bermaksud untuk menjelekkan Adam bahwa dia tidak bisa mendidik anaknya sehingga harus membunuh saudaranya demi perempuan? Tentu saja tidak. Tapi bagi yang tidak yakin dengan kebenaran, tafsirnya bisa dibolak-balik seenaknya dia.

Demikian pula ketika Quran menceritakan Nabi Nuh. Saat istrinya bernama Walaghah dan anaknya Kan'an memilih durhaka kepadanya. Apakah Dia bermaksud menceritakan bahwa Nabi Nuh tak bisa mendidik istri dan anaknya? Jika anak dan istri saja tidak bisa dididiknya, bagaimana dia mampu mendidik orang lain? Tentu bukan itu framing yang ingin diambil Allah.

Pun demikian dengan kisah Wali'ah. Dia merupakan istri Nabi Luth yang durhaka. Saat suaminya menyiarkan dakwah, si istri malah melawannya dengan mempropagandakan kemaksiatan.

Ada juga kisah Nabi Ibrahim yang mempunyai orang tua seorang pembuat patung berhala bernama Azar. Patung-patung Azar dijadikan sesembahan oleh Raja Namrud. Azar sangat bangga dengan agamanya yang sesat.

Kisah Nabi Muhammad pun juga demikian. Ada banyak paman dan saudara yang menentangnya. Termasuk pamannya sendiri Abu Lahab. Apakah Al Quran ingin menceritakan perselisihan keluarga di antara mereka? Tentu tidak.

Ada maksud-maksud positif yang bisa diambil dari kisah-kisah di atas. Namun, bagi orang yang tidak iman dengan Quran, makna itu bisa di balik sesuai dengan kehendak hatinya. Karenanya jangan heran jika kemudian ada Salman Rushdie yang mengarang buku The Satanic Verses atau Ayat-Ayat Setan.

Itulah sekelumit kisah-kisah Nabi yang difirmankan Allah dengan sangat gamblang. Tujuannya bukan untuk menjelekkan para nabi, tapi untuk diambil hikmahnya. Tentu Allah mempunyai tujuan mulia menceritakan kisah-kisah negatif para utusan-Nya. Pasti Allah mempunyai sesuatu nilai mengapa Dia memilih untuk tidak menyembunyikan kisah negatif para kekasih-Nya itu.

Karena itu, bagi kepala daerah atau siapapun yang ditulis sisi negatifnya, woles saja. Segera perbaiki, maka Anda akan menjadi orang yang bernilai. Kenapa Anda tak mau ditulis sisi negatifnya? Wong para Nabi saja sisi-sisi negatifnya saja diabadikan di Quran.

Mengapa saya harus membela koran online yang dianggap nyinyir? Sebab jika apa yang terjadi di Malang ini dibiarkan maka bukan hal mustahil semua kepala daerah akan meniru langkah kepala daerah tersebut.

Bukannya memperbaiki diri ketika dikritik, dia malah menghantam koran pengritik menggunakan media lain. Dari sinilah awal lahirnya istilah jurnalisme nyinyir Bos.

Quran yang datangnya dari Allah dan berisi kebenaran absolut saja banyak yang tidak mentaatinya bahkan banyak pula yang mengingkarinya, apalagi koran yang ditulis seorang manusia. Tentu akan banyak pertentangan nilai dalam melihat sisi subyektif manusia. Silakan nilai sendiri saja, karena saya yakin Anda adalah pembaca yang cerdas.

------------------------------

Lazuardi Firdaus

Penulis adalah Wartawan Setengah-Setengah