Dosen Universitas Islam Indonesia dan Pengasuh Majelis Dzikir dan Taklim Ya Badi' Yogyakarta
Dosen Universitas Islam Indonesia dan Pengasuh Majelis Dzikir dan Taklim Ya Badi' Yogyakarta

MALANGTIMES - Sejatinya, ujian dalam pembelajaran adalah bukan penghakiman kepada peserta didik. Seringkali ujian disalahpahami sebagai penghakiman karena kebiasaan yang terlihat bahwa hasil ujian ‘menyebabkan’ peserta didik naik atau tinggal kelas, lulus atau tidak lulus. 

Hal ini mengakibatkan tekanan kepada peserta didik. Seringkali bagi peserta didik yang merasakan tekanan tersebut berlebih menyebabkan depresi, stres, dan bahkan trauma menghadapi ujian. 

Baca Juga : Sepinya Ramadan

Tanda yang tampak nyata adalah keringat dingin, sakit kepala, mual, atau perut mulas dan menuntut buang air kecil atau besar.

Perasaan tertekan akan semakin meningkat kalau peserta didik mengalami pembelajaran yang dialaminya sebelumnya adalah pembelajaran yang tidak menyenangkan. 

Hal tersebut bertambah menjadi lebih parah kalau orang tua atau wali murid juga melakukan tekanan kepada anaknya. 

Semakin menjadi lebih parah lagi kalau orang tuanya juga tertekan karena egonya menuntut anaknya harus lulus dan menjadi yang dengan target menjadi yang terbaik.

Apakah hal tersebut sesungguhnya terjadi? Dan apakah juga terjadi saat pembelajaran online selama masa wabah Covid? 

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis melakukan survey secara online pada 10 sampai 26 Juni 2020. Survey ini penulis lakukan secara random di seluruh Indonesia melalui jejaring mahasiswa untuk menyebarkannya kepada wali murid. 

Total responden berjumlah 775 orang. Hal ini terjadi terutama pada anak didik yang masih belajar di tingkat TK/RA sampai SMP/Tsanawiyah.

Pertanyaan survey yang penulis ajukan adalah apakah Bapak/Ibu setuju dengan "Bisa atau tidak anak saya harus lulus atau mendapat nilai yang bagus". 

Hasilnya menunjukkan 42,1% menyatakan setuju. Hal ini menunjukkan bahwa wali murid melakukan tekanan kepada anaknya yang sedang ujian secara online. 

Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara dengan 3 orang guru yang menyatakan bahwa saat ujian online secara live menggunakan WhatsApp seringkali terdengar arahan-arahan dari orang-orang di sekeliling peserta didik. 

Untuk mendalami lebih lanjut, penulis menanyakan kepada guru apakah ada perbedaan hasil ujian dengan kenyataan yang selama ini diketahui dari murid. Jawabannya menunjukkan bahwa memang terjadi perbedaan hasil ujian dengan kenyataan murid saat masih ujian luring.

Melihat hasil survei tersebut, sangat penting untuk menyosialisasikan kepada wali murid yang anaknya belajar di tingkat TK/RA sampai SMP/Tsanawiyah tentang kesadaran bahwa ujian/ulangan adalah evaluasi untuk perbaikan secara terus menerus. 

Baca Juga : Puasa sebagai Tirakat Menggapai Kemuliaan Bangsa

Hal ini berarti evaluasi pada dasarnya adalah untuk kebaikan peserta didik, agar tuntas dalam belajar. Karena sesungguhnya ujian adalah aktivitas mengukur perolehan kemampuan peserta didik, baik berupa pengetahuan, karakter, atau perilaku. 

Merdeka Belajar Mampu Menjawab Permasalahan Evaluasi?

Kebijakan pendidikan di masa yang akan datang akan mengubah sistem evaluasi. Tidak lagi seperti yang dilaksanakan dan dikenal selama ini. Evaluasi akan dilakukan untuk memetakan bakat dan minat peserta didik dan survey karakter. 

Hal ini didasari bahwa peserta didik memiliki keunggulan masing-masing dan peningkatan karakter didasarkan pada pengembangan karakter berani, mandiri, cerdik dalam bergaul, beradab, sopan, berkompetensi.

Apakah sistem baru Merdeka Belajar akan mampu menghapus atau menetralisir tekanan-tekanan yang dialami peserta didik dan tekanan orang tua terhadap anaknya. 

Penulis berasumsi bahwa tekanan-tekanan psikologis kepada peserta didik tidak bisa dihilangkan hanya dengan mengubah sistem evaluasi, namun diperlukan penyadaran secara sistematis dan sistemik kepada wali murid dan guru tentang evaluasi adalah proses menilai untuk mendapatkan umpan balik bagi perbaikan/peningkatan kemampuan peserta didik. 

Ujian tidak lagi mencekam karena wali murid akan mendorong sering diadakan ujian, karena mereka menyadari ujian adalah evaluasi yang bagaikan anaknya rajin diperiksa oleh dokter dan mendapatkan nasehat-nasehat dan obat bagi penyakitnya. 

Wali murid menyadari sepenuhnya bahwa evaluasi adalah proses meneliti apakah bekal-bekal untuk menghadapi tantangan masa depan sudah dimiliki anak-anak mereka.

 

*Penulis adalah Dosen pada Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Islam Indonesia dan Pengasuh Majelis Dzikir dan Taklim Ya Badi’ Yogyakarta.