Dosen Universitas Islam Indonesia dan Pengasuh Majelis Dzikir dan Taklim Ya Badi' Yogyakarta
Dosen Universitas Islam Indonesia dan Pengasuh Majelis Dzikir dan Taklim Ya Badi' Yogyakarta

MALANGTIMES - Penundaan Pemberangkatan Jemaah Haji Indonesia Tahun 2020 sudah jelas menjadi keputusan Pemerintah RI. Calon jemaah haji tidak usah berkepanjangan gelo ati. 

Baca Juga : Ramadan: Tempat Jiwa Kembali Pulang

 

Kegagalan berangkat tahun ini bukan aib pribadi maupun bangsa dan negara ini. Sebagai pribadi maupun sebagai bangsa hendaknya bisa mengambil hikmah untuk berbenah diri menghadapi masa berhaji pada saatnya nanti.

Mengapa mengambil hikmah ini penting? Karena itulah yang dapat dilakukan daripada menyesali keadaan atau bahkan mengutuk pemerintah atau Covid-19. 

Penerimaan dan mengambil hikmah ini adalah sesuatu yang diperintahkan oleh Allah SWT, yang berarti merupakan aktivitas ibadah. Tentu ibadah pasti memberikan nilai tambah karena ketaatan kepada Allah SWT, tidak ada yang sia-sia. 

Bagi yang belum mampu menerima keputusan ini, bersegeralah belajar agar segera pula mampu mengambil hikmahnya. 

Di antara hikmah yang bisa diambil adalah perpanjangan masa persiapan upaya atau ikhtiar mendapatkan kemabruran haji.

Imam Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menyebutkan ada 3 (tiga) tanda utama Haji Mabrur, yaitu: (1) zuhud terhadap dunia; (2) senang akhirat, dan (3) mempersiapkan diri bertemu Pemilik Baitullah yakni Allah SWT.

Ketiga hal ini adalah bangunan penting yang seringkali tidak mampu dibangun hanya dalam waktu 40 hari selama perjalanan berangkat ke tanah suci sampai pulang ke tanah air kembali. Perlu pondasi yang kokoh, kesadaran, dan tafakkur yang mendalam.  

Pondasi Kemabruran Haji
Pondasi dari ibadah haji adalah ketaatan sebagai hamba dan menghamba sepenuhnya kepada Allah SWT. Sepatutnya hamba yang menghamba sepenuhnya, maka ego diri berupa kekuatan badan, kecerdasan akal, dan kesaktian batiniah harus diletakkan pada posisi nol (0). 

Ketidakmampuan meng-nol-kan ego ini akan menjadi penghalang kemabruran, bahkan sudah sering kali sudah terlihat dalam proses berhaji itu sendiri. 

Hal tersebut terlihat dari pengalaman banyak jemaah haji yang mengalami kejadian sebaliknya saat mengandalkan kekuatan dirinya, bukan menyandarkan dirinya kepada Allah Swt. Beberapa pengalaman yang diceritakan menyebutkan bahwa: seorang jemaah haji yang mengandalkan badannya, malah harus menjadi beban temannya; seorang tua yang renta atau punya sakit, dengan tiba-tiba menjadi sosok yang kuat dan lincah ketika tiba di tanah suci; seorang ahli manajemen tertatih-tatih untuk menyelesaikan manasiknya, kalah dengan jamaah berasal dari desa yang ‘nderek mawon’; seorang yang banyak ilmu batinnya berputar-putar tersesat jalan kembali ke maktabnya. Wallohu A’lam.  

Pelajaran dari pengalaman-pengalaman ini adalah meneguhkan pelajaran agar jamaah haji berposisi sebagai hamba dan menghamba kepada Allah SWT sepenuhnya.   

Pelajaran yang lain dapat dipahami dari: (1) Ka’bah saja yang disebut Rumah Allah kalah megah dengan Grand Zam-zam Tower, namun tidak ada seorangpun yang berangkat ke tanah suci demi Grand Zam-zam Tower; (2) Tawaf yang memutari Ka’bah 7 kali dengan pakaian ihram seakan kembali meneguhkan bahwa orang berhaji adalah agar lebih mendalami realitas dirinya yang hamba dan sedang menghamba; (3) Begitu juga sa’i, tahallul/bercukur, menginap di Mina dengan tenda dan Muzdalifah tanpa tenda (padahal banyak hotel nyaman), wuquf di Arafah, lempar jumroh, bahkan memakai wangian pun dilarang. Benar-benar mengingatkan jamaah haji pada melepas ego dirinya, bersimpuh segenap jiwa dan raga di hadapan Allah Swt.

Tanda Mabrur 1: Zuhud terhadap Dunia
Menghikmati pondasi kemabruran tersebut di atas, seyogyanya akan memunculkan kesadaran bahwa akhir dari kehidupannya adalah akhirat. Tidak ada seorangpun yang bisa menolak untuk kembali ke akhirat. Akhirat adalah kepastian. Oleh karenanya kehidupan di dunia ini adalah ladang buat kehidupan di akhirat.

Baca Juga : Keselamatan Negeri ini Bersandar pada Doa

 

Kesadaran ini membawa seseorang menggunakan anugerah-anugerah yang dikaruniakan Allah SWT untuk kepentingan akhiratnya. 

Di titik inilah seseorang disebut sebagai zuhud terhadap dunia, yaitu menggunakan dunianya untuk kepentingan akhiratnya. Tanda nyata kezuhudan adalah “tidak jumawa saat berpunya, dan tidak sengsara ketika tak berpunya”. Pemahaman tentang zuhud yang salah adalah “tidak senang dengan dunia, maka tidak perlu kerja keras”. Kesadaran-kesadaran ini agar menjadi pengamalan memerlukan belajar ngelakoni dan pendalaman berupa tafakkur.

Tanda Mabrur 2: Senang Akhirat
Seorang yang beriman dan disertai rasa penghambaan akan memunculkan zuhud terhadap dunia dan menumbuhkan senang kepada akhirat. 

Senang dengan akhirat di dunia ini wujud konkretnya adalah membingkai semua aktivitasnya untuk kepentingan akhirat, seperti: kerja adalah bersyukur kepada Allah SWT atas karunia kesehatan dan ilmu/keahlian yang diamanahkan Allah SWT, memarahi anak adalah meluruskan kesalahan anak agar terhindar dari kedurhakaan kepada Allah SWT, bersikap simpati kepada sesama adalah wujud akhlakul karimah, dan sebagainya.

Tanda Mabrur 3: Persiapan bertemu Pemilik Baitullah (Allah SWT)
Bagi orang beriman, selain dianugerahkan surga juga akan mendapatkan kebahagiaan tiada tara, yaitu memandang Allah SWT: 

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhan-nyalah mereka mmemandang.” (QS. Al-Qiyamah/75: 22-23). 

Kenikmatan ini diberikan kepada orang-orang mukmin yang mendapat anugerah ihsan dalam ibadahnya. Rasulullah SAW bersabda: “Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.”

Pondasi kemabruran haji dan tanda-tandanya bukan suatu yang sederhana dan dapat diupayakan/ikhtiar dalam waktu singkat. Perlu pemahaman dan mungkin perlu bertanya serta berdiskusi dengan para ulama atau kyai. 

Oleh karenanya penundaan pemberangkatan ibadah haji tahun 2020 adalah merupakan kesempatan untuk belajar ngelakoni dan mendalami kesadaran dengan tafakkur mendalam. 
Wallohu A’lam.

Penulis adalah Dosen Universitas Islam Indonesia Yogyakarta dan Pengasuh Majelis Dzikir dan Taklim Ya Badi’ Yogyakarta.