Nurbani Yusuf
Nurbani Yusuf

MALANGTIMES - "Inilah bid’ah paling nikmat," kata Sayidina Umar Ibnul Kathhab ra usai beliau salat tarawih berjemaah di masjid yang barusan ia putuskan untuk dilaksanakan. Apa pasal?

Baca Juga : Keselamatan Negeri ini Bersandar pada Doa

Ni’matu bid’ah hadzihi, ini pernyataan sangat menarik. Sebuah inovasi dalam hal beribadah (bid’ah) yang sebelumnya tidak pernah ada, baik pada zaman Nabi SAW atau masa khalifah Abu Bakar ra. Cara cerdas hidupkan malam di bulan Ramadhan.

Nabi SAW pernah bersabda kepada salah seorang sahabatnya ini: "Andai ada nabi sesudahku maka Umarlah orangnya."
Bukan pujian atasnya, hanya semacam penilaian atas karakter, kepribadian yang cerdas, kokoh dan kuat yang ada dalam diri Sayidina Umar Ibnul Khattab ra.

Saya tak hendak masuk pada wilayah ikhtilaf yang sudah diperdebatkan puluhan tahun tak kunjung selesai ini. Para ulama
nahwu ribut tentang kata kullu apakah bermakna semua atau sebagian. Yang kemudian melahirkan dua disparitas ekstrim: semua bid’ah adalah sesat dan tidak semua bid’ah itu sesat. Ada yang hasanah dan ada yang sayyiah padahal bermula dari pangkal kata yang sama. Tidak cukup perbedaan ini kemudian juga melembaga dalam bentuk kawanan yang saling menafikan bahkan tidak jarang saling menyesatkan.

Saya hanya ingin bilang bahwa wabah virus cofid 19 telah membawa kita kembali ke masa awal Islam ketika salat tarawih di masjid masih tiada dan ketika para sahabat mengerjakan di rumah masing-masing setiap sepertiga malam terakhir.

Kita kembali ke titik nol, mungkin itu pesan kuatnya. Semacam pusaran sebagai titik episentrum spiritualitas keberagamaan kita. Bahkan mungkin pada wilayah Rubbubiyahnya untuk tidak menyeret kita pada ranah paling praksis bahwa beragama bukan hanya tentang jumlah bilangan, ruang dan waktu.

Tapi siapa mau mengerti? Bukankah sebagian besar para abid (ahli ibadah) adalah para pemburu ‘imbalan’ atas segala yang telah dilakukan untuk Tuhan? ibadah selalu bermakna mengejar atau mengumpulkan  ‘pahala’ atau tentang balasan atas segala yang sudah diberikan pada Tuhan.

Baca Juga : Pancegahan Covid-19 Melawan Syariah Nabi?

Apa ini yang disebut beragama dengan sistem transaksional? ‘Jual beli’ dengan Tuhan. Apa yang aku dapatkan setelah aku menyembah? Tidak ada yang gratis buat Tuhan, sebab kita selalu meminta pembalasan.

Bisakah Ramadhan kali ini menjadi semacam washilah untuk tarbiyah, merendahkan diri di hadapan yang Maha Tinggi dan membuka ruang perjumpaan dengan Tuhan di dalam hati. Pada setiap sudut malamnya adalah mi’radz. Memulai dari yang fana dan ketiadaan menuju yang abadi.

‘Menyatu dengan kehendak Tuhan’ salah satu cara untuk mendapat ridha barangkali bisa menjadi alternatif, sehingga tidak menempatkan amal saleh sebagai keterpaksaan dan ibadah hanya sebagai pemenuhan kewajiban,
karena meninggalkannya bakal diancam dengan hukuman. Cara berpikir ini memang tak lazim apalagi di kalangan para fuqaha, pasti akan dicap macam-macam. Perspektif ini memang tak mudah kecuali bagi mereka yang mau berpikir (Al baab) dan yang diberi keberuntungan besar. Wallahu taala a’lm.

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar