Herry Supriyadi
Herry Supriyadi

MALANGTIMES - Hampir 5 bulan lamanya Virus Corona mewabah, sejak awal kemunculannya di Kota Wuhan Provinsi Hubaei, China. Hingga dalam rentan waktu yang relative singkat virus mengerikan ini sudah membuat heboh dunia. Hampir seluruh Negara termasuk Indonesia sendiri tengah kelabakan menghadapi kasus yang serupa. Berbagai cara dilakukan demi untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 itu.

Baca Juga : Orang Indonesia Tak Pernah Kalah dengan Corona

Peran aktif pihak pemerintah menjadi ujung tombak demi mencegah penyebaran pandemik corona di negeri ini terus dilakukan.  Dengan menerbitkan peraturan pelarangan kontak sosial (Social Distancing) yakni mengurangi aktivitas di luar rumah akibat kian meningkatnya kasus Covid-19 yang terus memakan korban jiwa. Sesuai data terupdate pada 19 April lalu, jumlah kasus positif corona di Indonesia sebanyak 6.575 pasien. Dan jumlah korban yang meninggal tercatat 582 jiwa. 

Menilik dari angka tersebut, sekalipun belum ada apa-apanya dibanding Negara China dan Italia, sudah bisa dilihat bahwa pandemik corona di Indonesia masih terus menyebar dan terus meminta korban nyawa. Carut marut persoalan pun  timbul di tengah-tengah masyarakat menyusul terbiatnya  kebijakan pemerintah demi menghentikan penyebaran virus corona tersebut. Tidak boleh keluar rumah, padahal mereka harus bekerja untuk menghidupi keluarganya.

Ini dilematis. Tapi ini masalah serius yang menjadi tugas bukan hanya pihak Pemerintah saja, tapi seluruh lapisan masyarakat untuk bekerjasama berjuang melawan  menyebaran covid-19 di negeri tercinta ini, tentunya dengan cara Pemerintah membuat peraturan dan masyarakat harus bisa mentaati dengan segala konsekuwensinya. Dan berdasarkan data di lapangan Isolasi dan pengobatan sudah tersosialisasi terhadap orang yang terpapar Covid-19. Bahkan penerapan Pemutusan Sosial Berskala Besar (PSBB) juga sudah mulai diterapkan di Ibu Kota dan di berbagai daerah. Sekali lagi, ini bukan masalah tidak bisa kerja, tapi demi tujuan yang lebih besar lagi, yakni menyelamatkan jiwa manusia dari ganasnya pandimik Covid-19.  Dan alhasil, masyarakat bersedia mentaatinya.

Di Mata Orang Awam

Berbeda sekali ketika Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tanggal  16 Maret 2020 mengeluarkan fatwa tentang pelarangan tidak boleh sholat berjamaah di Masjid/Musola, bahkan tidak boleh sholat jumat. Fatwa tersebut sekonyong-konyong menimbulkan reaksi di tengah-tengah masyarakat muslim. Sekalipun Fatwa yang dikeluarkan MUI bukan asal-asalan alias merujuk dari berbagai dalil termasuk berkiblat pada fatwa ulama di Mesir, namun di mata masyarakat awam, fatwa yang dikeluarkan MUI terkesan sembrono. Pasalnya, sangat bertentangan dengan syariah Nabi Muhammad SAW. Yang mana sholat wajib dilakukan dengan cara berjamaah di masjid. Begitu diwajibkan sholat jumat. Himbauannya, sholat dilakukan di rumah masing-masing dan untuk sholat jumat diganti dengan sholat dhuhur. Banyak dugaan negatif yang muncul dibenak umat, ada kepentingan yang dimunculkan oleh oknum dari tubuh MUI.

Tolak ukur masyarakat adalah pada keyakinan (Aqidah)saja. Penyakit (Virus corona) juga makhluk Allah yang tidak perlu ditakuti. Manusia hanya boleh takut kepada Allah saja. Seandainya harus meninggal di dalam masjid karena terpapar corona bukankah itu mati yang diharapkan setiap muslim? Mereka berasumsi, umat merasa hendak dijauhkan dengan masjid. Terutama  mereka yang ada di pedesaan protes, namun tidak dengan melakukan demonstrasi ke jalan, melainkan tetap saja melakukan aktivitas beribadah di masjid seperti biasanya. Sekalipun masih saja ada aturan untuk merenggangkan barisan shof sholatnya. Kebijakan MUI sudah dianggap merusak komitmen umat untuk menjalankan syariah ataupun sunah Rasulullah.

Baca Juga : Penerapan PSBB Secara Humanis Tidak Harus Mematikan Ekonomi Rakyat Kecil

Melihat ini, MUI harus tetap menyikapi dengan bijak. Dan adalah tugas ulama atau Ustadz yang tingkat ilmu fiqihnya sudah mumpuni untuk memberikan pecerahan sekaligus pemahaman, bahwa sesungguhnya syariah Islam itu fleksibel yang tetap mengutamakan kemaslahatan umat. Adalah benar, tidak ada yang bisa memberikan satu penyakit kecuali Allah. Dan bahkan, tidak ada kematian yang terjadi tanpa seizin dari Allah.  Di mata Aqidah itu benar dan kita harus yakin. 

Namun ingat, masalah covid-19 bukan masalah spesifik yang cukup dilihat dari masalah Aqidah saja. Ada hukum fiqihnya juga, yang mana kita sebagai manusia wajib mengimplementasikan dalam bentuk “mencegah lebih baik dari pada mengobati.” Karena itu sebagai tindakan nyata untuk berikhtiar. 

Sebenarnya masalah di atas itu sangatlah wajar. Indonesia mayoritas muslim, dengan berbagai latar belakang tingkat keilmuan yang berbeda. Karena secara langsung ini berkaitan dengan syariah. Fatwa MUI sama sekali tidak punya tujuan ingin menentang syariah atau sunah Rasulullah. Kasus Covid-19 bukan masalah lokal, tapi musibah dunia. Yang harus ditangani secara serius. Dalam Al-quran justru Allah melarang, “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS Baqarah 194). Konsepnya adalah (Islam) “Ramatan Lil’alamin”. Islam tidak mempersulit umat melakukan berbagai kegiatan apapun, terumasuk dalam beribadah. Satu misal, ada orang mendirikan sholat dengan berbaring. Jelas itu melanggar syarat dan rukun sholat. Tapi itu boleh dilakukan bagi orang yang sedang sakit. Dan Negara kita saat ini sedang menderita sakit yang luar biasa akut.

Wabah penyakit menular bukan terjadi saat ini saja, sejarah Islam menunjukkan bahkan jaman Rasulullah  pun sudah ada wabah pandemik. Apakah saat itu Rasulullah cukup pasrah dan berdoa saja supaya wabah penyakit diangkat Allah? Tidak. Rasulullah juga melakukan pencegahan-pencegahan sebagai mana diceritakan dari berbagai hadist. Jadi naïf, jika ada orang Islam terlalu meremehkan adanya wabah penyakit dan mengaggap fatwa  yang dikeluarkan oleh pihak MUI sangat bertentangan dengan syariah dan sunah Rasulullah.

Mari kita tetap saling mendukung untuk mengatasi masalah virus corona ini. Dan terus berdoa suapaya wabah ini segera diangkat Allah SWT. Adanya wabah Corona yang melanda dunia, merupakan salah satu tanda-tanda kebesaran-Nya. Dan kita harus yakin, Allah sudah memepersiapkan pahala besar di balik  bencana ini. Aamiin…