Mahasiswa FISIP, Ilmu Pemerintahan. Universitas Muhammadiyah Malang
Mahasiswa FISIP, Ilmu Pemerintahan. Universitas Muhammadiyah Malang

MALANGTIMES - Mungkin narasi awal saya mengenai buku, kamar kos dan warung kopi memang tidak bisa saya kesampingkan atau saya lepaskan 3 elemen tersebut, karena dalam proses kehidupan saya terutama dalam beberapa tahun terakhir memang sudah menyumbangkan ide, literasi dan gagasan yang cukup positif bagi diri saya sendiri guna menunjang kualitas kehidupan yang lebih baik.

 

Karena sebelum saya mengenal buku dan ngekos saat kuliah mungkim hidup saya bisa di bilang seperti abstrak hehe kenapa saya bilang begitu? Karena saya seperti tidak mempunyai beberapa tujuan , tidak mempunyai plening, apakah beberapa tahun ke depan saya seperti apa. Istilah nya imajinasi saya pada saat itu stagnan karena tidak pernh membaca buku yg di mana buku tersebut dapat meningkatkan kemampuan dalam berpikir di kehidupan sehari-hari, selain itu tidak ada tempat ke dua yg bisa saya jadikan ruang imajinasi selain rumah, karena paradigma saya saat itu hanya rumah lah tempat terbaik baik bagi saya untuk berpikir.

 

Setidaknya kurang lebih ketika saya kuliah dan ngekos, saya berpikir apakah saya akan menjadi orang sibuk di dalam birokrasi kampus ataukah menjadi mahasiswa kupu-kupu? Hampir mayoritas teman saya mengikuti organisasi ekstra maupun intra, disitu saya bingung apakah saya mengikuti mereka ataukah mengikuti kemampuan saya sendiri, akhirnya saya rubah paradigma tentang mahasiswa kupu-kupu yg di mana mayoritas mahasiswa lain mengatakan bahwa mahasiswa kupu-kupu itu tidak mampu menggunakan waktu sebaik mungkin, tidak bisa kuliah maksimal karena hanya rebahan dsb.

 

Akhirnya saya putuskan untuk merenung di dalam kos kamar sambil membaca buku favorit saya pada waktu itu, lalu asumsi dalam pikiran saya muncul bahwa proses literasi, proses belajar, ataupun proses me-manajemen waktu itu datang dari sendiri yang paling dasar, bukan lewat ajakan teman untuk masuk organisasi, semua ada cara nya sendiri bak air putih yang di tuang dalam gelas warna nya bisa beda namun aslinya air tetap berwarna putih. Itu sama hal nya dengan kita yg punya paradigma bahwa masuk organisasi lah yang bisa mengatasi kehidupan kita yg dulu nya abstrak menjadi lebih aktif, sebetulnya sama saja mau masuk organisasi ataupun tidak itu tidak masalah untuk menjadikan anda mahasiswa yg aktif karena di organisasi pun sama kalian di ajarkan kepemimpinan dsb itu sama hal nya dengan anda me-manajemen waktu ketika anda di kos karena sebelum anda dapat memimpin seseorang apakah anda sudah bisa memimpin diri sendri? Disitulah anda harus dapat berpikir lebih matang.

 

Maka dari itu aku yakin bahwa semua mahasiswa itu punya jalan sendiri dan tujuan yang sama yaitu sebagai agen perubahan bangsa, untuk itu saya sangat amat gembira mengenal yang nama nya buku di situ saya bebas untuk berpikir, saya bebas untuk bermesraan, bebas ber-imajinasi tanpa batas untuk menemukan sesuatu yang belum pernah saya temukan dalam kehidupan yang sangat luas ini, dengan buku pun saya mengenal arti me-menejemen waktu, karena selama ini setiap hari saya mengatur waktu antara membaca, nulis di note, maupun hal lain nya dalam sehari-hari tanpa mengikuti paradigma orang lain. Karena bersama buku saya pun merasa sangat bebas.

 

Selain itu kamar kos yang menjadi primadona mahasiswa selalu memberi dampak yang positif bagi mereka yang hidup nya haus akan berpikir atau ilmu pengetahuan , jika orang lain mengatakan kamar kos hanya di jadikan istirahat dan tempat tidur saja maka bagi saya enggak semuanya punya asumsi begitu, karena bagi saya sendiri kamar kos lah awal mula ide itu muncul dan tujuan demi tujuan tercatat dalam kamar kos, bahkan faunding father kita Ir. Soekarno pernah ngekos di Jl. Peneleh rmh HOS Tjokroaminoto sejak tahun 1907, disitulah ide kemerdekaan beliau mulai nampak, beliau pun berkata "di kamar kos lah saya belajar pondasi semangat berpidato untuk membangun semangat nasionalisme", maka secara garis historis kita patut berbangga sebagai anak kos. Karena kamar kos telah melahirkan pemimpin - pemimpin bangsa yang hebat dan berjiwa revolusioner.

 

Namun disisi lain secara gk langsung memang sebagai mahasiswa saya tidak akan bisa lepas dari buku atau pun kamar kos, ibarat nya sepasang suami istri yang selalu setia menemani hehe, selain itu masih ada warung kopi yang akan menemani hari-hari saya guna menunjang literasi agar selalu mengedepankan rasional yang rasionalitas. Kenapa saya bilang begitu? Karena terkadang dalam benak pikiran kita saat mendengar kata "warung kopi" jelas hanya nongkrong saja, bagi saya pun bukan sekadar nyeruput pahit manisnya kopi melainkan diskusi - diskusi kecil dapat tercipta forum di warung kopi, ataupun baca buku di warung kopi pun nampaknya sangat asik karena dengan begitu kita bisa langsung adu argumen dengan teman kita sendiri mengenai isi bacaan yang telah kita baca, dan disitu kita akan menemukan titik kontradiksi dengan kesimpulan yang berakhir sangat manis.

 

Selain itu di warung kopi selalu tercipta sisi kekeluargaan yang bisa di bilang erat sekali, antara pemilik warung dengan pengunjung maka dari itu pengalaman saya sebagai mahasiswa beberapa tahun ini bisa di bilang lebih berwarna karena dengan keyakinan, ketekukan, dan menepis beberapa konstruktivisme dalam paradigma mahasiswa saya pelan-pelan lewati, karena saya percya setiap insan punya perjuangan dan mimpi sendiri - sendiri yang puncaknya berguna bagi sesama kita