Foto Istimewa
Foto Istimewa

MALANGTIMES - Merebaknya tempat hiburan malam di Kota Malang tak bisa dihindari lekat dengan stigma negatif. Melihat kondisi ini, para aktivis mahasiswa mulai tergerak dengan mengecam keberadaan tempat hiburan malam yang dinilai meresahkan publik. Bagaimana tidak, tempat hiburan di Kota Malang kian mendekati dan mengepung pusat pendidikan dan tempat peribadatan (malangtimes, 9 oktober 2019)

Kelompok masyarakat yang lantang menyuarakan penertiban karaoke dan tempat hiburan malam (THM) di lingkungan pendidikan di Kota Malang salah satunya adalah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Bahkan, para mahasiswa tersebut melakukan survei terkait gangguan yang dirasakan masyarakat terkait keberadaan karaoke. 

Menurutnya, tuntutan tersebut bukan asal dicetuskan. Melainkan berdasarkan hasil survei yang sebelumnya dilakukan. Selain itu, masyarakat sekitar juga resah akan keberadaan karaoke yang berada di seputar lingkungan pendidikan. 

Pihaknya juga menyoroti bahwa tempat-tempat hiburan tersebut banyak yang operasionalnya tidak mematuhi izin. "Banyaknya izin usaha yang tidak sesuai dengan kenyataannya, semula izinnya cafe namun kenyataannya menjadi tempat karaoke. Sehingga ini perlu ketegasan," tuntutnya. 

Ada lima tuntutan yang disampaikan HMI Kota Malang dalam pernyataan sikap yang disampaikan pada DPRD Kota Malang. "Pemkot Malang untuk meninjau atau audit izin dan sistem operasional tempat hiburan malam. Di antaranya Next KTV, Doremi, Studio One, Loading dan Triangle," paparnya. 

Apa yang terjadi di Kota Malang ini sebenarnya adalah hal yang lumrah ketika merujuk kepada paradigma berfikir kapitalisme. Dalam sistem kapitalisme ada kebebasan yang harus senantiasa dijunjung tinggi, yaitu diantarnya kebebasan berekspresi sehingga ini menuntut pemenuhan diantaranya dengan menuntut adanya hiburan di malam hari. 

Tempat hiburan malam adalah tempat kehidupan yang muncul dari sistem rusak kapitalis-sekuler. Mereka yang menikmati menjadi konsekuensi logis dari pelarian manusia, setelah disibukkan dan diperbudak mencari dunia. 

Sehingga, tidak mendapatkan ketenangan sedikitpun setelah mendapatkannya. Sistem kapitalis hanya melahirkan ketidaktenangan jiwa, stres hingga depresi, jadi tempat hiburan malam adalah bagian dari sistem kapitalis sekuler. 

Sistem kapitalis sekuler juga memberikan konsekuensi bahwa agama bukan lagi standar yang bisa digunakan untuk menentukan apakah persoalan itu boleh dilakukkan atau tidak, karena sudut pandang yang digunakan adalah apakah perbuatan tersebut menghasilkan kentungan atau mampu memberikan nilai materi di dalamnya. 

Tidak bisa dipungkiri tempat hiburan malam memberikan masukan terhadap pajak yang signifikan, ini yang menyebabkan banyak pemerintah daerah yang gamang ketika hendak menutupnya karena khawatir pendapatan daerah akan berkurang. 

Seperti diberitakan dalam Surabaya.bisnis.com pajak hiburan kota Malang dengan target Rp 8,5 miliar, penerimaan sampai saat ini telah menyentuh angka Rp10,7 miliar (126,5%). Dengan ini kita bisa menyadari maka ketika sistem kapitalisme terus dijadikan sebagi tolak ukur, maka selama itu pula kebebasan akan menemukan jalannya.

Adapun mengenai kebebasan, maka dalam Islam tidak mengungkung kretaivitas manusia, bahkan islam tidak menghalang-halangi manusia menyalurkan kebutuhan jasmani dan nalurinya, namun demikian Islam memberikan batasan-batasan. 

Jelas sekali bahwa perilaku seseorang tidak boleh bertentangan dengan fitrah manusia yang senantiasa ingin melakukan kebaikan sesuai perintah agamanya, Rasulullah melarang dan menghukum  peminum khamr, walaupun yang diminum khamrnya sendiri dst.

 

 

Hanik Syukrillah, M.Si
(Pembina Komunitas Remaja Malang)