Drs. Sidik Priyono, Kepala SMKN 6 Malang.
Drs. Sidik Priyono, Kepala SMKN 6 Malang.

Dalam menghadapi tantangan di era Revolusi Industri 4.0, diperlukan manusia Indonesia yang punya etos integritas, kerja keras, dan semangat nasionalisme. Untuk menyiapkan manusia Indonesia yang memiliki karakter-karakter seperti itu, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memiliki andil yang besar.

Berbicara mengenai revolusi industri tak bisa dilepaskan dari keberadaan SMK yang merupakan garda ke depan dalam menyongsong era revolusi industri yang tengah kita hadapi. Kita tahu, secara kurikulum, siswa SMK lebih disiapkan untuk siap bersaing di dunia kerja.

Namun faktanya, sebagian dunia industri masih menganggap bahwa lulusan SMK belum siap kerja (baru siap latih). Alasan ketidaksiapan lulusan SMK dalam bekerja ini salah satunya dipengaruhi atas kurang optimalnya proses pembelajaran yang berwawasan dunia industri. Kebiasaan belajar-mengajar di sekolah masih terkonsep dunia sekolah. Artinya, jauh dari kebiasaan dunia industri.

Tak heran, fenomena yang saat ini kerap ditemukan, lulusan SMK yang baru menginjakkan kaki di dunia industri tak lama keluar karena "kaget" dengan dunia industri itu sendiri.

Untuk itu, SMK perlu melakukan pembinaan karakter kerja untuk siswanya agar mereka siap berbaur dalam lingkungan industri. Tujuannya, bukan hanya menyiapkan kemampuan mereka belaka, melainkan juga mempersiapkan mental yang kuat. Pembinaan karakter bagi siswa SMK ini nantinya menjadi aspek penting dalam menghasilkan lulusan yang mampu bersaing dan berhasil dalam pekerjaannya nanti.

Dalam pembinaan karakter ini, siswa SMK dipersiapkan untuk menghadapi real job yang ada di dunia industri. Mulai dari pembinaan ketahanan mental, disiplin kerja, ketahanan fisik, perilaku positif, hingga pengembangan wawasan kerja di industri.

SMKN 6 Malang sendiri sudah mulai melakukan penggemblengan pendidikan karakter untuk mempersiapkan lulusannya ke dunia industri ini. Salah satunya, yakni melakukan pendidikan berbasis ketarunaan (seperti halnya SMA Taruna Nala) yang saat ini sedang diterapkan pada siswa kelas 10.

Pendidikan ketarunaan dirasa perlu untuk membentuk karakter siswa yang tangguh dan cinta bangsa untuk mendukung pendidikan nasional. Selain itu, pendidikan ketarunaan saat ini juga disukai dunia industri. Sebab, anak-anak jadi terbangun kedisplinan dan tanggung jawab. Hal ini juga sesuai dengan harapan pemerintah Provinsi Jawa Timur, yakni SMK yang bersistem ketarunaan untuk pembinaan karakter siswa.

Pendidikan ketarunaan ini terlihat dengan adanya apel pagi dan apel sore. Apel pagi dimulai pukul 06.00 WIB. Sementara proses pembelajaran dimulai pukul 06.30 WIB. Sore hari sebelum pulang pun juga ada apel sore. Hal ini dilakukan guna melatih kedisiplinan siswa.

Menyeriusi pembinaan karakter ini, SMKN 6 Malang juga sudah mulai menggandeng beberapa industri. Salah satunya dengan Hotel Swiss-Bellin Malang. Di sini juga dilaksanakan program Hotel Engineering, di mana anak-anak bisa belajar dengan dual system, belajar teori di sekolah dan praktik di industrinya langsung.

Tak hanya dengan Swiss-Bellin, SMKN 6 Malang juga bekerja sama dengan PT. United Tractors (UT) Tbk, distributor peralatan berat terbesar dan terkemuka di Indonesia yang menyediakan produk-produk dari merek ternama dunia seperti Komatsu, UD Trucks, Scania, Bomag, Tadano, dan Komatsu Forest.

Sejak 2012, UT telah menghibahkan beberapa alat guna bertujuan untuk memfasilitasi media pembelajaran siswa pada kelas teknik alat berat, sehingga siswa tak hanya membayangkan saja, melainkan bisa belajar secara langsung dengan alat-alat tersebut.

Tak hanya itu, susana khas industri juga siswa rasakan langsung di kelas dengan adanya wallpaper besar yang menutupi dinding kelas bergambar alat-alat yang akan mereka temukan di dunia kerja, seperti excavator, dozer, dan lain-lain. Hal dimaksudkan agar siswa bisa memiliki bayangan secara nyata apa alat-alat yang mereka hadapi nanti ketika memasuki dunia kerja.

Selain itu, pada jurusan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL), SMKN 6 Malang juga telah bekerja sama dengan PT. RetGoo Sentris Informa dalam hal pembinaan karakter tiap hari Jumat siang dan Sabtu pagi. Bentuknya juga dengan dual system, materi pembelajaran dan juga praktik di industri.

Berbagai pembinaan karakter pada siswa di SMKN 6 Malang ini dilakukan untuk menjawab tantangan revolusi industri ke depan. Selain itu, setiap tahunnya, banyak industri yang melakukan rekrutmen lulusan SMKN 6 Malang. Jadi harapannya, dengan adanya pengenalan industri melalui berbagai program pembinaan karakter kerja itu tadi, anak-anak bisa tangguh dan sukses dalam menjajaki karirnya di dunia industri kelak.

Ke depannya lagi, apabila semua sudah benar-benar berbasis industri, SMKN 6 Malang akan menghadirkan mes atau asrama untuk para siswa. Jadi, sekolah akan mengkondisikan apa yang diinginkan industri. Anak-anak dididik disiplin, berdedikasi, dan tepat waktu, baik saat bekerja maupun istirahat. Sebagai catatan, kita tidak akan mengatur siswa layaknya robot. Melainkan lebih ke arah penyiapan mental anak di dunia industri. Hal ini dilakukan untuk menguatkan pembinaan karakter siswa tersebut. Apabila hal seperti ini tidak dilakukan sejak mereka dini, maka siswa nanti akan kesulitan lantaran tidak siap mental terjun di dunia industri.

Untuk itu, SMKN 6 Malang sudah siap dengan segala ide-ide dan pengejawantahannya untuk menjawab tantangan industri. Pertanyaannya, apakah industri juga siap membantu?

Sebab, keuntungan yang akan diterima industri bukan main-main. Mereka akan menerima karyawan yang siap kerja dengan mental yang tidak main-main. Maka nantinya industri tak perlu lagi sulit-sulit mengadakan diklat. Tak perlu pula terus mencari karyawan lantaran cepatnya perputaran roda masuk keluarnya karyawan. Beban industri jelas akan jauh lebih ringan.

Tak hanya keuntungan yang mereka dapat, pemerintah pun kian menegaskan bahwa industri harus turut membina SMK dalam rangka revitalisasi SMK apabila tak ingin mendapatkan sanksi.

SMKN 6 Malang pun membuka tangan selebar-lebarnya. Industri bisa memulainya dengan melakukan training guru SMK agar nantinya guru tersebut bisa mendidik siswa sesuai dengan apa yang diinginkan industri. Bisa pula ditambah support alat yang mau dipraktikkan sehingga nantinya pembelajaran bisa sinkron dengan praktik di industri.

Tentu, program ini akan begitu menguntungkan SMK dan industri jika bisa terkondisi bertahun-tahun dan tidak sekali jalan. Beban diklat industri dan kerugian yang lain juga akan hilang sehingga industri nanti hanya tinggal memanen buahnya. Namun, program seperti ini tidak akan berjalan tanpa dukungan dari pihak industri itu sendiri. Sekali lagi, SMKN 6 Malang siap menjalankan. Apakah industri siap menerima outputnya?