Fathul Bari, Mahasiswa Pascasarjan Universitas Negeri Malang Jurusan Pendidikan Geografi
Fathul Bari, Mahasiswa Pascasarjan Universitas Negeri Malang Jurusan Pendidikan Geografi

Masyarakat Madura tersebar luas diseluruh pelosok negeri bahkan juga ada di luar negeri. Tercatat jumlah masyarakat Madura mencapai hampir delapan juta diseluruh Indonesia. Terbesar pertama jumlah penduduknya berada di Jawa Timur. 

Kedua berada di Kalimantan Barat sekitar dua juta populasi. Sebagiannya lagi tersebar diseluruh beberapa daerah di Indonesia. Mereka merantau dengan tujuan karena tuntutan ekonomi dan sebagian berniat mencari pengalaman. Merayakan Maulid Nabi dilakukan umat Islam setiap tahunnya. Perayaan tersebut dilaksanakan sebagai bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad S.A.W. 

Setiap suku memiliki cara masing-masing salam merayakannya, tidak terlepas dari nilai budaya yang telah ada secara turun temurun. Suku Madura terkenal dengan ketaatannya terhadap agama Islam. Dimanapun mereka berada selalu menjunjung tinggi ajaran agama. Masyarakat Madura di perantauan mempunyai cara tersendiri dalam rangka merayakan maulid Nabi. 

Nu.or.id

Ketika tiba bulan Maulid semua masyarakat Madura melakukan syukuran. Pada hari pertama perayaan dilaksanakan di Musholla atau Masjid dengan cara berdoa bersama. Seluruh masyarakat disekitar lokasi Masjid atau Musholla berbondong-bondong membawa hidangan makanan untuk didoakan. Kaum perempuan membawa makanan kemudian dikumpulkan menjadi satu di salah satu rumah biasanya rumah yang paling dekat dengan Masjid atau yang menjadi ketua Masjid. Makanan yang dibawa berupa nasi putih dan beragam olahan ayam serta daging sapi. Hidangan yang sering dicari-cari bahkan diperebutkan yakni Kebuli dengan tujuan dapat berkah. 

Kebuli adalah sejenis makanan dari hati ayam yang dipotong kecil-kecil tapi disimpan dalam ketan. Penyajiannya bebentuk kerucut atau orang Madura menyebutnya Rasol. Terdapat uang recehan di setiap nasi orang Madura menyebutnya Selabet. Setelah dikumpulkan menjadi satu tugas para pemuda bergiliran untuk membawa ke lokasi berdoa bersama. Kemudian seorang Ustad bertugas memimpin doa di Masjid atau Musholla. Ketika selesai semuanya berdoa bersama maka tibalah waktunya untuk menyantap makanan yang telah dihidangkan.

Keesokan harinya acara kembali dilakukan namun tidak di Masjid atau Musholla melainkan di rumah-rumah warga. Secara bergantian setiap hari berpindah-pindah dari rumah ke rumah. Hidanganya hampir sama ketika perayaan hari pertama di Masjid. Perbedaanya ketika dirumah warga adalah adanya buah-buahan. Buah yang dihidangkan seperti semangka, nanas, salak dan juga ada timun. Makanan khas lainnya ada kue Kocor (cucur), dodol. 

Sebelum mulai acara sambil menunggu tamu yang lain datang jajanan tersebut dihidangkan kepada tamu yang sudah tiba. Jajanan dinikmati dengan segelas teh atau kopi serta sang tuan rumah mendampingi ngobrol. Setelah semua tamu hadir barulah acara dimulai. Kemudian setelah selesai makan bersama sebelum tamu pulang kerumah masing-masing mereka diberi berkat. Isinya berupa jajanan seperti yang dijelaskan di atas tadi. 

Satu hari biasanya undangan selamatan Maulid bisa dua rumah bahkan bisa lebih. Apabila biasanya malam jum’at melaksanakan yasinan maka diganti dengan merayakan maulid. Kegiatan ini dilakukan secara terus menerus hingga akhir bulan Maulid.

Majalahperwira.com

Itulah sedikit penjelasan mengenai adat orang Madura di tanah perantauan dalam rangka merayakan Maulid Nabi tentunya dengan tujuan meningkatkan keimanan dengan saya syukur. Setiap bagian kegiatan pasti memiliki makna hanya saja penulis belum menemukan makna tersebut namun yang menjadi pelajaran adalah perbedaan adat dan cara kita mengucap syukur. Setiap suku tentu memiliki cara merayakan berbeda-beda namun tetap satu tujuannya. Semoga kita semuanya selalu menghargai adanya perbedaan. Wallahul Muwaffiq ila Aqwamit Tharieq Sumassalamualaikum Warahmatullahi wabarokatuh.

 

Fathul Bari, Mahasiswa Pascasarjan Universitas Negeri Malang Jurusan Pendidikan Geografi