Pemuda dalam Tantangan Revolusi Industri

Berita ini muncul dari berbagai media baik media online maupun media cetak bahwa Indonesia pada tahun 2045 akan mengalami Bonus demografi. Dimana pada saat itu banyak generasi berada pada usia produktif dalam membangun Indonesia kedepannya. Akankah Indonesia akan berada pada puncak kejayaannya? Jawabannya ada pada seorang pemuda, karena masa depan suatu bangsa akan dilihat dari sosok pemudanya hari ini. 

Sebagaimana dalam sebuah syair arab menyatakan “Pemuda hari ini adalah pemimpin dimasa yang akan datang”. Bahkan sang proklamator Ir.Soekarno menyatakan berikan aku 1000 orang tua maka akan kucabut semeru dan akar-akarnya tapi berikan aku 10 pemuda akan kuguncangkan dunia”. Betapa dahsyatnya influence seorang pemuda terhadap perubahan bangsa dan agama.

Sejarah telah membuktikan, ali bin abi thalib adalah seorang pemuda yang selalu menemani dan melindungi rasulullah, Muhammad al-fatih adalah seorang panglima perang pasukan muslim untuk mengalahkan satu imperium yang telah berdiri kokoh selama 11 abad yaitu Byzantium. Bahkan kisah pemuda diabadikan dalam al-quran surah al-kahfi, dimana dalam surah tersebut menceritakan beberapa pemuda yang hidup dimasa pemimpinnya yang dzalim. Kemudian para pemuda menentang pemimpinnya dan melarikan diri hingga masuk kedalam gua dan menetap disana. kemudian Allah menidurkan mereka dan membangunkannya kembali setelah masa kepemimpinan jatuh pada orang beriman. 

Bahkan dalam sejarah pergerakan di Indonesia, tidak terlepas dari pemuda sejak 1906 -1910 dimana seorang Tirto Adhi Soerjo mampu mendirikan Medan Priyayi sebagai media dalam menyebarluaskan pengetahuan kepada masyarakat agar tahu bagaimana watak kolonial belanda yang menciptakan kebodohan terstruktur. Kemudian dilanjutkan dengan lahirnya Boedi Oetomo pada tahun 1911 sebagai organisasi pemuda yang berkerja diranah sosial, ekonomi dan kebudayaan. Hingga singkatnya muncul Perserikatan Nasionalis Indonesia pada tahun 1927 yang didirikan oleh Soekarna dan Tjipto Mangoenkoesomo dan pada tahun 1928 lahirlah kongres pemuda terbanyak dengan sebutan sumpah pemuda. 

Dimana pemuda bersumpah atas dasar tanah air, bahasa dan bangsa Indonesia. Tak hanya sampai disitu peran pemuda dalam bangsa indonesia hingga  pada tahun 1998  gerakan pemuda mampu menumbangkan masa orde baru yang berdiri kokoh selama 32 tahun menuju reformasi. Lebih kurang seperti itulah singkat sejarah transformasi gerakan pemuda.

Namun, sudahkah kita bangkit dari kelalaian dalam membanggakan masa kejayaan dimasa lampau? Karena permasalahan yang kita hadapi hari ini lebih kompleks dan rumit. Mulai dari pendidikan yang mahal, kemiskinan semakin mencekik karena susahnya lapangan kerja, Pelanggar HAM diberi kesempatan menjadi menteri, keberislaman yang ahistoris dan beku, belum lagi persoalan politik yang dibungkus dengan ritual agama sampai pada kapitalisme yang disyariatkan. Korupsi merajalela disetiap lembaga, Ketua DPRD menjadi tersangka, ketua MK dipenjara dan ketua DPD Masuk bui. Seolah tugas pejabat publik bukan mengayomi tapi merampas dan mencuri.  

Gerakan-gerakan pemuda hari ini sedang tertidur pulas dengan gaya hedonismenya, aktivis-aktivis mahasiswa sedang asyik bersendagurau disudut sudut warung kopi, dengan dalih ngobrol pintar hanya untuk mengadu kecerdasan, argumentasinya seolah-olah terlihat gagah dihadapan kawannya. Bahkan beberapa bulan yang lalu betapa banyak gambar yang muncul di media sosial yang menampakan seorang demonstran tapi buktinya belum mampu mencapai segala tuntutan-tuntutannya. Apakah ini dikarenakan semua itu hanya gagah-gagahan yang ditampilkan pemuda?

Mari kita lihat, hasil penelitian UNESCO peringkat literasi Indonesia berada pada urutan ke 62 dari 61 negara dan indeks membaca orang Indonesia  hanya 0,001 artinya diantara 1000 orang hanya 1 orang yang membaca serius. Riset itu bahkan menyatakan anak-anak Indonesia hanya hanya membaca 27 halaman dalam setahun. Namun pada data kominfo hampir 95 % dari penduduk Indonesia menghabiskan waktunya dengan sosial media baik Facebook, Instagram maupun Twiter. hingga tak heran Indonesia akan menjadi negara maya, keadilan dan kemakmuran hanya dalam imajinasi saja. Perkembangan sains dan tekhnologi, revolusi  industri menghilangkan semua hal-hal misteri dibumi ini. hidup memang lebih simple, dunia hanya ada dalam genggaman. 

Tapi mengundang banyak bahaya, kehidupan menjadi semakin liar dan kompetitif bahkan kehidupan semakin beresiko. Alam dieksploitasi, manusia dianggap mesin dan dimensi kehidupan diringkas dalam sebuah kotak kecil yang bisa dibawa kemana mana (HP). Inilah yang melahirkan sifat ketamakan dan kekerasan. Karena sains modern mengedepankan teori evolusi dibandingkan dengan landasan keimanan, padahal al-qur’an telah menorehkan sifat Tuhan sebagai yang maha hidup (Al-Hayy) dan sebagai pemberi kehidupan (Al-Muhyi)

Tekhnologi telah menjadi instrument untuk mencapai segala cita-cita kehidupan. Tuhan hanya menjadi wasilah pelayan kehidupan, bahkan dalam doa sekalipun hanya mementingkan kebutuhan pribadinya. Setiap kepentingan pribadi Tuhan dituntut untuk memenuhinya. Bahkan amalan saja bisa dikuantifikasikan jumlah pahala dan dosanya. Egoisme tumbuh bersama saintisme. Persoalan Iman, Islam dan Ihsan sebagai Trilogi ketauhidan hanya menjadi bahan dialog semata. Padahal Nurcholis Majid pernah berkata Teosentrisme dapat dilihat dalam wujud Antroposentrisme artinya apabila seseorang itu berketuhanan maka dengan sendirinya dia berperikemanusiaan. 

Karena pada hakikatnya manusia adalah hamba(abd) sehingga bentuk penghambaannya adalah ibadah. Buah dari ibadah itu bukan untuk Tuhan melainkan untuk dirinya sendiri. Sehingga yang mebutuhkan Tuhan adalah Manusia.

Dalam hal ini, pemuda sebagai tonggak estafet kehidupan bangsa dan agama. untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur sejatinya dia harus beribadah (Perjuangan) kepada Tuhan. Melalui Rasulnya Tuhan mengutus Muhammad untuk menyempurnakan akhlak, ibadah pertama kali yang harus dilakukan oleh seorang pemuda adalah bagaimana menjadikan dirinya sebagai manusia yang berakhlakul karimah.  

Ditengah carut marut kehidupan yang mengalami krisis moralitas, pemuda harus menjadi manusia yang beradab. Mampu mengedepankan kepentingan masyarakat dibandingkan dengan kepentingan individu, menyeimbangkan antara kejujuran dan kecerdasan. Kemudian ibadah yang kedua adalah Membaca. Karena perintah yang pertama kali disampaikan kepada Muhammad melalui perantaraan malaikat jibril adalah bacalah! (Iqra). Sehingga membaca adalah keharusan yang bersifat teologis. Dengan membaca kita mampu keluar dari segala belenggu kebodohan dan ketertindasan. tidak hanya membaca hal-hal yang bersifat otentik tapi membaca segala lini kehidupan. 

Hanya dengan membaca kita memperoleh sebuah ilmu pengetahuan karena Rasulullah SAW pernah bersabda : “Manusia terbaik adalah seorang mukmin yang berilmu. Yaitu jika dibutuhkan, maka ia berguna bagi sesamanya. Namun, jika tidak sedang dibutuhkan, ia dapat mengurus dan mengendalikan kebutuhan dirinya sendiri”. Hakikat membaca adalah menambah pengetahuan dan pengetahuan yang diperoleh bisa meningkatkan iman dan bacaan yang baik dapat meningkatkan amal. Kebajikan tak akan bisa lahir dari kepatuhan tapi akan lahir dari upaya yang serius dalam memahami apa yang diperintahkan melalui aktifitas membaca. Dan ibadah yang ketiga adalah pemuda harus mampu menyeimbangkan ibadah vertical (Habluminallah) dan Horizontal (Habluminannas). Keterpautan nilai ilahi dalam berkehidupan berbangsa dan beragama. Pemuda hari ini harus menyudahi perdebatan negara islam karena yang dibutuhkan oleh negara ini adalah bagaimana nilai-nilai keislaman terejahwantahkan disetiap sendi-sendi kehidupan. Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam karena dengan ruh-ruh keislamanlah yang mampu membebaskan segala bentuk penindasan bukan dengan negara islam. 

Segala opini, saran, pernyataan, jasa, penawaran atau informasi lain yang ada pada isi/konten adalah tanggungjawab penulis bukan MalangTIMES.com.
Kami berhak menolak atau menyunting isi konten yang tidak sesuai dengan kode etik penulisan dan kaidah jurnalistik.
Kami juga berhak menghapus isi/konten karena berbagai alasan dan pertimbangan dan tidak bertanggungjawab atas kegagalan atau penundaan penghapusan materi tersebut.

Top