Garuda Dililit Naga: dari Buku Merah KPK, Nyai Roro Kidul, sampai Moeldoko

"Jika mengungkap kejahatan diperlakukan layaknya penjahat, berarti anda sedang berada di negeri yang sedang dikuasai penjahat," (Edward Snowden).

Begitulah salah satu warganet dengan akun @HDouboegiez berkicau di Sabtu (19/10/2019) pagi. 

Akun tersebut sedang melempar sebuah sindiran atau memberitahukan kondisi Republik Indonesia saat ini melalui ucapan Snowden. Seorang karyawan  Central Intelligence Agency (CIA) yang menjadi kontraktor untuk National Security Agency (NSA) sebelum membocorkan informasi program mata-mata rahasia NSA kepada pers.

Tak lupa akun itupun menyematkan sebuah tagar yang akan mengingatkan kita pada sebuah kisah tentang Garudeya. Kisah yang berasal dari cerita Samuderamantana yang merupakan salah satu episode dalam wiracarita Mahabarata, yaitu Adiparwa. Garudeya yang sampai saat ini bentuknya bisa kita lihat di Candi Kidal, Tumpang, Kabupaten Malang.

Tagar Garuda Dililit Naga. Begitulah warganet kini ramai memperbincangkannya di medsos. Tagar yang telah tembus sampai 6.157 cuitan sampai saat ini.

Kembali ke kutipan di atas, masyarakat memang sedang 'galau' dengan kondisi saat ini. Berbagai peristiwa politik begitu pekat memayungi persoalan hukum, sosial, budaya, sampai pada urusan beribadah. Ramai. hiruk pikuk dan terkadang terlihat begitu kikuknya.

Orang-orang saling berteriak, mengatasnamakan 'kebenaran' atas pilihannya. Tak lupa untuk mengibarkan 'kebenaran' itu pun, berbagai alat dan instrumen dipakainya. Saling gebuk, saling incar kelengahan sebelum diterkamnya. Saling mendungukan. Saling menjahatkan.

Terbaru dan kembali ramai adalah kasus yang disebut Buku Merah KPK. Buku yang ditemukan oleh petugas KPK di salah satu kantor Basuki Hariman, pengusaha impor daging. Terdakwa kasus suap kepada hakim konstitusi Patrialis Akbar pada Januari 2017 lalu. Terkait  uji materi Undang-Undang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Buku Merah yang berisi catatan transaksi keuangan perusahaan Basuki  kepada sejumlah pejabat. Salah satunya diduga mengalir ke Tito Karnavian saat menjabat Kapolda Metro Jaya, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, dan Kapolri. Buku ini pula yang diduga menjadi salah satu sumber penyerangan kepada Novel Baswedan.

Warganet pun mengkonfirmasi ada permainan politik dalam kasus itu. Sehingga mencuat cuplikan kata Snowden di atas.

Aiek__Yaa berkicau, "Barang bukti dirusak. Korban dicelakai. Pelaku & dalang tak jg terungkap. Keren utk Indonesileaks, Tirto, Tempo, Independen & jurnalis banyak media yg telah investigasi "Buku Merah". 3 thn ditutup, bau smakin kuat," tulisnya, Sabtu (19/10/2019) sambil menyematkan #GarudaDililitNaga.

Tak hanya terkait Buku Merah yang masih misterius dan terus menggelinding. Tentunya dengan pro dan kontra dalam masyarakat. Tentunya juga dengan berbagai 'kebenaran' di satu sisi dan 'kebenaran' lainnya di kutub yang berbeda. Garuda sebagai simbol bangsa pun digambarkan sedang dililit para naga yang dikonotasikan sebagai yang jahat.

Tak hanya terkait Buku Merah, tagar Garuda Dililit Naga pun dipersonifikasikan dengan 'kegilaan' lainnya oleh warganet. 'Kegilaan' yang membuat masyarakat menengok, membicarakan, dan akhirnya kembali melahirkan 'putusan-putusan' bak hakim di pengadilan.

Kegilaan ini lahir dari sosok yang mengaku Presiden Dunia Alam Gaib, Ki Sabdo Jagad Royo. Sosok yang memang cukup kontroversial sepanjang perjalanan duel Prabowo-Jokowi untuk bisa duduk di kursi presiden. Walau mengaku paranormal, Ki Sabdo ini melek teknologi. Maka, aplikasi Youtube pun jadi ajangnya 'bersaksi'. Kesaksian atas desakan suara-suara alam gaib atas akan terjadinya berbagai peristiwa di Indonesia ini.

Tak perlu lama, warganet pun menyerbu. Apalagi Ki Sabdo menyampaikan dalam videonya, dirinya disuruh Jokowi untuk mengamankan pelantikan melalui supranatural. "Nyai Roro Kidul, Jin Kayangan, sudah siap. Mantap. Kalau ada yang mau menghalangi, berhadapan dengan Nyai Roro Kidul dan saya," ucap sang Presiden Dunia Alam Gaib ini.

@YongL4dy pun menyatakan, "Heboh Nyi Roro Kidul dan Nyi Blorong Dipanggil, Jaga Pelantikan Jokowi. Sekalian aja dipanggil pasukan dari negeri wakanda, biar lengkap untuk jaga boneka," ujarnya.

Jokowi. Atas nama itu, sampai saat, mungkin masih banyak yang merasa gatal kalau namanya disebut. Gatal-gatal ini pun dilampiaskan kepada apapun yang terkait dengan nama itu. Kalau pun salah apa yang disampaikan Ki Sabdo, tetap saja Jokowi  kena getahnya.

Jokowi sedang kena kutukan. Sama dengan SBY yang juga kena kutukan diperiode keduanya sebagai presiden. Begitulah banyak media dan berbagai pernyataan para ahli menyampaikannya. Para ahli yang tentunya tak segerbong dengan Ki Sabdo. 

Bila meminjam ucapan Snowden, dan Ki Sabdo bisa bersabda, seperti ini :"Jangan remehkan hal supranatural Lo. Kita hidup di Jawa. Di negara maju aja masih pada percaya masalah ginian. Nah apa salahnya saya pake cara ini agar pelantikan Jokowi lancar ?".

Terus Ki Sabdo juga ngomong,"Bagi saya siapapun yang menghalangi atau akan membuat pelantikan Jokowi ambyar. Itu penjahat. Kata si Snowden, kalau saya ungkap kejahatan dianggap penjahat, negeri ini dikuasai penjahat. La yang kuasai negara bukan hanya Jokowi toh,". Begitulah imajinasi saya bila di posisi Ki Sabdo.

Nah, dengan imajinasi itu, Garuda bisa saja kebalik jadi naga. Naga bisa saja Garuda, kan? Karena kehidupan bukanlah drama atau naskah film yang hitam putih. Jadi siapa yang dililit dan melilit?

Moeldoko. Siapapun pasti mengenalnya. Hidup di lingkaran kekuasaan dan menjadi bagian ke-istanaan. Sosoknya pun diseret dalam pusaran tagar medsos yang kini jelma serupa 'ajimat'. Tagar jelma serupa tanda yang disematkan di kening siapapun. Serupa sejarah kelam berdarah-darah dalam peristiwa PKI. Nama dalam tagar menjadi incaran. Kalau tagarnya kemanusiaan, maka beruntunglah nama itu, karena masyarakat kita masih peka terhadap penderitaan sesamanya yang kena musibah. Sebaliknya, bila nama itu diidentifikasi bagian dalam 'kejahatan', maka bersiaplah untuk meluaskan dada.

Di #RajawaliDililitNaga, Moeldoko pun disematkan di sana. Pernyataan kontroversialnya di kuliah umum di Universitas Indonesia, beberapa waktu lalu, meluncur dari Kepala Kantor Staf Kepresidenan ini. Dia menyatakan Islam tak perlu dibela Tuhan, tak perlu ditolong. Moeldoko pun menyebutkan nama organisasi di kalimatnya itu.

"Mengapa harus ada apa itu Front Pembela Islam? Apa yang dibela? Ya sorry ya, aku langsung ngomong blak-blakan saja kan gitu. Memangnya Islam sedang dijajah oleh orang lain apa? Apalagi itu dibela? Tuhan kok dibela? Ngapain? Dia enggak perlu pembelaan," ucap mantan Panglima TNI ini.

"Ada orang yang hanya bermodal Rp150 ribu, berbelanja pakaian di Tanah Abang, lalu mengklaim dirinya sebagai Habib," lanjutnya yang tentunya di tagar GarudaDililitNaga, siapapun akan 'ngeh' warganet memposisikan Moeldoko sebagai apa.
Pernyataan Moeldoko itu, mengingatkan penulis atas artikel berjudul 'Tuhan Tidak Perlu Dibela' yang ditulis (alam) Gus Dur dan  diterbitkan oleh Tempo pada 28 Juni 1982, kemudian menjadi judul buku kumpulan tulisan Gus Dur.

"Islam perlu dikembangkan, tidak untuk dihadapkan kepada serangan orang. Kebenaran Allah tidak akan berkurang sedikit pun dengan adanya keraguan orang. Maka ia pun tenteram. Tidak lagi merasa bersalah berdiam diri," tulis Gus Dur 
"Tuhan tidak perlu dibela, walaupun juga tidak menolak dibela. Berarti atau tidaknya pembelaan, akan kita lihat dalam perkembangan di masa depan," lanjutnya.

Lantas, bagaimana kita bisa mempersonifikasikan Garuda dan Naga, dua hewan legenda yang betebaran di kisah-kisah purba. Serta kerap memancing para sineas Hollywood mengeksplorasinya dalam berbagai film.

Larut dalam yang hitam putih, pahlawan dan penjahat, atau kita mau untuk menyederhanakan pikiran dengan mendudukan persoalan secara dewasa dan biasa-biasa saja. Tidak perlu dicari-cari.

Siapa penjahat, siapakah pahlawan ?

"Pahlawan bisa jadi siapa saja. Bahkan orang yang melakukan hal mudah dan menentramkan seperti meletakkan mantel ke bahu seorang anak kecil untuk memberitahunya bahwa dunia belum berakhir," begitulah ucap Batman dalan The Dark Knight.

*Hanya penikmat kopi lokal

 

Segala opini, saran, pernyataan, jasa, penawaran atau informasi lain yang ada pada isi/konten adalah tanggungjawab penulis bukan MalangTIMES.com.
Kami berhak menolak atau menyunting isi konten yang tidak sesuai dengan kode etik penulisan dan kaidah jurnalistik.
Kami juga berhak menghapus isi/konten karena berbagai alasan dan pertimbangan dan tidak bertanggungjawab atas kegagalan atau penundaan penghapusan materi tersebut.

Top