Kemana mahasiswa hari ini berada? Sebuah pertanyaan yang patut kiranya di lontarkan terhadap seluruh elemen mahasiswa. 

Baik yang mengaku sebagai  agen of change atau agen perubahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menjadi mahasiswa sangatlah tidak mudah, karena harus meneguhkan jati dirinya dengan memahami tugas dan fungsinya sebagai Intelektual. 

Dengan demikian wajib kiranya mahasiswa untuk memahami secara serius bagaimana gerakan serta sejarah mahasiswa, dalam menentukan perubahan.

Spirit perjuangan pada tahun 1998 patut di resapi secara bersama oleh mahasiswa sekarang. 

Dalam perjuangannya mahasiswa dalam merebut kedaulatan rakyat banyak menelan korban, seakan tetesan darah dari hantaman popor senjata aparat negara, tidak membuat mahasiswa mundur.

Jatuhnya korban tidak membuat mahasiswa takut, justru semakin membuat semangat mereka berkobar-kobar. Kawat berduri disetiap aksi massa, tidak menjadi alasan untuk melangkah. 

Tekanan atau represif yang mereka alami,bahkan terus memicu semangat untuk tetap konsisten di garis perjuangan untuk meruntuhkan rezim otoriter.

Kondisi hari ini, aktivis dan gerakan  mahasiswa jauh dari torehan semangat gerakan aktivis 45 dan 98 yang mampu terlibat langsung dalam control of power terhadap pemerintah. 

Dimana lebih nyaman dialog di gedung, hotel dengan jamuan makan, ketimbang menjadi imam aksi di balai kota, dan memenuhi sesak jalanan, melalui gerakan ekstra parlemen.

Mungkin aktivis terdahulu yang sudah wafat menangis, melihat  mahasiswa sekarang yang belum mampu meneruskan cita-cita perjuangan mereka dengan gagah berani sampai mempertaruhkan nyawanya, hanya untuk memperjuangkan kesejahteraan bagi seluruh lapisan rakyat.

Kata-kata yang sering di ucapkan seperti, “jika usul di tolak tanpa di timbang, kritik di bungkam tanpa alasan, di tuduh subversif mengganggu keamanan hanya ada satu kata lawan”. 

Namun sekarang, kata tersebut hanyalah sebatas simbol yang sering didengar dan diucapkan oleh kalangan mahasiswa, serasa tidak ada maknanya.

Kegalauan Gerakan Mahasiswa

Gerakan mahasiswa hari ini berada pada situasi kegalauan, kehilangan arah identitas. 

Situasi dimana antusiasme mahasiswa dalam gerakan sosial atau merespon perubahan zaman mengalami penurunan yang sangat drastis.

Sehingga mahasiswa lupa dengan tugas dan fungsinya yang sampai sekarang masih diharapkan oleh rakyat yang termarjinalkan melalui kebijakan pemerintah.

Sesungguhya gerakan mahasiswa tidak berada dititik akhir zaman, akan tetapi perlu direnungi kembali bagaimana gerakan mahasiswa hari ini, agar tidak terjebak ke dalam pusaran politik pragmatis. Tanpa mengedepankan politik nilai yang sejatinya sebagai identitas dirinya dan benar-benar fokus untuk kepentingan bersama.

Melihat kondisi gerakan mahasiswa dizaman serba praktis, aktivis mahasiswa mengalami penurunan secara drastis, baik dalam bentuk kepekaan terhadap kondisi sosial, ekonomi, politik, maupun kontrol kritis terhadap pemerintah.

Seakan, control of power hanya sekedar menjadi ilusi dan tidak mempunyai makna apa-apa dalam konteks sekarang. 

Seakan mahasiswa tidak lagi menjalankan makna dari kontrol terhadap kekuasaan dan kebijakan pemerintah yang tak populis bagi rakyat.

Istilah yang cocok untuk gerakan mahasiswa hari ini, bisa di bilang seperti mimpi basah di siang bolong, dengan cara melacurkan diri kepada elit-elit politik maupun pemerintah. Serta hanya mengedepankan syahwat politik, yang jauh untuk memperjuangkan hak-hak rakyat.

Kita ambil contoh, perubahan gerakan mahasiswa sebelum pilpres berlangsung. 

Dimana gerakan mahasiswa lebih condong masuk dalam pusaran politik, dan lebih banyak ditemukan bergandengan tangan dengan para elite penguasa, serta dengan aparatur negara. 

Ikut terlibat, langsung maupun tidak langsung dalam akses politik, menyukseskan calonnya masing-masing. 

Entah yang ada dikubu petahana, maupun yang ada di #2019gantipresiden dalam pertarungan pemilu 17 April 2019 lalu.

Sadar atau tidak praktek diatas membuat redup gerakan mahasiswa, serta menciptakan kegalauan sikap politik nilai dan identitas intelektual yang disemat oleh mahasiswa hari ini.

Dalam pengamatan ini, apa yang dilakukan mahasiswa lebih condong pada ego individu, bukan lagi berbicara kepentingan rakyat.

Melemahnya sikap kritis mahasiswa terhadap kepentingan rakyat, seperti naiknya Tarif Dasar Listrik (TDF), gagalnya Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS) menjamin kesehatan rakyat secara gratis, revisi perubahan UU No. 13 tahun 2003 tentang “Ketenagakerjaan”, konflik agraria yang terus berlangsung dimana-mana, pun juga kasus reklamasi teluk Jakarta, seakan hilang dari peredaran suara kritis mahasiswa.

Gerakan mahasiswa tereduksi dalam pusaran kekuasaan

Gerakan mahasiswa, tereduksi pada orientasi yang lebih mengedepankan syahwat politik individu, dengan iming-iming mendapatkan kekuasaan. 

Dari golongan elite politik, maupun penguasa. Seakan sudah ikut bersumbangsih untuk mensukseskan jagoannya, dalam pertarungan pilkada ataupun pemilu.

Intrik-intrik untuk mendapatkan uang, tidak jarang di temukan, melalui undangan ke salah satu acara yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau aparatur negara. dimana seringkali di bumbui dengan amplop (akomodatif) yang berisikan fee

Bisa dipersepsikan, tujuan dalam agenda atau forum bersama dengan aparatur tersebut, lebih beraroma untuk membungkam idealisme mahasiswa.

Dalam konteks ini, aktivis mahasiswa seakan melalui pertemuan dengan para pejabat pemerintah, menjadi angin segar. 

Seolah, bertemu dengan birokrasi pemerintah, dimana permasalahan pokok dan kebutuhan dasar rakyat bisa teratasi, oleh aspirasi yang disampaikan langsung.

Padahal, jika ditelaah lebih dalam, apa saja yang sudah didiskusikan dalam forum-forum yang diadakan pemerintah atau sebaliknya. 

Sedikitpun tidak menuai hasil yang dirasakan rakyat secara umum. Kecuali, para elit pimpinan aktivis yang menikmati manfaat nya, terlebih dengan iming-iming kekuasaan, yang cukup sederhana, mudah untuk membungkam gerakan.

Sedangkan yang lain, cukup puas dengan foto bersama atau selfie bersama elit politik, maupun kepala pemerintah. 

Seakan dengan foto bersama dan disebar di media sosial, seakan menaikkan elektabilitasnya selaku pimpinan aktivis.

Arus Hedonisme

Hal lain yang harus di pahami yaitu arus globalisasi yang serba praktis, membuat ghiroh gerakan mahasiswa menjadi tumpul. 

Dalam kehidupan sehari-hari mahasiswa menjadi hedonis, apatis, dan pragmatis. Lebih sibuk dengan smartphone dan main game, itupun contoh sederhana yang mudah kita temukan.

Pesatnya arus globalisasi membuat mahasiswa tidak mau berpikir secara kritis dan rasional, serta tidak mau menggunakan akalnya lebih dalam lagi, karena banyak disuguhi kesenangan serta di ajari pragmatis oleh pihak penguasa dengan berbagai iming-iming tertentu yang menggiurkan.

Perlu kiranya mahasiswa memahami lebih dalam lagi terkait dengan sejarah perjuangan gerakan mahasiswa, untuk menentukan sebuah perubahan yang selalu di hubungkan dengan munculnya satu generasi baru. Generasi baru harus selalu melangkah lebih jauh dalam membawa obor perjuangan.

Sudah saatnya mahasiswa kembali ke khittahnya, serta menjadi control of power bagi elite penguasa, serta tidak ada perubahan yang tercipta selain dijalananan, bisa kita sebut ekstra parlemen. 

Kembalilah mahasiswa kepada habitatnya, dijalur ekstra parlemen, sebagai metode untuk meneriakkan keadilan, dan aspirasi kritis untuk kepentingan rakyat miskin.

Akhir kata, “buat apa wilayah seluas sabang sampai merauke, jika aktivis mahasiswa kehilangan idealisme”. Resapi dan renungi, karena banyak orang melangkah kemana-kemana tapi sebenarnya dia tidak kemana-mana.

 

Diki Wahyudi
Mahasiswa FISIP kesejahteraan Sosial UMM / Wakil Presiden Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang