Anak TK Kartika V Probolinggo pada 18 Agustus lalu membuat ribut jagat Indonesia. Gara-garanya anak TK tersebut menggunakan pakaian gamis hitam dengan menggunakan cadar dan menenteng senjata mainan.

Para netizen pun nyinyir mengatakan bahwa itu merupakan bentuk kesalahan dalam melakukan pendidikan. Ada juga yang mengatakan bahwa hal yang dilakukan anak-anak TK dalam karnaval merupakan peletakan dasar paham radikalisme.

Saking ramainya warganet komentar, sampai-sampai dandim setempat pun turut komentar. Kebetulan TK tersebut memang di bawah naungan kodim. 
Dan saya baca di beberapa media mainstream, Pak Mendikbud Muhadjir Effendi sepertinya juga latah menanggapi kostum karnaval anak TK.
Sebegitu pentingkah urusan kostum karnaval anak TK menenteng senjata sehingga menteri pun harus terjun langsung. 

Kira-kira apa ya yang akan disampaikan Pak Menteri kepada siswa TK dan gurunya? Apakah Pak Menteri akan mengatakan bahwa yang mengenakan cadar itu radikal?
Apakah Pak Menteri akan mengatakan bahwa anak yang membawa senjata api mainan itu termasuk teroris? Ataukah Pak Menteri akan menyosialisasikan mulai saat ini karnaval tidak boleh lagi menggunakan cadar dengan menenteng senjata?

Karena menteri sudah menunjukkan kepeduliannya kepada kostum karnaval, maka yang lainnya pun akhirnya ikut-ikutan merespons. Ulama meminta polisi untuk mengusut tuntas kostum karnaval, sedangkan polisi begitu bersemangatnya akan mengusut. Beginilah nasib negeri kita. Nyinyir diberi tempat yang sangat besar oleh negara maupun ulama. Tanpa melihat dasar hukumnya atau dalilnya, seolah-olah nyinyiran warganet sudah menjadi sebuah kebenaran yang harus segera disikapi.

Sebelum ramai-ramai kasus TK bercadar, pada karnaval kemerdekaan 2015 lalu juga gencar pemberitaan soal tema PKI di Pamekasan. Saat itu, tiga tahun lalu, pemberitaan karnaval menggunakan tema PKI juga viral dan jadi bahan diskusi yang melibatkan para tokoh dan pakar. Eh, ulama saat itu juga ikut-ikutan komentar. 

Saya tidak tahu, apakah para netizen yang nyinyir dengan kostum karnaval itu usianya di atas 40 tahun seperti saya, atau di bawah 20 tahun khas anak milenial. Tapi yang saya tahu pasti, usia Pak Menteri itu jauh di atas saya. Karena saya dengan Pak Muhadjir dulu sering berinteraksi waktu beliau masih menjabat sebagai rektor Universitas Muhammadiyah Malang. 

Dan saya kok juga mempunyai keyakinan bahwa pejabat kepolisian dan ulama yang ingin agar kasus kostum karnaval cadar diusut, usianya mungkin nyaris sama dengan saya. Kenapa faktor usia ini saya libatkan. Karena jika mempunyai usia yang sama, mungkin juga mempunyai pengalaman yang sama dengan saya ketika pada waktu kecil atau remaja mengikuti atau menyaksikan karnaval pada masa lalu.

Pada zaman Orde Baru dulu, eranya Pak Suharto yang katanya rezim paling otoriter, karnaval bebas menggunakan kostum apapun. Dan tak ada yang mempermasalahkan kostum karnaval seperti saat ini.

Coba saat ini kita sama-sama menggunakan akal sehat dalam membicarakan kostum karnaval. Jika memang PKI dan wanita bercadar menenteng senjata dianggap membahayakan negara, mengapa kita tak pernah mempermasalahkan penggunaan kostum penjajah Belanda yang 350 tahun menjajah kita. Mengapa kita juga tak pernah menyinyiri penggunaan kostum Nippon yang menjajah kita 3,5 tahun.

Tak hanya kostum saja, dalam karnaval juga sering menceritakan bagaimana tentara atau tuan Belanda mengikat leher pribumi yang menggunakan pakaian compang camping. Tak ada polisi atau tentara yang menegur, semuanya kelihatan happy-happy saja. Netizen juga diam saja, tak nyinyir seperti biasanya. Padahal, kalau mau dijadikan bahan nyinyiran, serinya itu bisa berjilid-jilid. 

Saya juga heran mengapa ulama juga ikutan komentar soal kostum karnaval anak TK bercadar. Apakah ada yang salah dengan kostum itu berdasarkan keyakinan sampeyan? Itu karnaval bro, sekali lagi karnaval.

Apa para ulama itu enggak pernah lihat karnaval? Di karnaval itu juga banyak yang menggunakan kostum setan, iblis, bahkan dajjal. Kenapa kalian para ulama mendiamkan kostum ini? Juga ada kostum tahayul-tahayul tradisional khas hantu Indonesia seperti kuntilanak, pocong, sundelbolong, dan gondoruwo. Para ulama juga tak banyak komentar.
Di karnaval juga banyak pria yang menggunakan kostum wanita dan memerankan sebagai bencong atau waria. Istilahnya di era sekarang mereka lagi  memerankan LGBT di even karnaval. Ulama kok diam saja? 

Pak Menteri, polisi, tentara, ulama, dan netizen nyinyir, kini seolah-olah menjadikan sesuatu yang sebenarnya biasa-biasa saja diubah menjadi sesuatu yang luar biasa. Jika kalian memang ingin membatasi tema karnaval dengan nilai-nilai konstitusi, nilai moral, nilai agama, nilai adat, keluarkanlah aturan mengenai tema karnaval. Beri batasan mengenai tema karnaval apa saja yang boleh, apa saja yang tidak boleh. Mumpung kalian masih berkuasa dan mempunyai kuasa. Mumpung kalian masih ada di struktur Majelis Ulama Indonesia.
Batasi saja ekspresi anak-anak bangsa pada saat karnaval memperingati kemerdekaan. Biar mereka tahu arti sebenarnya kemerdekaan. 

Sampai saat ini saya terkadang masih suka menikmati karnaval. Jika dilihat secara seksama, warga sebenarnya sangat menikmati kemerdekaan pada momen karnaval ini. 
Mercon yang biasanya dilarang, pada momen karnaval kerap diledakkan dar der dor. Dan uniknya, peledakan mercon di karnaval dikawal polisi. Bagi warga, ini yang namanya kemerdekaan.
Saat karnaval ini pulalah, warga bisa berjalan kaki dengan bebas, termasuk di jalan-jalan besar. Mereka dengan santai dan tenang melewati pawai tanpa menghiraukan panjangnya kemacetan di jalan raya. Ya inilah kemerdekaan.

Cobalah menikmati karnaval dengan niat refreshing, pasti jiwa kalian akan adem. Senang melihat kreativitas dan ekspresi warga yang berpartisipasi dalam merayakan kemerdekaan bangsanya.
Tapi kalau niat kalian sudah mangkel di awal, maka ada saja nyinyiran dan keluhan yang ada di otak dan hati kalian. Kalian yang belum tentu pernah ikut merayakan karnaval, malah mencibir orang yang sudah bersusah payah ikut dalam meramaikan pesta kemerdekaan negara yang kita cintai ini.

Jangan sampai gara-gara nyinyiran kalian, tak ada lagi yang mau berpartisipasi dalam kegiatan kemerdekaan. Jangan sampai gara-gara Pak Menteri, polisi, tentara, dan ulama salah menangani dalam kasus kostum cadar membuat anak-anak bangsa takut salah berkreasi lagi. 

Dan jangan sampai nyinyir ini menjadi budaya kita. Kalau sudah kena penyakit nyinyir, maka kita hanya akan menjadi bangsa yang banyak bicara, bukan banyak kerja. Kerjaannya hanya menilai kerjaan orang lain. (*)

 

 

Penulis: Lazuardi Firdaus