Foto ilustrasi (istimewa)
Foto ilustrasi (istimewa)

MALANGTIMES - Melakukan physical distancing (jaga jarak fisik), mencukupi asupan gizi, istirahat yang cukup, hingga menjaga kebersihan yang saat ini dilakukan oleh masyarakat sebenarnya bukanlah untuk mencegah diri agar tidak sakit.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Malang dr Christyaji Indradmojo SpEM menyampaikan, orang sakit adalah sesuatu yang niscaya. Sakit adalah bagian dari kehidupan manusia.

Baca Juga : Belajar dari Rumah Lewat TVRI Mulai Hari Ini, Intip Jadwalnya Yuk!

 

Nah, yang dilakukan masyarakat saat ini bukanlah mencegah sakit, namun mempersiapkan diri agar ketika sakit tidak sampai jatuh pada kondisi yang berat.

"Konsepnya, apa pun upaya kita tidak menghalangi orang menjadi sakit, tidak menghalangi orang menjadi terinfeksi. Tapi tetap harus ada upaya yang optimal. Tujuannya, kalaupun nanti terkena infeksi ataupun terkena penyakit, itu bukan kondisi yang berat. Tapi kondisi yang tubuh masih bisa mengatasi secara mandiri," paparnya kepada media ini.

Dikatakan, penyakit dan sakit adalah hal yang berbeda. Penyakit adalah penyebab orang sakit. Setiap orang yang mempunyai penyakit belum tentu memunculkan sakit. Hal ini bergantung daya tahan tubuh seseorang.

Christyaji menjelaskan, orang yang tidak memperhatikan daya tahan tubuhnya (istirahat tidak teratur, makan tidak teratur, dan lain-lain) serta orang yang sangat menjaga daya tahan tubuhnya memiliki risiko terkena penyakit yang sama besar. "Yang membedakan adalah respons ketika terkena penyakit," timpal ketua Satgas Covid-19 UIN Malang tersebut.

Orang yang daya tahan tubuhnya terjaga dengan bagus, ketika terkena virus, masih bisa mengatasi sendiri atau setidaknya tidak sampai jatuh pada kondisi yang berat.

Christyaji menegaskan, ada dua hal yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan diri saat ini. Pertama, sebisa-bisanya menghindari pertempuran dengan virus. "Artinya sebisa mungkin menghindari ancaman. Social distancing," ucapnya.

Tetapi, perlu diketahui bahwa social distancing tidak menjamin seseorang tidak sakit. "Karena tidak seperti itu hukum alamnya. Seberapa besar pun usaha kita itu, tetap ada risiko terkena," terangnya.

Baca Juga : Cegah Covid 19 Pada Lansia dan Anak-Anak, Pemkot Batu Akan Beri Tambahan Nutrisi

 

Oleh karena itu, kita menyiapkan langkah kedua, yakni mitigasi yang secara definisi artinya adalah meminimalkan dampak. "Anggap saja virus sudah ada di sekitar kita. Tidak mungkin kita mencegah virus untuk tidak dekat lagi dengan kita. Maka langkah atau lapis kedua yaitu melakukan mitigasi, meminimalkan dampak. Bagaimana virus ini mengenai kita, tetapi tidak menimbulkan masalah yang besar," bebernya.

Nah, seseorang bisa sakit terjadi karena ada interaksi atau kesepakatan tiga pihak. Yaitu virus yang ganas, manusia yang lemah, dan lingkungan yang tidak bersih atau kotor.

Christyaji mengatakan, ketiga-tiganya harus hadir dalam satu waktu. Ketika salah satu faktor hilang, maka itu sangat menghambat terjadinya peristiwa sakit.

"Sehingga kami menekankan, okelah anggap saja virus itu tidak bisa kita hindari lagi. Yang bisa kita lakukan sekarang bukan menghindari virus, tetapi bagaimana meminimalkan dampak dari yang virus timbulkan," ucapnya.

Berdasarkan dari formula itu, kita cukup menghilangkan satu di antara tiga faktor tersebut. "Itu sudah sangat bisa. Maka yang bisa kita lakukan sekarang adalah meningkatkan daya tahan tubuh, yaitu dengan istirahat teratur dengan penuhi gizi yang cukup. Dan kedua adalah menjaga kebersihan tubuh. Paling ringan adalah sering-sering cuci tangan," tandasnya.