Salah datu kolam pemandian di Taman Rekreasi Wendit (Pipit Anggraeni/ MalangTIMES).
Salah datu kolam pemandian di Taman Rekreasi Wendit (Pipit Anggraeni/ MalangTIMES).

MALANGTIMES - Para sejarawan dan masyarakat Desa Mangliawan sepakat, Wendit merupakan sumber petirtaan suci yang sudah ada sejak era Kerajaan Majapahit. Konon, petirtaan yang kini disulap sebagai taman rekreasi itu sering dikunjungi oleh orang-orang penting kerajaan pada masanya.

Namun seiring berjalannya waktu, wajah dari petirtaan suci itu terus mengalami perubahan. Bahkan, banyak yang menyayangkan lantaran wajah asli petirtaan yang memiliki nama kuno Bureng (telaga yang indah) itu terus terkikis begitu saja. Pengelolaan yang tak tepat dinilai menjadi pemicunya.

Menyedihkan lagi, sumber air yang berada di kawasan suci itu kini dimanfaatkan tak seperlunya. Melainkan telah dieksploitasi secara berlebihan. Masyarakat sekitar pun menjerit, dan meminta agar tak ada lagi eksploitasi yang berlebihan atas petirtaan suci yang konon pernah dikunjungi Prabu Hayam Wuruk tersebut.

Masyarakat Peduli Kali dan Budaya Desa Mangliawan telah beberapa kali mengajukan permohonan untuk bertemu. Meminta duduk bersama pemangku daerah Kabupaten Malang atas eksploitasi sumber air Wendit yang dinilai berlebihan. Masyarakat menuntut, agar tak ada lagi eksploitasi yang dilakukan.

Pasalnya, saat ini sumber air Wendit telah dieksploitasi secara berlebihan oleh Perumda Tugu Tirta Kota Malang atau sebelumnya dikenal PDAM Kota Malang. Masyarakat pun menolak jika eksploitasi kembali dilakukan Pemerintah Kabupaten Malang.

Hal itu menyusul debit air di sumber Wendit terus berkurang. Sementara masyarakat sekitar selama ini selalu bergantung pada penyediaan air bersih yang diperoleh dari sumber Wendit. Masyarakat mengeluh dan khawatir, eksploitasi yang berlebihan akan memberi dampak negatif. Terlebih, Wendit bukan sumber air biasa. Melainkan memiliki nilai sejarah, dan sakral bagi masyarakat sekitar.

Sebuah surat tertanggal 28 Januari 2020 dengan perihal audiensi terkait rencana eksploitasi sumber air Wendit dilayangkan. Namun sayangnya, sampai saat ini belum ada tanggapan atas permintaan audiensi itu. Masyarakat pun saat ini masih was-was dan khawatir. Takut jika permintaan warga sekitar tak diindahkan, dan proyek tetap dijalankan.

"Kami sudah meminta audiensi, tapi sayangnya sampai sekarang belum ada jawaban," terang salah satu perwakilan Komunitas Wadyabala Walandit, Teguh Priejatmono, Sabtu (15/2/2020).

Tak puas lantaran belum mendapatkan jawaban, sebuah petisi pun dibuat. Melalui ajakan secara online itu, diharapkan dukungan untuk menyelamatkan sumber Wendit semakin luas. Masyarakat Indonesia pun diharapkan untuk turut serta memberi dukungan atas keselamatan sumber Wendit.

Petisi tersebut saat ini masih terus menggali dukungan dari masyarakat luas. Berikut isi petisi yang terus dialiri dukungan masyarakat tersebut:

"Yang Mulia Bapak Jokowi Presiden RI, Yth, Bapak Basuki Hadi Mulyo Menteri PUPR, Yth, Ibu Chofifah Indarparawansa Gubernur Jawa Timur, serta Yth, Bapak HM Sanusi Bupati Malang....

Bapak Ibu Yang Kami cintai... Mohon Hentikan rencana Eklpoitasi Mata air berlebihan Oleh PDAM Kabupaten Malang / Perumda Tirta Kanjuruhan.

Sumber Wendit dengan pancaran mata air sangat besar adalah Wilayah Ulayat Masyarakat Wendit Desa Mangliawan Kec Pakis Kab. Malang. Hal ini tidak dapat dipungkiri, adanya bukti-bukti tersisa berupa Punden Petilasan  dan Pendopo Wendit adalah cagar budaya menyatu menjadi Taman Alam yang begitu indah sehingga sangat menarik untuk dikunjungi.

Konon semasa raja-raja Singhasari dan Majapahit secara rutin telah melakukan kunjungan ke Taman Wendit guna melakukan larung sesaji, permandian pensucian diri, serta menjadi tempat untuk menenangkan diri.  Kebiasaan ini menjadi satu keterikatan tradisi yang ditiru masyarakat (khususnya masyarakat adat Tengger) secara turun –temurun, satu interaksi adat - tradisi hubungan timbal – balik antara Komunitas Adat Tengger dengan Kawasan Taman Wendit yang terjadi hingga hari ini.

Sehubungan adanya kegiatan proyek jaringan pipanisasi rencana ekploitasi air di Kawasan Sumber Wendit oleh PERUMDA Tirta Kanjuruhan / PDAM Kabupaten Malang dengan cara broncaptering in take langsung pada titik mata air bawah tanah.

Memperhatikan hal tersebut, sebagaimana diketahui bahwa keberadaan mata air di kawasan Sumber Wendit sudah sangat menipis akibat kegiatan eksploitasi yang dilakukan oleh PDAM Kota Malang, yang melebihi debit kuota yang tersedia, maka sangat berdampak negative  bagi kehidupan sosial, ekonomi dan ekosistem kawasan sebagai destinasi wisata..

Sehubungan dengan hal tersebut, dengan ini  Mayarakat Peduli Kali dan Budaya Desa Mangliawan menolak keras rencana  kegiatan eksploitasi  sebagaimana dimaksud. Untuk hal tersebut,  masyarakat memohon kepada Bapak Bupati Malang agar bisa segera membongkar  jaringan pipa yang sudah terlanjur terpasang yang ada di dalam Kawasan Sumber Wendit.

Pada prinsipnya masyarakat tidak keberatan bila ada pihak manapun yang melakukan kegiatan pengambilan air di sepanjang aliran Kali Wendit, namun cara pengambilannya dilakukan di area bawah Kali Wendit ( mengambil air turapan) sehingga tidak berdampak bagi kehidupan social dan lingkungan Kali Wendit. .

Demikian Pernyataan sikap keberatan dan penolakan ini disampaikan kepada Bapak Bupati Malang agar bisa secepatnya di tindak lanjuti. Harap Maklum.

Atas perhatiannya disampaikan ucapan beribu terima kasih.

Semoga seluruh makhluk berbahagia".