Suasana saat persidangan pemeriksaan saksi kasus pembunuhan begal berakhir. ZA (seragam abu-abu) memilih berdiam diri usai menjalani persidangan. (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
Suasana saat persidangan pemeriksaan saksi kasus pembunuhan begal berakhir. ZA (seragam abu-abu) memilih berdiam diri usai menjalani persidangan. (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

MALANGTIMES - Tidak seperti saat pertama memasuki ruang persidangan, ZA (inisial) -pelaku pembunuhan begal karena membela diri- tampak kebingungan saat keluar usai menjalani persidangan di Ruang Tirta/Anak Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen, Senin (20/1/2020).

Dalam sidang kelima itu, agendanya adalah pemeriksaan keterangan saksi. Terdapat sedikitnya delapan saksi yang dipanggil dalam sidang lanjutan tersebut. Tiga di antaranya saksi dari pihak kuasa hukum ZA. Sedangkan lima lainnya merupakan saksi dari pihak JPU (jaksa penuntut umum).

”Agendanya adalah pemeriksaan keterangan saksi. Ada tiga saksi yang kami hadirkan dalam persidangan. Ada guru dari pihak sekolah ZA, ada tetangga ZA, dan ada saksi ahli pidana anak dari Fakultas Hukum (FH) UB (Universitas Brawijaya),” terang koordinator hukum ZA, Bakti Riza Hidayat, saat ditemui usai persidangan.

Seperti yang sudah diberitakan, sidang perdana yang dijalani pelaku pembunuhan begal ini berlangsung pada Selasa 14 Januari 2020). Pada saat itu, agendanya adalah pembacaan tuntutan terhadap ZA. JPU kala itu membacakan tuntutan pasal berlapis saat proses persidangan berlangsung.

Terdapat empat pasal yang disampaikan di hadapan majelis hakim. Yakni Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman kurungan penjara seumur hidup, pasal 351 KUHP tentang penganiayaan yang menyebabkan kematian dengan ancaman penjara maksimal 7 tahun, pasal  338 KUHP tentang pembunuhan dengan ancaman maksimal 15 tahun kurungan penjara, dan pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951.

Sehari berselang, Rabu (15/1/2020) ZA kembali menjalani persidangan. Agendanya adalah penyampaian eksepsi (nota keberatan) dari kuasa hukum ZA. 

Pada hari yang sama, sidang ketiga langsung dilakukan majelis hakim. Ketika itu, Nuny Defiary selaku hakim tunggal menolak nota keberatan yang diajukan  kuasa hukum ZA.

Persidangan berlanjut dua hari kemudian, Jumat (17/1/2020). Dalam sidang yang berjalan tertutup tersebut, agendanya adalah penyampaian putusan sela. Hingga akhirnya, Senin (20/1/2020)  persidangan berlanjut dengan agenda pemeriksaan para saksi.

Sayangnya, pada sidang yang dimulai sekitar pukul 09.30 WIB dan berakhir sekitar pukul 12.00 tersebut, majelis hakim maupun pihak saksi ahli dari JPU memilih langsung angkat kaki dari ruang persidangan dan mengabaikan keberadaan wartawan yang sudah menunggu di depan ruang persidangan. Bahkan FF, teman wanita ZA saat dibegal, langsung dikawal pihak kepolisian sesaat setelah  persidangan berakhir.  FF dihadirkan sebagai saksi dari pihak jaksa.

Hanya ada saksi dari pihak ZA, kuasa hukumnya, dan saksi ahli dari ZA yang berkenan menemui awak media. Sedangkan ZA memilih menepi dan irit bicara usai menjalani persidangan yang berlangsung sekitar tiga jam tersebut.

”Dari saksi gurunya (ZA), menyampaikan kenapa pada hari kejadian membawa pisau dapur,” kata Bakti.

Guru ZA yang dihadirkan sebagai saksi tersebut memberikan kesaksian seperti pada surat pernyataan yang dikeluarkan sekolah tempat ZA menuntut ilmu. Yakni menyatakan pisau yang digunakan ZA untuk membunuh begal adalah pisau yang dibawa saat praktik pembuatan stick es krim di sekolah.

Sedangkan salah satu tetangga ZA menyatakan dalam persidangan bahwa dirinya memang sering melintas di tempat ZA dibegal. Bahkan dirinya juga memberikan kesaksian  pernah menjadi korban pembegalan.

Kemudian, satu saksi ahli yang dihadirkan pihak ZA, yakni Lucky Endrawati, juga memberikan keterangan bahwa penerapan Pasal 49 dan 50 KUHP tentang pembenar dan pemaaf yang sempat diajukan saat sidang eksepsi dari pihak kuasa hukum ZA, memang perlu diterapkan.

”Besok (Selasa 21/1/2020) agendanya tuntutan dari jaksa terkait apa yang dilakukan ZA. Sedangkan Kamis (22/1/2020) agendanya pembacaan tuntutan (putusan),” ucap Bakti.

Pengacara berambut gondrong tersebut mengaku sangat menyayangkan dakwaan primer dari jaksa akan pasal 340 KUHP atau tentang pembunuhan berencana. Menurut dia, harus ada beberapa unsur kumulatif yang menguatkan akan adanya kasus pembunuhan berencana tersebut.

”Pembunuhan berencana itu ada suatu kondisi ketika merencanakan (pembunuhan), kemudian ada motifnya. Dua unsur itu harus jadi satu kesatuan dan tidak bisa dipisahkan,” ungkap Bakti.

Sedangkan dalam kasus ZA, lanjut Bakti, dua unsur tersebut tidak terpenuhi. Bahkan soal motif pembunuhan berencana, menurut kuasa hukum ZA, sama sekali tidak ada perencanaan pembunuhan terhadap pelaku pembegalan.

”Karena memang anak 17 tahun (di bawah umur saat membunuh pelaku begal), konsekuensi hukumnya jelas berbeda. Katakan kena 20 tahun, berarti jadi separonya (karena anak di bawah umur), yakni 10 tahun. Tapi bukan itu. Kami tidak bicara nanti tuntutannya berapa. Tapi yang kami sayangkan adalah penerapan pasalnya (pembunuhan berencana) inilah yang menurut kami sangat janggal,” ungkap Bakti.

Seperti diberitakan, ZA diringkus polisi pada 10 September 2019. Remaja yang saat itu berusia 17 tahun tersebut dianggap menjadi pelaku terbunuhnya pelaku begal yang bernama Misnan alias Gerandong.

Dalam penyidikan, aksi pembegalan terhadap ZA terjadi pada 8 September 2019 malam. Saat itu, Gerandong dan komplotannya sempat berupaya melakukan perampasan berupa HP (handphone), dan sepeda motor yang ditumpangi ZA untuk membonceng FF.

Perdebatan alot sempat terjadi kala itu, hingga akhirnya Gerandong memaksa agar FF bersedia untuk disetubuhi olehnya. Merasa terdesak, ZA akhirnya mengambil pisau dari dalam jok sepeda motor yang sempat hendak dibawa kabur komplotan begal. Pisau tersebut digunakan untuk membela diri saat Gerandong hendak menyetubuhi FF. Yakni dengan cara menghunuskannya ke dada pelaku begal tersebut hingga tewas.