UKBI UIN Malang. (Foto: Humas)
UKBI UIN Malang. (Foto: Humas)

MALANGTIMES - Jika bahasa Inggris punya Test of English as Foreign Language atau TOEFL, bahasa Jepang punya Nihongo Nouryouku Shiken, dan bahasa Jerman punya TesDaF, maka bahasa Indonesia punya UKBI atau Ujian Kemahiran Berbahasa Indonesia.

Ketua Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) Dr Dewi Chamidah mengungkapkan, bahwa memiliki kemahiran dalam Bahasa Indonesia sama pentingnya dengan bahasa asing yang dipelajari di kampus. Apalagi, Bahasa Indonesia merupakan bahasa bangsa sendiri. Maka ia berharap UKBI diwajibkan sebagai syarat kelulusan.

"Jadi jika memiliki sertifikat TOEFL dan TOAFL diwajibkan saat kelulusan, seharusnya sertifikat UKBI lebih wajib lagi," tutur dosen berkacamata ini saat memberikan sambutan dalam UKBI di Aula Rektorat UIN Malang, Selasa (19/11/2019).

Kegiatan UKBI yang diadakan bekerja sama dengan Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur sebagai penyedia soal dan format ujian tersebut diikuti sejumlah 578 mahasiswa.

Karenanya, Dewi berharap agar di tahun mendatang, UKBI bukan hanya ujian wajib bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan.

Dengan dukungan seluruh pihak di Kampus Ulul Albab, ia ingin agar semua mahasiswa mengikuti ujian tersebut sebelum prosesi wisuda.

Hasil UKBI adalah wujud dari kemampuan berbahasa Indonesia sehari-hari. Soal UKBI terdiri atas empat ranah, yaitu kesintasan, sosial, keprofesian, dan akademik.

Materi UKBI meliputi empat keterampilan berbahasa, yakni keterampilan mendengarkan, membaca, menulis, dan berbicara. Selain itu, UKBI juga berisi materi tentang kaidah bahasa.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Malang Dr M Zainuddin MA menyatakan bahwa Bahasa Indonesia masuk dalam lima besar bahasa internasional.

"Jadi jangan ragu menggunakan Bahasa Indonesia dalam forum internasional," katanya.

Ia mengungkapkan, banyak warga negara asing yang tertarik mempelajari Bahasa Indonesia.

"Bahasa kita itu simpel dan sangat mudah, tidak banyak perubahan untuk konteks yang berbeda," terangnya.

Terbukti, para peserta in-country program dari Universitas Deakin, Australia yang baru beberapa minggu di UIN Malang sudah lancar bercakap-cakap dengan Bahasa Indonesia.

Selanjutnya, Zainuddin mengingatkan agar mahasiswa tak lupa mendalami bahasa bangsanya sendiri. Apalagi jika nanti dalam proses penulisan tugas akhir.

"Jangan bawa bahasa lisan kalian ke dalam bahasa tulisan saat menulis skripsi. Ada bedanya," tandasnya.