Ratusan tokoh agama saat menyampaikan deklarasi anti radikalisme dan terorisme serta dukungan terkait pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih (Foto : Humas Polres Malang for MalangTIMES)
Ratusan tokoh agama saat menyampaikan deklarasi anti radikalisme dan terorisme serta dukungan terkait pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih (Foto : Humas Polres Malang for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Menjelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih yang jatuh pada tanggal 20 Oktober mendatang situasi politik dan pemerintahan sedikit memanas. Mulai dari aksi unjuk rasa, isu radikalisme, hingga terorisme terus bergejolak saat menjelang pelantikan presiden.  

Salah satu aksi yang paling menjadi sorotan adalah unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa secara serentak di beberapa daerah di Indonesia. Berdasarkan catatan kepolisian, terdapat sedikitnya 300 aksi unjuk rasa yang terjadi saat menjelang pelantikan presiden terjadi.

”Dari data yang ada, sejak 23 September lalu tercatat ada lebih dari 300 aksi unjuk rasa. Dimana ada sekitar 15 di antaranya diwarnai dengan aksi kericuhan,” kata Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung, saat membrikan sambutan dalam agenda Silahturahmi dengan Kamtibmas Jelang Pelantikan Presiden, Selasa (15/10/2019).

Anggota Polri yang akrab disapa Ujung ini menambahkan, jika aksi massa yang terjadi saat menjelang pelantikan presiden ini mengangkat berbagai isu politik dan pemerintahan. Di antaranya meliputi pro kontra RUU KPK, isu kebakaran hutan, isu papua dan isu aksi terorisme serta radikalisme.

”Berdasarkan informasi dari intelijen, menyatakan jika ada beberapa kelompok tertentu yang diduga menunggangi mobilisasi massa unjuk rasa. Tujuannya di antaranya diduga mengarah kepada upaya menggagalkan agenda konstitusional. Salah satunya pelantikan presiden terpilih,” ungkap Ujung.

Terkait berbagai polemik tersebut, Polres Malang menginisiasi untuk menyelenggarakan agenda silahturahmi bersama Kamtibmas serta tokoh agama, Selasa (15/10/2019) sore. 

Dalam agenda yang berlangsung di Gedung Sanika Satyawada Polres Malang tersebut, turut serta dihadiri oleh sekitar 250 tamu undangan. Selain Kapolres Malang, perwakilan dari Bupati Malang, Dandim 0818, Kepala Kemenag (Kementrian Agama) Kabupaten Malang, Ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia), serta 120 Da’i dan tokoh agama se-Kabupaten Malang juga turut dihadirkan.

”Da’i dan tokoh agama yang ada di wilayah Kabupaten Malang ini, merupakan kepanjangan tangan Polres Malang untuk menyampaikan pesan Kamtibmas sekaligus meluruskan isu simpang siur yang marak beredar di kalangan masyarakat,” sambung Ujung.

Pada penghujung agenda, ratusan tamu undangan nampak menutup acara dengan mengikrarkan Deklarasi Penolakan Aksi Radikalisme dan Terorisme Guna Mensukseskan Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden.

”Harapannya, peran serta para tokoh agama dan Da’i ini bisa menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di tingkat Desa maupun kecamatan. Dengan adanya pesan dari para tokoh agama yang disampaikan melalui berbagai acara keagamaan, diharapkan mampu menciptakan situasi yang kondusif sekaligus mengikis paham radikalisme dan terorisme. Semoga saat menjelang maupun paska pelantikan prsiden dan wakil presiden pada 20 Oktober mendatang, situasi bisa berjalan secara aman dan kondusif,” tutup perwira polisi dengan pangkat dua melati di bahu ini.