Wayang Bahan Daur Ulang (2)

Pembuat Wayang Daur Ulang Menolak Disebut Seniman

Jan 24, 2016 13:16
Bekok Asmoro ketika sedang merapikan wayang daur ulang buatannya. (Foto: Hilmy / MALANGTIMES)
Bekok Asmoro ketika sedang merapikan wayang daur ulang buatannya. (Foto: Hilmy / MALANGTIMES)

MALANGTIMES - Pria ramah berambut gondrong ini bernama beken Bekok Asmoro, yang tertera di KTP nya atas nama Suasmoro. Meskipun telah puluhan tahun berkecimpung di dunia seni, ia menolak disebut seniman, ada alasan tersendiri mengapa pria tamatan SMP ini kekeuh pada idealismenya, menolak disebut sebagai seniman. 

Disela menceritakan tentang pembuatan wayang daur ulang yang ia gagas untuk melestarikan lingkungan ini, ia bercerita tentang awal mula berkarya di dunia seni. Berawal di Dewan Kesenian Malang (DKM), ia memulai terlibat dalam dunia seni di teater Slendro. 

Baca Juga : Peduli Covid-19, Hawai Grup Sumbang Ratusan APD ke Pemkot Malang

"Kalau sekarang di Teater apa saja mas, tapi kalau dulu awal-awal aktif di Teater Slendro sejak tahun1980 an, seingat saya sejak 1981 sudah aktif disana," ujar Bekok Asmoro bercerita awal karirnya di dunia seni 

Ia bercerita pada awal tahun 1980 an, Teater Slendro ketika itu sudah seperti menjadi milik orang Malang. 

"Sangat kuat sampai terkenal dimana mana, walaupun tidak seluas Nusantara itu pun banyak yang tahu, saya bergabung dengan senior saya, karena sudah lama, banyak yang latihan tapi tidak seperti waktu muda dulu," katanya kepada MALANGTIMES

Dekade 1981-1987 adalah masa jaya Teater Slendro. "Slendro bukan cuma teater saja, teman-teman main musik juga, ada tembang Republik arek arek Slendro Malang, motor nya Suhartatok yang sekarang bagian dari KPJ, setelah itu dari slendro, ada teman kita masih aktif di dapur 61," lanjutnya. 

Kemudian, ceritanya terdapat nama-nama seperti Timur Priyono, yang katanya terkenal dari Malang, sampai sukses di Jakarta mendirikan dapur 61, dan masih banyak lagi. 

"Di slendro sendiri, tembang Republik masih ada beberapa orang, saya dan teman ikut mendirikan kelompok juga, namanya nyanyian anak negeri tahun 1990 an, garap festival dan lain sebagainya, jaman nyanyian anak negeri semua festival saya angkut, saya pegang perkusi, biola, dan bantu vokal, mana yang bisa saya lakukan, ya saya kerjakan," ceritanya. 

Selama bergelut di dunia seni Bekok Asmoro dan kelompoknya berkarya di nyanyian etnik dan balada.

"Sampai sekarang, kalau saat ini tidak punya kelompok musik, baru-baru ini dimana teman-teman minta saya ikut tampil ya saya ikut, yang penting hiduplah kesenian itu," terang bapak empat anak ini.

Diungkapkannya, keterlibatannya dengan seni saat ini lebih dititikaberatkan kepada pelestarian lingkungan, itu yang mendorong ia berupaya membuat wayang dari bahan daur ulang yang tak banyak dipikirkan oleh orang lain.

"Kalau saya pribadi saya sangat respek dengan adanya pelestarian lingkungan, saya tidak ingin tangan saya lepas terhadap kesenian apapun bentuknya," ujar pria kelahiran 4 Maret 1958 ini.

Melihat perkembangan dunia yang semakin modern, semakin banyak bermunculan seniman-seniman muda yang unjuk karya di dunia seni, namun ia memberikan nasehat khusus untuk para 'seniman-seniman' baru. 

"Kalau saya sendiri lebih baik disebut sebagai pecinta seni bukan seniman, karena kalau bicara tentang kesenian, seniman atau bukan masih dipertanyakan," ucapnya.

Karena menurutnya seseorang yang menyandangg predikat seniman itu berat sekali, karena dituntut untuk terus berkarya sekecil apapun.

"Mereka yang sudah berkarya walaupun sudah banyak berkecimpung di kesenian 
kalau hanya masih niru-niru (menjiplak), belum bisa dikatakan seniman," katanya. 

Baca Juga : Viral Surat Stafsus Jokowi untuk Camat, Dicoreti Bak Skripsi hingga Berujung Minta Maaf

Baginya ada tanggungjawab pribadi, predikat sebagai seniman sangat berat karena harus mempertanggungjawabkan apa simbol predikat yang menempel. 

"Banyak mereka senang bermusik, senang nonton seni, kemudian mengaku seniman, apalagi ada yang merangkap sebagai budayawan hanya karena suka kesenian Jawa seperti ludruk dan ketoprak," ungkap Bekok. 

Karena, jelasnya seniman itu harus berkarya, dan seorang budayawan harus peduli dengan budaya itu sendiri 

"Banyak yang berlabel budayawan tapi tidak mengerti budaya itu sendiri, bahkan arti budaya itu seperti apa tidak tau," kisahnya.

Ditambahkannya, seorang budayawan harus peduli dengan budaya sehingga budaya apa saja yang benar-benar budaya harus dilihat pelestariannya.

"Dimana budayawan murni, tapi kalau mereka cuma nampang di TV tapi ditanya apa arti budaya itu tidak tau kan bagaimana jadinya. Budaya artinya Indah, keindahan angen angen ing keindahan."

Budayawan, menurutnya harus mempunyai sesuatu yang sangat Indah termasuk perilakunya. "Budayawan itu jujur, bercerita tentang karya, contoh ini karya siapa? 'Karyaku', padahal bukan," kelakarnya. 

"Saya sangat senang sekali dengan mengumpulkan sampah ini, saya diakui sebagai apapun terserah, sangat berat kalau diberi predikat seniman atau budayawan, karena tanggungjawabnya sangat berat," imbuhnya. 

Bagi dia, melestarikan alam dan lingkungan juga perwujudan kepedulian terhadap nilai-nilai budaya, apabila dilakukan dengan benar. 

"Bukan berarti sudah ke hutan, ke gunung sudah disebut pecinta alam, kalau sudah bicara pecinta alam sesungguhnya kita melihat satu ciptaan yang namanya binatang saja sangat senang, bersahabat, bukan melihat burung di hutan dinilai pasti harganya mahal, lihat macan kemudian diambil kulit, mereka (pecinta alam.red) tidak pernah berfikir itu," tukasnya. 

Ia berharap kedepan masih banyak masyarakat pecinta seni dan budaya yang peduli terhadap kondisi alam dan lingkungan. "Mau bicara apa kita kepada alam kalau sudah tidak ada yang peduli, padahal kita ini bagian dari alam, bukan bagian yang terpisah dari alam," tutupnya. (*)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru