Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Ekonomi

Mengapa Suku Bunga Harus Naik?, Begini Penjelasan Deputi BI Malang

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Redaksi

10 - Jan - 2023, 18:52

Erwin Syafi'i Deputi Kepala Perwakilan BI Malang (kiri) dan Kepala KPwBI Malang, Samsun Hadi (kanan)(Anggara Sudiongko/MalangTIMES)
Erwin Syafi'i Deputi Kepala Perwakilan BI Malang (kiri) dan Kepala KPwBI Malang, Samsun Hadi (kanan)(Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

JATIMTIMES - Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) 7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sampai 5,5 persen menjadi kekhawatiran masyarakat. Sebab, dampaknya cicilan pada kredit konsumsi (KPR, Kredit kendaraan, kredit personal) akan kian mahal karena perbankan akan menyesuaikan suku bunganya dengan suku bunga acuan BI. 

Lantas, mengapa suku bunga harus naik?. Mengenai hal tersebut, Deputi Kepala Perwakilan BI Malang, Erwin Syafi'i memberikan penjelasan.

Pihaknya menyampaikan, kenaikan suku bunga ini menjadi buah simalakama. Sebab, jika kenaikan suku bunga tak dilakukan, maka kondisi moneter dapat terguncang dan nilai tukar rupiah akan semakin melemah. 

"Pelemahan rupiah ini juga akan berimbas terjadinya inflasi," jelasnya saat diwawancarai beberapa waktu lalu. 

Kenaikan suku bunga tersebut, tentunya sebagai langkah front loaded, pre-emptive, dan forward looking dalam upaya menurunkan ekspektasi inflasi dan memastikan kembalinya inflasi inti. Langkah ini, tentunya memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sejalan dengan nilai fundamentalnya akibat tingginya ketidakpastian pasar keuangan global ditengah permintaan ekonomi domestik yang kuat. 

Bank Indonesia kemudian mengeluarkan senjata dengan terus melakukan bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas dan momentum pemulihan ekonomi. 

"Mau gak mau ini buah simalakama sebagai konsumen kita harus berjaga - jaga, seandainya suku bunga naik bisa mengatur pengeluaran yang lain. Meskipun bukan sekali ini mengalami kenaikan, tapi kami perkirakan kenaikan suku bunga tak akan setinggi yang dulu, " jelasnya.

Sementara itu, kedepan terdapat strategi dalam menjaga stabilitas dan pemulihan ekonomi, seperti halnya disampaikan dalam kanal YouTube Bank Indonesia.

1. Memperkuat operasi moneter melalui kenaikan struktur suku bunga di pasar uang sesuai dengan kenaikan suku bunga BI7DRR.

2. Memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah sebagai bagian untuk pengendalian inflasi dengan intervensi di pasar valas baik melalui transaksi spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian/penjualan Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

3. Melanjutkan penjualan/pembelian SBN di pasar sekunder untuk memperkuat transmisi kenaikan BI7DRR.

4. Menterbitkan instrumen operasi moneter kalau yang baru mendorong penempatan devisa hasil ekspor, khususnya tadi ekspor sumber daya alam, di dalam negeri oleh bank dan eksportir untuk memperkuat stabilisasi.

5. Memperkuat kebijakan makropprudential yang akomodatif, inklusif dan berkelanjutan untuk mendorong pertumbuhan kredit atau pembiayaan perbankan, khususnya sektor prioritas yang belum pulih, Kredit Usaha Rakyat, kredit/pembiayaan hijau melalui penyempurnaan ketentuan intensif GMW yang berlaku 1 April 2023.

6. Melanjutkan kebijakan transparansi suku bungabdasar kredit dengan fokus pada respon suku bunga perbankan terhadap suku bunga kebijakan.


Topik

Ekonomi


Bagaimana Komentarmu ?


JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Redaksi