Malangtimes

Kisah 'Ibunda Kedua' Nabi Muhammad, Sosok Perempuan yang Pernah Diberikan Air dari Langit 

Jan 10, 2023 07:21
Ilustrasi Ummu Aiman, termasuk sosok perempuan pertama yang hijrah (foto dari internet)
Ilustrasi Ummu Aiman, termasuk sosok perempuan pertama yang hijrah (foto dari internet)

JATIMTIMES - Sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW menarik untuk selalu disimak. Utamanya, pelajaran hidup semasa Nabi Muhammad kecil. Salah satu hal yang belum banyak diketahui adalah tentang pengasuh Rasulullah yang sudah dianggapnya sebagai Ibu kedua. 

Pengasuh tersebut adalah Barakah Binti Tsa'labah atau dikenal dengan Ummu Aiman. Melansir Histoire Time, Dia adalah budak perempuan milik ayah Nabi Muhammad. Ummu Aiman berasal dari Habasyah. 

Setelah ayah Nabi Muhammad meninggal, dia berpindah kepemilikan menjadi budak Muhammad kecil. Ummu Aiman mengabdikan dirinya kepada keluarga ayah Nabi Muhammad hingga Nabi Muhammad menikah dengan istrinya. 

Ummu Aiman juga ikut merawat ibunda Nabi Muhammad dan membantu proses persalinan ketika mau melahirkan. Ia pun menjadi orang pertama yang menyentuh dan menggendong Muhammad kecil ketika baru lahir. Maka tidak berlebihan pengasuh Rasulullah tersebut disebut sebagai ibu kedua setelah ibu kandungnya. 

Setelah Nabi Muhammad menikah dengan istrinya, Ummu Aiman pun dimerdekakan. Kemudian Rasulullah menikahkannya dengan salah satu sahabatnya. Dari pernikahannya dengan sahabat Nabi, dia pun akhirnya dikarunia anak. Anak dari Ummu Aiman pun sangat dicintai oleh Rasulullah. 

Ummu Aiman termasuk perempuan yang pertama kali hijrah. Bahkan ia mengikuti dua kali hijrah baik ke Habasyah maupun ke Madinah. Dia merupakan seorang perempuan yang pernah Allah berikan air minum dari atas langit.

Pernah suatu ketika, Ummu Aiman berhijrah dari mekah ke Madinah sekitar 500 km dengan berjalan kaki seorang diri. Suatu ketika perbekalannya habis, ia sangat tersiksa dahaga dan sengatan matahari gurun pasir. Lalu diniatkan berpuasa. 

Tak disangka kala waktu berbuka Allah turunkan bejana berisi air yang diliputi cahaya. Ummu Aiman berkata "aku tidak pernah lagi merasa haus. Aku biasa berpuasa di bawah terik matahari dan tidak merasa haus". Dia juga menceritakan "Aku berjalan berkeliling di bawah terik matahari agar merasa haus, tetapi aku tidak pernah merasa haus". 

Ummu Aiman juga turut hadir di medan peperangan seperti perang Uhud untuk menjadi relawan yang menyediakan minuman dan mengobati korban perang, begitu juga di perang Khaibar. 

Pernah suatu ketika waktu Ummu Aiman bersama Rasulullah saat putrinya akan wafat, Rasulullah mendekap putrinya dan akhirnya meninggal dipelukan Rasulullah. 

Melihat hal seperti itu dia pun menangis, Rasulullah pun berkata pada dia "Wahai ibu, apakah kau menangis? padahal Rasulullah ada di sisimu?” Dia pun menjawab “Bagaimana bisa aku tidak menangis, sementara Rasulullah menangis".  

Rasulullah mengatakan, “Sungguh aku menangis bukan karena musibah ini tapi ini adalah kasih sayang. Setiap saat seorang mukmin dalam kondisi yang baik. Nyawanya terpisah dari badannya sedang dia memuji Allah". 

Suatu hari setelah Rasulullah wafat, para sahabat berkunjung ke rumahnya sebagaimana yang sering Rasulullah lakukan semasa hidup. Pada saat para sahabat sampai rumahnya, mereka mendapati ia sedang menangis. 

Sahabat Rasulullah berkata, “Apa yang membuatmu menangis? Apa yang ada di sisi Allah lebih baik untuk Rasul-Nya.” 

Ummu Aiman pun menjawab “Aku menangis bukan karena tidak mengetahui yang ada di sisi Allah lebih baik untuk Rasul-Nya. Tapi tangisku itu karena terputusnya wahyu dari langit.” 

Ucapan Ummu Aiman pun lantas membuat para sahabat terenyuh. Lalu para sahabat menangis bersama dengan dia. Ummu Aiman merupakan perempuan yang mulia dan tangguh. Dia juga adalah kecintaannya Rasulullah.  

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru