Malangtimes

BMKG Ungkap Temuan Patahan Baru di Cugenang  

Dec 09, 2022 13:17
BMKG memperikrakan Patahan Cugenang ini melintasi 9 desa di dua kecamatan. Dengan straight atau lintasan yang mengarah ke barat laut tenggara (foto:Antara)
BMKG memperikrakan Patahan Cugenang ini melintasi 9 desa di dua kecamatan. Dengan straight atau lintasan yang mengarah ke barat laut tenggara (foto:Antara)

JATIMTIMES - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengungkapkan hasil penelusuran terbaru. Di mana pihaknya menemukan ada patahan yang baru teridentifikasi. 

"Karena patahan ini melintasi kecamatan Cugenang maka ditetapkan (namanya) Patahan Cugenang," kata Dwikorita, dilansir Antara pada Kamis (9/12/2022). 

Dwikorita juga menjelaskan bahwa gempa Cianjur berkekuatan 5,6 magnitudo yang kemarin terjadi dipicu karena ada Patahan Cugenang itu. 

Lebih lanjut, patahan Cugenang ini disebutkan melintasi 9 desa di dua kecamatan. Dengan straight atau lintasan yang mengarah ke barat laut tenggara.

Sembilan desa yang dilintasi garis patahan tersebut terdiri dari 8 desa di Kecamatan Cugenang. Di antaranya, Desa Ciherang, Desa Ciputri, Desa Cibeureum, Desa Nyalindung, Desa Mangunkerta, Desa Sarampad, Desa Cibulakan, dan Desa Benjot. Selain itu ada juga satu desa lainnya di ujung patahan yakni Desa Nagrak Kecamatan Cianjur.

"Panjang patahan ini sekitar 9 kilometer, dengan radius berbahaya kiri-kanannya 300-500 meter," kata Dwikorita. 

Berdasarkan hasil survei lapangan, zona berbahaya yang direkomendasikan untuk direlokasi mencapai 8,09 kilometer persegi dengan total lebih kurang 1.800 rumah tinggal.

Lebih lanjut, Dia menyebut zona berbahaya itu harus dikosongkan dari tempat tinggal. Namun masih bisa dipakai untuk lahan persawahan, resapan dan konservasi. 

"Bisa dijadikan juga tempat wisata terbuka tanpa ada bangunan. Sehingga jika terjadi gempa tidak ada runtuhan bangunan dan korban jiwa," tegasnya. 

Selain adanya temuan patahan baru, BMKG juga mengimbau agar pemerintah memperhatikan sesar aktif lain. Dengan begitu, laporan peta sesar yang sudah ada diharapkan menjadi acuan untuk tata ruang wilayah. 

"Diharapkan garis sesar lainnya juga tidak ada bangunan di atasnya. Kalaupun ada bangunan di radius kurang dari 200 meter, diharapkan bangunannya berteknologi tahan gempa. Jadi ini memang harus diperhatikan secara tata ruang wilayah," pungkas Dwikorita.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru