Malangtimes

Diduga Meninggal karena Gas Air Mata, Ibu Korban: Tubuh Menghitam, Mata Merah, Mulut Berbusa

Dec 07, 2022 21:20
Cholifatul Nur (paling kanan) saat menjelaskan kondisi putranya yang diduga meninggal karena tembakan gas air mata. (Foto: Ashaq Lupito/ Jatim Times)
Cholifatul Nur (paling kanan) saat menjelaskan kondisi putranya yang diduga meninggal karena tembakan gas air mata. (Foto: Ashaq Lupito/ Jatim Times)

JATIMTIMES - Dengan mata berkaca-kaca, Cholifatul Nur warga Desa Kasembon, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang menceritakan kejadian memilukan yang dialami putra semata wayangnya yang bernama Jofan Farelino. 

Pelajar 15 tahun itu tutup usia saat duduk di bangku kelas satu Sekolah Menengah Atas (SMA), lantaran menjadi salah satu korban tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022 lalu.

Kejadian memilukan tersebut dia ceritakan secara gamblang saat dimintai keterangan di hadapan penyidik Satreskrim Polres Malang, Rabu (7/12/2022). "Tadi saya mendapat 22 pertanyaan terkait kesaksian dari pelaporannya Pak Devi Athok, sama sekalian pelaporan untuk pengaduan almarhum anak saya," ucapnya.

Dalam kesaksiannya, sosok yang akrab disapa Ifa ini secara garis besar menyebut jika anaknya meninggal karena gas air mata. "Gas air mata, saya ini kan fokusnya ke gas air mata. Anak saya meninggal ya karena gas air mata itu," tegasnya.

Meninggalnya putra semata wayangnya karena gas air mata tersebut, diperoleh Ifa lantaran dirinya melihat secara langsung kondisi putranya saat meninggal dunia. Bahkan, saat mencari anaknya, dia melihat banyak kepulan asap dari gas air mata di area Stadion Kanjuruhan.

"Saya menyaksikan langsung di Stadion Kanjuruhan, kondisi saat itu saya masuk ke Kanjuruhan itu banyak gas air mata. Selain itu di daerah parkir juga masih banyak asap-asapnya. Tapi waktu itu saya cuma melihat saja sama fokus lari untuk mencari almarhum anak saya," ulasnya.

Kepanikan itu bermula saat dirinya mendapat pesan dari teman putranya. Dalam pesan dan telphone yang dia terima, Ifa mendapat kabar jika anaknya sedang tidak sadarkan diri.

"Saat itu saya tidak nonton ke stadion, tapi saya dikabari sama temanya bahwa anak saya masih pingsan, waktu itu karena terkena gas air mata. Setelah dikabari saya langsung pergi ke Stadion Kanjuruhan, kondisi masih pakai baju tidur," imbuhnya.

Sebelum tiba di stadion, Ifa sempat meninggalkan sepeda motornya di pinggir jalan dan memilih berlari sejauh ratusan meter, sebelum akhirnya tiba di Stadion Kanjuruhan. Alasannya karena situasi lalu lintas saat itu sedang lumpuh total karena macet 

"Waktu itu banyak banget aparat. Akhirnya saya menerobos, saya tidak lewat jalan utama untuk masuk Kanjuruhan. Tapi saya masuknya lewat got," tuturnya.

Setelah melewati sederet perjuangan, Ifa akhirnya berhasil masuk ke area Stadion Kanjuruhan. Di sana, dia langsung mencari keberadaan putranya yang dikabarkan sudah dibawa keluar dari pintu gate 8, menuju depan pintu gate 7.

"Saya minta bantuan ke orang-orang entah relawan atau Aremania saya tidak tahu, yang jelas saya minta dibawa ke gate 7, tapi tidak ada. Kemudian saya dapat telphone lagi, katanya anak saya sudah di VIP biar segera dibawa ambulan ke rumah sakit," ucapnya.

Benar saja, saat tiba di VIP, Ifa menemukan putranya sudah dalam kondisi terbujur kaku dan tak sadarkan diri. "Saya kaget, waktu berangkat masih cakep tapi tau-tau sudah menghitam semua, kukunya hitam, kulitnya hitam, semuanya hitam, hanya bagian tubuhnya yang tertutup kaos saja yang masih putih (warna normal, red)," terangnya.

Selain sekujur tubuh yang menghitam, Ifa juga sempat melihat bagian pangkal hidung putranya yang terlihat berwarna putih. Dia berkeyakinan, warna putih tersebut lantaran almarhum mengalami kesulitan bernafas.

"Dia pingsan itu bukan karena diinjak-injak, tapi ya karena gas air mata itu. Sampai bagian sininya (pangkal hidung) memutih seolah dia nafas kesusahan karena dia menyedot (gas air mata) terlalu dalam, sampai ininya ada garis putih," terang Ifa sembari memegang bagian hidung dan keningnya.

Pihaknya menambahkan, sesaat setelah memeriksa sekujur tubuh putranya, Ifa juga menemukan busa yang keluar dari mulut putranya. "Badannya utuh, cuma ada lecet-lecet karena jatuh waktu pingsan. Terus mulutnya berbusa, sampai busanya itu mengering," ujarnya.

Tidak berhenti di situ, ketika proses memandikan jenasah, Ifa juga menemukan efek samping dari gas air mata di tubuh putranya. "Terus matanya waktu dibuka saat dimandikan itu merah banget, putihnya itu tidak ada sama sekali. Kemudian telinganya juga mengeluarkan darah," ucapnya sembari meneteskan air mata.

Dari keterangan yang Ifa peroleh dari orang yang menolong putranya. Kondisi tubuh korban yang menghitam, darah yang keluar dari telinga, hingga busa dari mulutnya tidak pernah habis meski dilap menggunakan tisu basah setengah pack.

"Saya minta untuk diusut tuntas, semuanya, itu anak semata wayang saya. Ayolah mengaku, pertanggungjawabannya yang melakukan itu lo mana," tukasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru