Malangtimes

Tuntutan Tak Pernah ada Jawaban, Aremania Bakal Turun Jalan Setiap Minggu

Dec 04, 2022 15:43
Aksi turun jalan Aremania di pertigaan SPBU Ciliwung (foto: Hendra Saputra/JatimTIMES)
Aksi turun jalan Aremania di pertigaan SPBU Ciliwung (foto: Hendra Saputra/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Aremania terus melakukan aksi turun jalan setiap minggu. Hal itu untuk menemukan keadilan kepada 135 nyawa pada tragedi Stadion Kanjuruhan 1 Oktober 2022 lalu.

Aksi turun jalan setiap minggu ini seperti yang terjadi di kawasan Jalan Ciliwung, Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Minggu (4/11/2022).

Dari pantauan JatimTIMES, sekitar pukul 12.00 WIB ratusan Aremania dari berbagai wilayah di Kota Malang, seperti Bunul, Hamid Rusdi, Amprong, Sanan, Pandean, Glintung, Pandanwangi, Samaan, Kalpatur hingga Sulfat pun ikut berkumpul di pertigaan SPBU Ciliwung.

Mereka rencana berjalan sembari membawa spanduk, poster tuntutan hingga keranda menuju pertigaan Jalan Letjen Sutoyo, tepatnya di depan Hotel Savana Kota Malang.

Salah satu perwakilan Aremania wilayah Ciliwung, Ahmad Shodiq menegaskan bahwa tidak ada namanya aksi turun jalan yang membuat rusuh. Bahkan, mereka selalu meminta maaf kepada pengguna jalan raya yang melintas karena aksi Aremania sedikit membuat macet.

“Saya ingatkan, gak ada aksi rusuh. Kita di sini menuntut keadilan. Saya juga mohon maaf kepada semua pengendara atas kemacetan ini, mohon maaf menganggu perjalanannya,” ujar Shodiq.

Sesekali terdengar melalui mobil komando, penyebab 135 nyawa yang hilang karena gas air mata. Padahal merujuk aturan FIFA, gas air mata telah dilarang digunakan dalam proses pengamanan sebuah pertandingan sepak bola.

Hingga, mereka pun melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa gas air mata tersebut ditembakkan ke tribun. Hal itulah yang menyebabkan kematian dan kepanikan pada ratusan Aremania.

“10 Jenderal seperti Sambo (Mantan Kadiv Propam Polri) saja tak sebanding dengan satu nyawa saudara kita yang melayang. Maka kita harus kawal, usut tuntas tragedi Kanjuruhan,” ungkap Shodiq.

Aremania saat turun jalan pada Minggu (4/12/2022) (foto: Hendra Saputra/JatimTIMES)

Tiba di sekitar pertigaan Hotel Savana, Aremania kembali melakukan orasi. Tak hanya itu, panjatan doa juga dihaturkan kepasa korban tragedi Kanjuruhan.

Dalam aksi yang dilakukan ini, setidaknya ada tiga tuntutan yang mereka suarakan. Di  antaranya untuk menangkap para penembak gas air mata dan perwira tinggi yang bertanggungjawab penuh atas tragedi Kanjuruhan.

Kemudian, mereka juga meminta penambahan pasal seperti pasal pembunuhan (338 dan 340 KUHP) dan menjadikan tragedi ini sebagai pelanggaran HAM berat.

“Ini terencana, kita lihat bagaimana gas air mata itu ditembakkan. Itu sudah jelas. Kita gak menyangka banyak wilayah yang ikut di aksi kita ini, kan memang awalnya Purwantoro Melawan. Tapi memang ini masalah bukan hanya di Malang saja, kita kawal semua,” bebernya.

Jika tuntutan tersebut tetap tidak digubris, maka pihaknya pun berjanji bakal terus turun ke jalan setiap minggunya. Yakni dengan agenda 'Malang Black Sunday'.

“Satu misi kita, intinya setiap hari Minggu akan mengadakan aksi turun jalan untuk menuntut keadilan,” tegasnya.

Aksi turun jalan ini dianggap Shodiq karena ia merasa sakit hati lantaran seperti berjuang sendiri dalam menuntut keadilan. Bahkan sekaliber manajemen Arema FC juga dianggap tak ikut.

“Beginilah hukum di Indonesia. Keadilan sudah tidak ada. Kita sakit hati atas proses hukum yang tidak jelas. Kita di sini juga berjuang sendiri atas hati nurani kita sebagai masyarakat Malang,” pungkasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru