Malangtimes

Tolak Lockdown, Warga China Gelar Aksi Demo Besar-besaran

Nov 28, 2022 11:54
Penampakan suasana demo di China untuk menolak lockdown. (Foto dari internet)
Penampakan suasana demo di China untuk menolak lockdown. (Foto dari internet)

JATIMTIMES - Warga China menggelar aksi demonstrasi besar-besaran terkait pandemi covid-19.

Aksi itu dibuat sebagai bentuk penolakan warga China terkait kebijakan pembatasan (lockdown) sebagai bagian dari strategi nol-covid.

Namun aksi tersebut berujung bentrok. Ratusan pengunjuk rasa dan polisi bentrok di Shanghai pada Minggu (27/11/2022) malam ketika protes atas pembatasan covid-19 yang ketat di China berlangsung hari ketiga dan menyebar ke beberapa kota.

Gelombang protes warga sipil seperti ini sebelumnya tidak pernah terjadi di China. Namun, sejak Presiden Xi Jinping mengambil alih kekuasaan satu dekade ini, warga diselimuti rasa frustrasi atas kebijakan nol-covid dari Xi Jinping tiga tahun setelah pandemi merebak.

Tak hanya itu. Penanganan pandemi itu juga membuat kerugian yang cukup besar terhadap China.

Dikutip dari Reuters, salah satu pengunjuk rasa di pusat keuangan bernama Shaun Xiao mengatakan, aksi demonstrasi itu dilakukan karena kecintaannya kepada negaranya dan ingin keluar dengan bebas.

"Saya di sini karena saya mencintai negara saya. Tetapi saya tidak mencintai pemerintah saya... Saya ingin dapat keluar dengan bebas, tetapi saya tidak bisa. Kebijakan covid-19 kami adalah permainan dan tidak berdasarkan pada sains atau kenyataan," katanya, Senin (28/11/2022).

Pendapat senada  juga dikemukakan oleh pengunjuk rasa lain. Dia mengatakan para pengunjuk rasa menginginkan hak asasi manusianya tersalurkan dengan baik.

"Kami hanya menginginkan hak asasi manusia kami. Kami tidak dapat meninggalkan rumah kami tanpa mendapatkan tes. Kecelakaan di Xinjiang yang mendorong orang terlalu jauh," kata seorang pengunjuk rasa yang tidak diketahui namanya.

Lebih lanjut dia mengatakan polisi menangkap para pengunjuk rasa, padahal aksi yang mereka gelar tidak berunsur kekerasan. "Orang-orang di sini tidak melakukan kekerasan, tetapi polisi menangkap mereka tanpa alasan. Mereka mencoba menangkap saya. Tetapi orang-orang di sekitar saya mencengkeram tangan saya dengan sangat keras dan menarik saya ke belakang sehingga saya dapat melarikan diri," tambahnya.

Sementara, di Shanghai, polisi terus berjaga-jaga di Jalan Wulumuqi, yang dinamai Urumqi. Di sini penyalaan lilin sehari sebelumnya berubah menjadi aksi demonstrasi.

Sejak hari Minggu kemarin, para pengunjuk rasa mulai terjun ke jalan Wuhan dan Chengdu. Para pengunjuk rasa itu didominasi mahasiswa kampus China.

Sementara, pada Senin dini hari, Beijing dipenuhi dua kelompok yang terdiri dari setidaknya 1.000 orang . Mereka berkumpul di jalan lingkar ke-3 ibu kota China dekat Sungai Liangma. Mereka menolak untuk membubarkan diri.

"Kami tidak ingin masker, kami ingin kebebasan. Kami tidak ingin tes covid, kami ingin kebebasan," teriak salah satu kelompok.

Sedangkan di Chengdu, para demonstran mengangkat kertas kosong dan meneriakkan penolakan terhadap presiden. "Kami tidak menginginkan penguasa seumur hidup. Kami tidak menginginkan kaisar," ujarnya merujuk pada keputusan Xi Jinping yang telah menghapus batasan masa jabatan presiden.

Di pusat Kota Wuhan, tempat pandemi dimulai tiga tahun lalu, video di media sosial menunjukkan ratusan penduduk turun ke jalan, menghancurkan barikade logam, menjungkirbalikkan tenda pengujian covid, dan menuntut diakhirinya penguncian.

Sementara itu, di Universitas Tsinghua yang bergengsi di Beijing, puluhan orang juga mengadakan protes damai menentang pembatasan covid. Dalam aksinya, mereka menyanyikan lagu kebangsaan.

Berdasarkan video yang beredar, dalam aksi unjuk rasa di Lanzhou, para penduduk membalikkan tenda staf covid dan menghancurkan bilik pengujian. Mereka mengatakan bahwa mereka dikurung meskipun tidak ada yang dinyatakan positif.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru