Malangtimes

10 Kelurahan Miliki Balita Rawan Stunting, Wali Kota Sutiaji Berikan Peringatan Tegas

Nov 24, 2022 18:17
Wali Kota Malang saat memberikan pengarahan dalam kegiatan evaluasi TPPS dan rencana tindak lanjut audit kasus stunting tahun 2022 di Aria Gajayana Hotel, Rabu (23/11/2022). (Foto: Tubagus Achmad/JatimTIMES)
Wali Kota Malang saat memberikan pengarahan dalam kegiatan evaluasi TPPS dan rencana tindak lanjut audit kasus stunting tahun 2022 di Aria Gajayana Hotel, Rabu (23/11/2022). (Foto: Tubagus Achmad/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Wali Kota Malang Sutiaji memberikan peringatan khusus dan tegas kepada 10 kelurahan yang memiliki kerawanan risiko tinggi balita stunting atau gagal tumbuh. Peringatan tegas tersebut disampaikan Sutiaji saat memberikan pengarahan dalam rangka evaluasi Tim Percepatan Penanganan Stunting (TPPS) dan evaluasi rencana tindak lanjut audit kasus stunting 2022. 

Orang nomor satu di lingkungan Pemerintah Kota Malang itu mengatakan, sebanyak 10 kelurahan tersebut berada di wilayah Kecamatan Kedungkandang, Kecamatan Sukun, dan Kecamatan Blimbing. 

"10 kelurahan itu ada Kelurahan Kotalama, Bumiayu, Buring, Madyopuro, Sawojajar, Bandungrejosari, Tanjungrejo, Pandanwangi, Bunulrejo, dan Purwantoro," ungkap Sutiaji kepada JatimTIMES.com. 

Namun, Sutiaji juga mengimbau kepada kelurahan-kelurahan yang berada di wilayah Kecamatan Klojen dan Kecamatan Lowokwaru tetap waspada dengan kondisi kerawanan balita stunting di masing-masing wilayahnya. 

"Untuk kelurahan di Kecamatan Klojen sama Lowokwaru harus tetap waspada dengan risiko balita stunting ini," terang Sutiaji. 

Alumni Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang ini mengatakan, bahwa dalam tahun ke tahun angka persentase stunting di Kota Malang terus menurun. 

Berdasarkan laporan bulan timbang pada tahun 2019 angka stunting di Kota Malang berjumlah 17,48 persen. Kemudian pada tahun 2020 angka stunting Kota Malang berjumlah 14,53 persen. Lalu pada tahun 2021 angka stunting Kota Malang berjumlah 9,41 persen. Sedangkan hingga Oktober 2022 angka stunting di Kota Malang terus menurun di angka 8,67 persen. 

Lebih lanjut menurutnya, perlu adanya kolaborasi antar perangkat daerah untuk terus menurunkan angka stunting di Kota Malang. Terlebih lagi, Kota Malang masuk dalam daftar 100 daerah perluasan percepatan stunting tahun 2021 di Indonesia. 

Pihaknya menjelaskan, hal itu dikarenakan Kota Malang memiliki banyak Pasangan Usia Subur (PUS) yang berpotensi risiko stunting. "Karena urusan stunting bukan urusan kemiskinan saja tapi bisa juga dikarenakan pasangan usia subur," ujar Sutiaji. 

Menurutnya, PUS di Kota Malang jika tidak diimbangi dengan edukasi dan pencegahan yang masif serta tepat, maka dapat berdampak pada pola hidup maupun pergaulan yang tidak sehat. Pasalnya, tingkat kesehatan dan perlakuan seksual yang tidak sesuai akan mendorong ke arah risiko stunting lebih tinggi. 

Sementara itu, Sutiaji juga mendorong kepada jajaran camat, lurah hingga ke pengurus RT/RW agar secara masih memberikan pemahaman terkait risiko stunting. Maka dari itu pihaknya juga mendorong agar penguatan data terus dilakukan untuk tahapan pencegahan risiko stunting. 

"Alangkah baiknya pak lurah atau orang yang punya otoritas itu tahu data, seperti berapa ibu hamil di kelurahannya dan sebagainya sampai pada data ini faktornya apa, apakah gizi kurang. Untuk kemudian nanti akan ditindaklanjuti opd terkait," pungkas Sutiaji. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru