Malangtimes

Ganti Rugi Sapi Mati akibat PMK Kapan Cair?, Banyak Peternak Bakal Gigit Jari

Nov 20, 2022 19:30
Ilustrasi penguburan sapi mati akibat PMK di Desa Pujon Lor.(Foto: Istimewa).
Ilustrasi penguburan sapi mati akibat PMK di Desa Pujon Lor.(Foto: Istimewa).

JATIMTIMES - Bantuan ganti rugi ternak mati akibat penyakit mulut dan kuku (PMK) yang dijanjikan oleh pemerintah pusat tak kunjung dapat dipastikan kapan akan direalisasikan. Rencananya besar bantuan ganti rugi akan diberikan berdasarkan jenis ternak. 

Untuk ternak sapi yang mati, bantuan ganti rugi Rp 10 juta per ekor. Lalu sebesar Rp 1,5 juta untuk kambing dan domba dan sebesar Rp 2 juta untuk ternak babi. 

Di Kabupaten Malang, rencana tersebut sepertinya juga akan membuat sebagian peternak gigit jari. Pasalnya, tidak semua peternak yang hewan ternaknya mati akan mendapat bantuan ganti rugi. 

"Di Kabupaten Malang ada 249 sapi yang bakal diberi bantuan ganti rugi. Dari 118 peternak. Itu yang sudah diajukan ke pusat," jelas Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Malang, Eko Wahyu Widodo

Data sebanyak 249 sapi yang mati tersebut ternyata data yang berhasil terekam di iSIKHNAS. Dan menurut Eko, data tersebutlah yang dapat dipertanggungjawabkan untuk diajukan mendapat bantuan. 

"Kenapa saya percaya di ISIKHNAS, karena data real. By name by addres, foto ada, visum ada. Data bisa dipertanggung jawabkan," imbuh Eko. 

Padahal ternyata, dari laporan yang ia terima, selain data yang ada di iSIKHNAS, masih ada ribuan sapi yang dilaporkan mati akibat PMK. Namun menurutnya, laporan tersebut kurang dapat dipertanggungjawabkan. 

Sebab menurutnya, tidak ada data penyerta yang dapat menjadi pelengkap agar data tersebut dapat diunggah dan masuk ke iSIKHNAS. Untuk selanjutnya diupayakan agar mendapat bantuan ganti rugi. 

"Yang di luar iSIKHNAS ada dua ribu ekor lebih. Tapi siapa yang mau tanggung jawab kalau hanya sekadar laporan katanya," kata Eko. 

Eko pun juga tidak lantas mengartikan bahwa laporan ribuan sapi mati itu merupakan data yang salah. Hanya saja, menurutnya, keterbatasan sumber daya manusia (SDM) yang ia miliki menjadi alasan untuk kurang optimal dalam melakukan konfirmasi penyebab kematian sapi. 

"Saya menganggap bukan data itu salah, bisa saja itu benar. Karena tenaga saya terbatas," terangnya. 

Eko menyebut, jika laporan itu disertai data pelengkap seperti yang dikehendaki, masih bisa dicoba untuk diajukan mendapat bantuan. Namun sayangnya pendataan sudah ditutup sejak Agustus 2022 lalu. 

"Datanya sudah ditutup per Agustus kemarin," imbuhnya. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru