Malangtimes

Penyakit Kencing Tikus Terdeteksi di Jatim, Dinkes Kota Malang Imbau Masyarakat Waspada

Nov 14, 2022 11:53
Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang dr Husnul Muarif saat ditemui di Kartini Imperial Building Kota Malang, Kamis (10/11/2022). (Foto: Tubagus Achmad/JatimTIMES)
Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang dr Husnul Muarif saat ditemui di Kartini Imperial Building Kota Malang, Kamis (10/11/2022). (Foto: Tubagus Achmad/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Penyakit leptospirosis atau kencing tikus mulai terdeteksi di Provinsi Jawa Timur (Jatim). Setidaknya, terdapat satu orang laki-laki warga Desa Pandansari, Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung meninggal dunia karena terlambat mendapatkan penanganan medis akibat penyakit kencing tikus. 

Menanggapi deteksi penyakit kencing tikus di wilayah Provinsi Jatim ini membuat Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang dr Husn Muarif mengimbau kepada masyarakat luas Kota Malang agar mewaspadai penyakit kencing tikus. 

Husnul menjelaskan, terdapat beberapa gejala dari penyakit kencing tikus. Di antaranya demam tinggi, sakit kepala, kondisi badan lemah, mata merah, muncul bintik-bintik warna merah pada kulit yang tidak hilang ketika ditekan, terasa nyeri pada otot betis, serta diare. 

Menurut Husnul, meskipun gejala pada penyakit kencing tikus atau leptospirosis seperti demam biasa, namun jika tidak diobati secara medis akan berakibat fatal. 

"Gejala penyakit ini memang mirip seperti penyakit flu dan demam biasa. Namun, bila tidak segera diobati, penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan ginjal hingga kematian," ungkap Husnul. 

Lebih lanjut, pihaknya juga menjelaskan bahwa penyakit kencing tikus atau leptospirosis dapat disebarkan melalui beberapa hewan yang membawa bakteri leptospira, yakni anjing, babi, kuda, sapi dan tikus. 

"Wabah ini dapat menyebar melalui air atau tanah yang telah terkontaminasi urine hewan pembawa bakteri leptospira. Salah satu yakni tikus," tutur Husnul. 

Penularan penyakit kencing tikus menular ke manusia melalui beberapa hal. Mulai dari terjadinya kontak langsung antara kulit dengan urine hewan pembawa bakteri leptospira; kontak antara kulit dengan air dan tanah yang terkontaminasi urine hewan pembawa bakteri leptospira; serta mengonsumsi makanan yang terkontaminasi urine hewan pembawa bakteri penyebab penyakit leptospirosis.

"Bakteri leptospira ini dapat masuk ke dalam tubuh melalui luka terbuka, baik luka kecil seperti luka lecet, maupun luka besar seperti luka robek. Bakteri ini juga dapat masuk melalui mata, hidung, serta mulut," jelas Husnul. 

Oleh sebab itu, pihaknya terus mengimbau kepada masyarakat luas Kota Malang agar mewaspadai gejala-gejala penyakit kencing tikus atau leptospirosis. Jika mengalami gejala-gejala serupa, Husnul meminta agar masyarakat segera melakukan pemeriksaan di fasilitas layanan kesehatan terdekat. 

"Apabila mengalami gejala penyakit leptospirosis, segera datangi fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut," terang Husnul. 

Lebih lanjut, pihaknya juga mengimbau masyarakat yang tinggal di titik rawan banjir untuk waspada dan berhati-hati dengan penyakit kencing tikus atau leptospirosis. Ketika melakukan bersih-bersih usai terjadi banjir, Husnul juga menyarankan agar masyarakat mengenakan sarung tangan dan sepatu boots. 

"Gunakan sarung tangan dan sepatu boots, baik saat membersihkan rumah atau selokan maupun saat berjalan di kawasan titik banjir. Selain itu, cuci tangan dengan sabun setelah selesai beraktivitas," pungkas Husnul. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru