Malangtimes

Selisih 12,2%, Angka Stunting Kabupaten Malang Beda dengan Pemerintah Pusat

Nov 13, 2022 19:42
Kepala Dinkes Kabupaten Malang, drg. Wiyanto Wijoyo.(Foto: Riski Wijaya/MalangTIMES)
Kepala Dinkes Kabupaten Malang, drg. Wiyanto Wijoyo.(Foto: Riski Wijaya/MalangTIMES)

JATIMTIMES - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang berencana melakukan klarifikasi kepada Pemerintah Pusat soal angka prevalensi stunting yang terdapat perbedaan. Perbedaan tersebut terjadi cukup mencolok, yakni sekitar 12,2 persen.

Berdasarkan data dari Dinkes Kabupaten Malang, dari bulan timbang Agustus 2022, angka prevalensi stunting di Kabupaten Malang yakni sebesar 7,8 persen. Atau masih ada sebanyak 11.562 anak yang berada dalam kondisi stunting.

Angka tersebut ternyata berbeda dengan data yang digunakan oleh pemerintah pusat. Di mana berdasarkan hasil survei yang dilakukan Badan Pusat Statistika (BPS), angka stunting di daerah kabupaten/kota, rata-rata masing di atas 20 persen.

"Semua kota/kabupaten rata-rata nasional angka stunting masih di atas 20 persen," ujar Kepala Dinkes Kabupaten Malang, drg. Wiyanto Wijoyo.

Angka prevalensi di atas 20 persen tersebut juga berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI). Survei tersebut dilakukan oleh BPS di April 2022. Sedangkan untuk hasil survei pada Oktober 2022 masih belum disampaikan oleh BPS. 

"Kami akan secepatnya melakukan klarifikasi angka yang ada. Nanti akan kita lakukan sinkronisasi data antara Pemkab Malang dengan pemerintah pusat biar datanya sama," terang Wiyanto.

Kendati pendataan dilakukan selama dua kali seperti dilakukan sama dengan bulan timbang, namun survei yang dilakukan oleh BPS ternyata hanya berdasarkan sampling. Keakuratan SSGI rata-rata masih diragukan oleh semua daerah, pasalnya survei yang dilakukan oleh BPS berdasarkan sampling.

Padahal, hampir semua daerah, untuk mengetahui angka stunting dilakukan berdasarkan hasil yang didapat pada survei di dua kali bulan timbang, yakni di Februari dan Agustus.

Bulan timbang itu dilakukan oleh Fasilitas Kesehatan (Faskes) tingkat bawah yaitu puskesmas yang berkerjasama dengan kader kesehatan dan bidan desa. Sehingga hasilnya itu bisa diyakini mencapai 100 persen. Serta dapat dipertanggungjawabkan karena dari hasil balita yang dilakukan timbang.

"Angka (prevalensi stunting) kita saat ini pada 7,8 persen itu angka terakhir di bulan Agustus 2022. Berdasarkan data hasil bulan timbang terakhir di bulan Agustus," imbuh Wiyanto.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru