Malangtimes

Kondisi Hujan Tak Menentu, Kasus Demam Berdarah Dengue Meningkat Dibanding Tahun Lalu

Nov 11, 2022 20:53
Nyamuk demam berdarah.(Foto: Istimewa).
Nyamuk demam berdarah.(Foto: Istimewa).

JATIMTIMES - Penyakit demam berdarah dengue atau DBD di Kabupaten Malang  harus diwaspadai. Sebab, Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat ada kenaikan angka pada kasus DBD jika dibandingkan pada tahun 2021 lalu. 

Lebih tepatnya, kenaikan kasus DBD tersebut terjadi pada periode Januari hingga Oktober 2022, yang saat ini tercatat  877 kasus. Ada kenaikan sebanyak 255 kasus dalam periode waktu yang sama tahun 2021. 

“Jumlah kasusnya (DBD) meningkat dibanding tahun lalu. Di bulan yang sama (Oktober 2021) kasus DBD tercatat sebanyak 255 orang,” ujar Kepala Dinkes Kabupaten Malang drg  Wiyanto Wijoyo.

Pria yang sebelumnya menjabat sebagai kepala Puskesmas Pakis ini mengatakan, kondisi hujan yang turunnya cenderung tidak menentu dinilai menjadi satu faktor penyebabnya karena secara tidak langsung menimbulkan banyak genangan air. 

Genangan air yang muncul juga menyebabkan berkembangnya perindukan nyamuk. Hal itu kemungkinan juga diikuti dengan berubahnya suhu yang dapat mendukung berkembangbiaknya nyamuk. Terutama nyamuk aedes aegypti.

Sejauh ini, Dinkes Kabupaten Malang telah melakukan beberapa upaya untuk menekan angka kasus DBD. Upaya pertama adalah dengan menguatkan pengamatan terhadap data dan informasi terkait DBD yang komprehensif agar tidak terjadi kejadian luar biasa (KLB).

“Setiap ada kasus DBD harus dilaporkan dalam waktu kurang dari 24 jam sehingga dapat dilakukan penyelidikan epidemiologi dan penanganan DBD agar tidak terjadi KLB,” jelas Wiyanto.

Upaya lainnya adalah dengan mengimbau semua fasilitas dan pelayanan kesehatan (fasyankes) untuk waspada terhadap kasus DBD dan melaksanakan tata laksana DBD sesuai standar. Selain itu, ada manajemen vektor yang efektif, aman, dan berkesinambungan. “Diharapkan semua kasus dapat ditangani dengan baik agar tidak terjadi kematian,” imbuh Wiyanto.

Manajemen vektor adalah pengelolaan lingkungan untuk menurunkan kemampuan vektor penyakit berkembang biak. Vektor penyakit dalam hal ini adalah nyamuk aedes aegypti. Salah satunya dengan mengoperasikan jumantik. 

“Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan gerakan satu rumah satu juru pemantau jentik (jumantik) serta penggunaan larvasida yang selektif dan aman,” kata Wiyanto.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru