Malangtimes

Keterbatasan Alat Jadi Kendala Normalisasi Sungai di Kabupaten Malang

Nov 08, 2022 11:32
Sungai Panguluran di Desa Sitiarjo yang dinilai perlu dilakukan normalisasi. (Foto: Riski Wijaya/ MalangTIMES).
Sungai Panguluran di Desa Sitiarjo yang dinilai perlu dilakukan normalisasi. (Foto: Riski Wijaya/ MalangTIMES).

JATIMTIMES - Normalisasi atau pengerukan sungai menjadi salah satu kegiatan yang dijadwalkan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang untuk mengantisipasi banjir. 

Sebab, bencana banjir yang terjadi pada Senin (17/10/2022) lalu, salah satunya disiniyalir juga akibat pendangkalan sungai. Sehingga saat hujan deras, air meluap hingga ke pemukiman. 

Namun sayangnya, upaya normalisasi tersebut masih belum dapat dilakukan secara optimal. Disamping keterbatasan alat berat berupa excavator yang menjadi kendala, kewenangan sungai yang ada pada balai besar wilayah sungai (BBWS) Brantas juga menjadi salah satu faktornya. 

Plt Kepala Pekerjaaan Umum Sumber Daya Air (PU SDA) Kabupaten Malang, Khairul Isnaidi Kusuma mengatakan, pihaknya telah mengajukan bantuan alat berat ke BBWS Brantas. Hal itu lantaran excavator yang dimiliki oleh Dinas PU SDA, dinilai kurang dapat optimal. 

"Kita ada keterbatasan alat. Yang kita punya ini PC 20, PC 40 dan PC 65. Padahal untuk standar pengerukan biasanya bisa sampai PC 200. Tapi respon mereka (BBWS) baik, karena kita langsung datang membawa surat. Selain itu Pak Bupati juga intens melakukan koordinasi di tingkat pimpinan," ujar pria yang akrab disapa Oong ini. 

Selain meminta bantuan alat berat ke BBWS Brantas, pihaknya juga meminta bantuan ke Unit Pelaksana Teknis (UPT) Lumajang Dinas PU SDA Provinsi Jawa Timur. Menurut Oong, sudah ada spesifikasi excavator yang menurutnya ideal untuk digunakan normalisasi di aliran sungai di Malang. 

"Kan ada yang long arm milik (Dinas PU SDA) Provinsi Jatim. Yang long arm, atau yang amfibi. Jadi bisa langsung mengapung di atas sungai untuk melakukan pengerukan," terang Oong. 

Apalagi, pengerukan sungai-sungai yang diketahui dangkal itu dinilai perlu segera dilakukan. Menurut Oong setidaknya perlu segera dilakukan agar alur sungai tidak terhambat sedimentasi, dari material lumpur yang terbawa banjir di beberapa kesempatan. 

"Mungkin ndak semuanya dulu. Yang penting alurnya sungai ini tidak terhambat. Sedimentasinya dikeruk supaya alur sungai tidak terhambat, dan bisa langsung ke laut. Kalau namanya banjir, memang pendangkalan. Yang namanya banjir sebegitu besar. Dan pasti bawa material, lumpur, batu dan lainnya," jelas Oong. 

Dari catatannya, sebenarnya pendangkalan sungai di Kabupaten Malang ini terjadi sejak lama. Hal tersebut akibat banjir yang terjadi beberapa kali, dan membawa material banjir. 

"Pendangkalan itu sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Ditambah lagi banjir yang terjadi 5 tahun lalu terjadi lagi saat ini. Belum banjir kecil-kecil yang terjadi. Lalu banjir 10 tahunan, 25 tahunan, 50 tahunan," pungkas Oong.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru