Malangtimes

Beberapa Sungai di Kabupaten Malang Perlu Dinormalisasi, BPBD: Setidaknya Perlu untuk Mitigasi

Nov 06, 2022 20:46
Sungai Panguluran, salah satu sungai yang mengalir di Desa Sitiarjo yang dinilai perlu dilakukan normalisasi. (Foto: Riski Wijaya/ MalangTIMES).
Sungai Panguluran, salah satu sungai yang mengalir di Desa Sitiarjo yang dinilai perlu dilakukan normalisasi. (Foto: Riski Wijaya/ MalangTIMES).

JATIMTIMES - Sejumlah sungai yang mengalir di beberapa wilayah Kabupaten Malang dinilai perlu untuk dilakukan normalisasi atau pengerukan. Hal tersebut lantaran dinilai bisa menjadi salah satu antisipasi untuk mencegah terjadinya bencana banjir seperti pada 17 Oktober 2022 lalu. 

Catatan media ini, bencana yang terjadi saat ini yakni banjir dan longsor. Informasi yang dihimpun di beberapa lokasi kejadian, banjir yang terjadi merupakan banjir luapan. Dan juga ada yang menyebut bahwa hal itu diakibatkan pendangkalan sungai. 

"Kalau lihat kondisi sekarang dengan pendangkalan, ya perlu dilakukan (normalisasi sungai). Setidaknya untuk pencegahan," ujar Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang Sadono Irawan. 

Dari pantauannya, pendangkalan sungai memang terjadi di beberapa titik. Seperti Kali Sat, Kali Purwo, Kali Tundo, Kali Panguluran dan beberapa aliran sungai lain. Sebab jika dibandingkan dengan beberapa tahun lalu, pendangkalan yang terjadi cukup banyak. 

"Kalau sekarang itu tinggal 1 meter, mungkin ada yang lebih tapi tidak lebih dari 2 meter. Kalau dulu, kami pernah melakukan pantauan, itu sungainya dalam-dalam. Sekitar di atas 10 tahun yang lalu lah," terang Sadono. 

Namun demikian, menurut Sadono, bencana banjir yang terjadi bukan hanya disebabkan pendangkalan sungai saja. Artinya ada beberapa penyebab lain yang dinilai cukup komplek dan juga menjadi penyebab banjir. 

"Artinya memang cukup kompleks. Jika bicara banjir, kita juga harus melihat daerah yang di hulu. Misalnya tangkapan lahannya berkurang, ya bisa jadi juga vegetasinya berkurang, atau juga mungkin karena pola tanam di hulu yang berubah," jelas Sadono. 

Hanya saja dirinya menilai, pendangkalan sungai memang menjadi faktor yang saat ini cukup terlihat nyata sebagai penyebab banjir. Saat ini, Pemkab Malang juga tengah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas untuk melakukan normalisasi. 

"Jadi memang BBWS Brantas itu bukan berwenang di Sungai Brantas saja, tapi juga anak-anak sungai yang ada di Kabupaten Malang," pungkas Sadono. 

Sebagai informasi, pada bencana banjir dan longsor Senin (17/10/2022) lalu, tercatat ada sebanyak 9 kecamatan yang terdampak. Catatan media ini, ada 3 kecamatan yang cukup parah. 

Yakni di Kecamatan Sumbemanjing Wetan, Ampelgading dan Tirtoyudo. Dimana dari 2.959 KK yang terdampak, sebagian besar dari 3 kecamatan tersebut. 

Rinciannya 1.370 KK di Kecamatan Sumbermanjing Wetan, 645 KK di Kecamatan Ampelgading dan sebanyak 539 KK di Kecamatan Tirtoyudo. Sisanya tersebar di Kecamatan Kalipare, Donomulyo, Gedangan, Bantur, Dampit dan Pagak. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru