Malangtimes

Pemkab Malang Berupaya Keras Tekan Kasus Stunting yang Masih Berjumlah Belasan Ribu

Nov 01, 2022 18:04
Kepala Dinkes Kabupaten Malang, drg. Wiyanto Wijoyo.(Foto: Riski Wijaya/MalangTIMES)
Kepala Dinkes Kabupaten Malang, drg. Wiyanto Wijoyo.(Foto: Riski Wijaya/MalangTIMES)

JATIMTIMES - Upaya penanganan stunting menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang sejak beberapa tahun terakhir. Berbagai upaya terus dilakukan melalui berbagai program dan kegiatan untuk bisa menekan angka prevalensi stunting. 

Saat ini, angka prevalensi stunting di Kabupaten Malang tinggal 7,8 persen. Atau, masih ada sebanyak 11.562 anak yang tercatat mengalami stunting. Namun, jumlah tersebut ternyata sudah mengalami penurunan sebesar 1 persen dari perhitungan awal tahun 2022 yakni sebesar 8,8 persen. 

Perhitungan angka stunting sendiri dilakukan sebanyak 2 kali dalam setahun. Tepatnya di dua bulan timbang, yakni setiap bulan Februari dan Agustus. Dengan turunnya, angka stunting tersebut, Dinkes Kabupaten Malang mengklaim bahwa upaya penanganan stunting telah membuahkan hasil. 

"Berdasarkan bulan timbang ini, Agustus 7,8 persen. Kalau Februari 8,8 persen jadi saat ini prevalensi stunting sudah turun 1 persen," ujar Kepala Dinkes Kabupaten Malang, drg. Wiyanto Wijoyo, Selasa (1/10/2022). 

Untuk itu, berbagai upaya preventif terus dilakukan dalam menekan angka prevalensi stunting. Salah satunya seperti peningkatan kompetensi petugas gizi di setiap wilayah, tata laksana gizi buruk. 

Ilustrasi stunting.(Foto: Istimewa).

"Jadi kompetensi petugas gizi ditingkatkan. Lalu upaya percepatan perbaikan status gizi balita," jelas drg. Wiyanto. 

Sementara itu, penanganan kesehatan yang langsung diberikan kepada anak yang terkena stunting juga tidak sembarangan. Artinya, lanjut drg. Wiyanto, harus memperhatikan intervensi yang terjadi pada masing-masing anak. 

"Yang diberikan kepada balita dan anak. Tergantung dari intervensinya, kalau gizi buruk kita berikan susu dan makanan tambahan," terangnya. 

Selain itu, berbagai kegiatan workshop bagi kader kesehatan juga terus dilakukan. Tujuannya, agar ada peningkatan kualitas pada kader kesehatan di setiap wilayah. Juga termasuk koordinasi lintas sektor. 

"Jadi tidak hanya melulu tugas dari kesehatan saja. Sistem manajemen data pencatatan stunting juga harus betul-betul dilakukan," kata drg. Wiyanto. 

Sementara itu, angka prevalensi stunting sebesar 7,8 persen itu tersebar merata di 33 kecamatan se Kabupaten Malang. Dan terbagi dalam 39 Puskesmas. 

Informasi yang diterima JatimTIMES, ada 3 Puskesmas di 3 Kecamatan yang angka prevalensi stuntingnya berada di atas 20 persen. Yakni Puskesmas Ngantang sebesar 22,2 persen, Puskesmas Pujon 26,7 persen dan tertinggi di Puskesmas Jabung sebesar 28,2 persen. 

"Iya, yang paling besar masih di Jabung. Untuk itu akan lebih diutamakan, sebagai atensi khusus. Lebih tepatnya, pendekatan multisektor yang harus ditingkatkan," pungkas drg. Wiyanto. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru